HeadlineKeuanganPembiayaan

BI Jatim Dorong Investasi Berkelanjutan, Hilirisasi dan Penguatan Infrastruktur Jadi Kunci

×

BI Jatim Dorong Investasi Berkelanjutan, Hilirisasi dan Penguatan Infrastruktur Jadi Kunci

Sebarkan artikel ini

Surabaya, BisnisJatim.Id — Jawa Timur dinilai memiliki peluang besar untuk terus menarik investasi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Kekuatan sektor manufaktur, konektivitas infrastruktur, ketersediaan SDM, hingga potensi hilirisasi menjadi modal penting bagi Jawa Timur untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Jawa Timur, Ibrahim, mengatakan investasi tidak semata-mata berkaitan dengan masuknya modal, tetapi memiliki dampak yang lebih luas terhadap perekonomian daerah, terutama dalam menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Kalau kita bicara mengenai investasi, tidak hanya sekadar kemudian kita mendatangkan kapital atau modal. Tetapi ada value di sana: bagaimana kemiskinan akan kita kurangi, bagaimana penciptaan kesempatan tenaga kerja akan meningkat, dan ujungnya adalah kesejahteraan masyarakat yang semakin baik,” ujar Ibrahim disela acara East Java Investment Forum (EJIF) 2026 di Ballroom Grand City, Surabaya, Jumat (2/10).

Ibrahim, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Jawa Timur saat memaparkan peluang investasi dan pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur 2026 dalam acara East Java Investment Forum (EJIF) 2026 di Grand City Convention Surabaya. Foto RIS

Menurut dia, peluang investasi Jawa Timur semakin terbuka seiring dengan posisi perekonomian daerah yang ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, serta dukungan fiskal daerah.

Ibrahim menyebut porsi investasi terhadap perekonomian Jawa Timur saat ini berada di kisaran 27,15%. Ke depan, porsi tersebut diharapkan dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan hingga di atas 30% untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, dan berkelanjutan.

“Investment continuity perlu dibarengi dengan fiscal sustainability untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan,” katanya.

Manufaktur dan Hilirisasi Jadi Peluang

Salah satu peluang terbesar yang dapat dikembangkan Jawa Timur adalah sektor manufaktur dan hilirisasi. Struktur ekonomi Jawa Timur yang kuat di sektor industri pengolahan dinilai memberikan fondasi bagi pengembangan investasi bernilai tambah.

Ibrahim mengatakan bahan baku dari berbagai wilayah di luar Jawa dapat diolah lebih lanjut di Jawa Timur sehingga menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.

Ia juga menyebut adanya usulan proyek terkait komoditas tembaga dan timah yang berpotensi membuka ruang investasi baru di Jawa Timur. Peluang tersebut sejalan dengan agenda hilirisasi nasional yang mendorong pengolahan bahan mentah menjadi produk dengan nilai tambah.

“Dengan basis industri yang telah berkembang, Jawa Timur memiliki peluang untuk menjadi lokasi pengolahan sekaligus pusat distribusi produk hasil hilirisasi,” imbuh dia.

Konektivitas Memperkuat Daya Tarik Investor

Selain sektor industri, penguatan konektivitas menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya tarik investasi Jawa Timur.

Ibrahim menyoroti semakin terintegrasinya jaringan jalan tol serta pengembangan transportasi publik seperti Trans Jatim. Infrastruktur tersebut dinilai dapat memperlancar mobilitas orang dan barang sekaligus memperluas jangkauan kawasan ekonomi.

Pembagian wilayah Jatim ke dalam sejumlah koridor ekonomi juga dapat membantu investor memetakan lokasi investasi berdasarkan karakteristik dan potensi masing-masing kawasan, mulai dari kawasan Gerbangkertosusila hingga wilayah pertanian di bagian selatan Jawa Timur.

“Ini memudahkan investor untuk memetakan area-area mana, apakah terkait dengan Gerbangkertosusila, terkait dengan metropolitan, atau terkait dengan pertanian yang ada di bagian selatan,” jelas Ibrahim.

Menurutnya, penguatan konektivitas akan semakin memperkuat posisi Jawa Timur sebagai “Gerbang Baru Nusantara”, terutama untuk melayani kebutuhan pasar di kawasan Indonesia bagian timur.

Iklim Investasi dan IPRO Perlu Diperkuat

Ke depan, Ibrahim menilai keberlanjutan investasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan proyek, tetapi juga oleh kualitas ekosistem investasi. Karena itu, sejumlah agenda perlu terus diperkuat, antara lain perencanaan tata ruang, pembangunan kawasan industri, infrastruktur pendukung, kemudahan perizinan, serta promosi proyek investasi yang siap ditawarkan.

Salah satu instrumen yang dapat dioptimalkan adalah Investment Project Ready to Offer (IPRO). Proyek-proyek yang telah siap ditawarkan kepada investor perlu dikemas dengan informasi yang jelas, termasuk potensi pasar, kebutuhan infrastruktur, skema investasi, hingga dukungan pemerintah daerah.

“Bagaimana dukungan kepada IPRO, kemudian bagaimana licensing services improvement. Sehingga inilah yang mendukung bagaimana perhatian pemerintah provinsi terkait dengan investasi ini menjadi hal yang sangat utama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang tinggi dan berkelanjutan,” kata Ibrahim.

Pada saat yang sama, pengembangan kawasan industri dan supporting infrastructure perlu dilakukan secara terintegrasi dengan perencanaan spasial. Langkah tersebut penting agar investasi tidak hanya terkonsentrasi di kawasan tertentu, tetapi dapat berkembang sesuai potensi masing-masing wilayah. bj3/ris