HeadlineIndeksUncategorized

Surabaya Kretekroncong Festival 2025: Saat Tradisi dan Kebijakan Publik Bertemu di Satu Panggung

×

Surabaya Kretekroncong Festival 2025: Saat Tradisi dan Kebijakan Publik Bertemu di Satu Panggung

Sebarkan artikel ini

BISNISJATIM.ID – Tradisi rakyat dan kebijakan publik berpadu dalam Surabaya Kretekroncong Festival 2025, yang digelar oleh Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) bekerja sama dengan Lentera Nusantara. Festival ini mengangkat dua ikon budaya Indonesia—kretek dan kroncong—sebagai simbol kreativitas dan identitas bangsa di tengah tantangan global serta ketatnya regulasi industri hasil tembakau (IHT).

Direktur Lentera Nusantara Irfan Wahyudi menegaskan pentingnya menemukan keseimbangan antara modernisasi kebijakan dan pelestarian budaya rakyat.

“Kita harus menemukan titik tengah antara pengendalian dan keberlanjutan, antara kesehatan publik dan kesejahteraan rakyat, antara kebijakan dan kebudayaan,” ujarnya.

Dari sisi industri, Ketua GAPERO Surabaya, Sulami Bahar, menyoroti kontribusi besar sektor hasil tembakau bagi ekonomi nasional. Ia mengungkapkan bahwa pada tahun 2024, industri ini menyumbang lebih dari Rp216 triliun dalam penerimaan cukai dan menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 5,9 juta tenaga kerja.

“Kerugian negara akibat rokok ilegal sangat besar. Kami berharap pemerintah serius memberantas rokok ilegal,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor UWKS, Prof. Rr. Nugrahini Susantinah Wisnujati, menekankan pentingnya strategi hilirisasi industri tembakau yang berkeadilan.

“Tembakau perlu dipandang sebagai komoditas ekspor strategis. Harus ada wadah khusus untuk membahas hilirisasi tembakau agar nilai ekonominya semakin kuat,” ujarnya.

Dari perspektif kebijakan fiskal, Kepala Kanwil DJBC Jawa Timur I, Untung Basuki, menilai kebijakan cukai harus menjadi instrumen yang menjaga keseimbangan antara penerimaan negara dan keberlanjutan industri padat karya.

“Cukai harus menjadi instrumen yang menjaga ekosistem industri, bukan justru mematikan pelaku usaha kecil,” katanya.

Tak hanya soal kebijakan, dimensi budaya juga menjadi sorotan penting dalam festival ini. Pakar Seni Budaya Unesa, Joko Winarko, menjelaskan bahwa kretek dan kroncong sama-sama tumbuh dari kreativitas rakyat kecil.

“Keduanya lahir dari kemampuan masyarakat mengolah pengaruh asing menjadi karya berjiwa lokal,” ungkapnya.

Senada, Dekan FISIP UWKS, Sugeng Pujileksono, menambahkan bahwa keduanya merepresentasikan akar sosial masyarakat Indonesia.

“Kroncong adalah musik jiwa rakyat, sementara kretek adalah aromanya,” ujarnya.

Festival ini membuktikan bahwa kretek dan kroncong bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan simbol masa depan ekonomi berbasis budaya rakyat. Kolaborasi antara Lentera Nusantara, UWKS, akademisi, pemerintah, dan pelaku industri menjadi momentum penting untuk membangun narasi baru tentang harmoni antara pelestarian budaya dan kebijakan publik.

“Menjaga kretek berarti menjaga ekonomi rakyat dan identitas bangsa,” menjadi pesan penutup yang menggema dalam festival sarat makna ini.

Melalui Surabaya Kretekroncong Festival 2025, Lentera Nusantara menegaskan perannya sebagai lembaga riset dan advokasi kebudayaan yang berfokus pada pelestarian nilai historis dan sosial kretek serta musik kroncong. Dengan menggandeng akademisi, pelaku industri, dan pemerintah, Lentera menghadirkan ruang dialog transformatif yang membangun kesadaran akan pentingnya budaya rakyat sebagai fondasi ekonomi berkelanjutan di era digital.

Festival ini menjadi refleksi bahwa pelestarian budaya bukan berarti bertahan di masa lalu, tetapi berani membawa warisan menuju masa depan dengan inovasi, riset, dan kebijakan yang bijak. (GIW)