HeadlineKomersialProperti

Bersikap Konservatif, Intiland Patok Penjualan Tahun 2026 Sebesar Rp 1,9 Triliun

×

Bersikap Konservatif, Intiland Patok Penjualan Tahun 2026 Sebesar Rp 1,9 Triliun

Sebarkan artikel ini

Jakarta, BisnisJatim.Id – Menyikapi perkembangan pasar properti tahun 2026 akibat gejolak dolar AS dan kenaikan harga BBM serta suku bunga perbankan, PT Intiland Development Tbk (DILD) bersikap konservatif. Pengembangan proyek eksisting tetap dilakukan sambil melihat peluang pasar baru untuk meningkatkan kinerja tahun 2026.

Direktur Utama Intiland, Archied Noto Pradono mengungkapkan bahwa strategi utama Perseroan tahun ini masih terfokus pada upaya menurunkan jumlah utang atau deleveraging. Strategi ini menjadi bagian penting dari kebijakan Perseroan untuk mengurangi beban keuangan, menjaga efisiensi operasional, dan memperkuat fundamental usaha.

Pada tahun 2025, Intiland berhasil menurunkan jumlah utang sebesar 25 persen menjadi Rp3,08 triliun dari Rp4,11 triliun pada tahun 2024. Penurunan dilakukan melalui restrukturisasi utang, percepatan pelunasan, penjualan aset non-inti, serta pelunasan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Intiland Development Tahap II Tahun 2022 dan Tahap III Tahun 2022 Seri B.

“Penurunan jumlah utang menjadi salah satu pencapaian penting. Langkah ini membantu kami mengendalikan beban keuangan, memperkuat struktur permodalan, dan memberikan ruang yang lebih baik bagi Perseroan untuk menjaga stabilitas usaha sekaligus menangkap peluang pertumbuhan ke depan,” kata Archied Noto Pradono usai RUPS, Rabu (10/6).

OPTIMIS TUMBUH: Komisaris dan Direksi PT Intiland Development Tbk menjelaskan, tahun ini Perseroan bersikap konservatif namun tetap optimis kinerja akan bertumbuh ditengah pasar properti yang semakin challenging. Foto IST

Mempertimbangkan tantangan dan risiko usaha ke depan, Perseroan menempuh langkah strategi dengan memperkuat efisiensi pada proses operasional dan keuangan. Langkah ini sebagai upaya menjaga stabilitas usaha, meningkatkan kualitas profitabilitas, memperkuat struktur keuangan, serta melanjutkan transformasi bisnis secara terukur.

“Tahun ini, kami masih cenderung konservatif dengan mengandalkan proyek-proyek yang ada. Pengembangan proyek baru tetap kami siapkan tetapi dilakukan sangat hati-hati,  dengan mencermati peluang dan momentum yang tepat serta daya serap pasar,” ungkap dia.

Pada kuartal I 2026, Perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp619,8 miliar atau turun 3,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan pengembangan memberikan kontribusi sebesar Rp387,1 miliar, sedangkan pendapatan berulang atau recurring income tercatat sebesar Rp232,6 miliar.

Kontribusi pendapatan terbesar pada kuartal I 2026 berasal dari recurring income sebesar Rp232,6 miliar atau 37,5 persen, diikuti segmen kawasan industri sebesar Rp227,4 miliar atau 36,7 persen, perumahan sebesar Rp121,9 miliar atau 19,7 persen, dan high-rise residential sebesar Rp37,9 miliar atau 6,1 persen.

Perseroan memproyeksikan pasar properti tahun 2026 masih bergerak selektif, namun tetap memiliki peluang pertumbuhan terutama dari segmen perumahan dan kawasan industri. Perseroan menargetkan marketing sales tahun 2026 sebesar Rp1,95 triliun, lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun 2025 sebesar Rp1,61 triliun.

“Tahun ini kami masih cenderung konservatif dengan mengandalkan proyek-proyek yang telah berjalan. Pengembangan baru tetap kami siapkan, tetapi pelaksanaannya akan sangat selektif, dengan mempertimbangkan produk, momentum pasar, dan daya serap konsumen,” katanya.

Perseroan saat ini menyiapkan sejumlah rencana strategi untuk pengembangan proyek baru. Selain rencana pengembangan kawasan industri baru di Jawa Timur, Perseroan juga menyiapkan peluncuran Tower E apartemen SQ Res pada semester II 2026.

Strategi lainnya adalah meningkatkan kinerja penjualan dan keuangan melalui strategi yang lebih terarah. Fokus utama diarahkan pada optimalisasi proyek berjalan, penjualan stok siap jual, penguatan segmen perumahan dan kawasan industri, serta pengembangan program pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

“Kami melihat peluang pertumbuhan masih terbuka, terutama pada segmen yang memiliki kebutuhan nyata dan daya serap pasar yang lebih kuat. Strategi pemasaran dan pengembangan kami jalankan secara lebih terukur agar dapat mendukung pencapaian target kinerja sekaligus menjaga fundamental Perseroan tetap sehat,” kata Archied lebih lanjut. bj5