HeadlineIndustriPerdagangan

Pacu Kinerja di 2026, PTSI Perluas Pasar Masuk Sektor Financial dan Green Energy

×

Pacu Kinerja di 2026, PTSI Perluas Pasar Masuk Sektor Financial dan Green Energy

Sebarkan artikel ini

Surabaya, BisnisJatim.Id – Ditengah kondisi ekonomi yang menantang serta persaingan yang makin kuat, PT Surveyor Indonesia optimis tahun ini mampu meningkatkan kinerjanya. Selain mempertahankan market existing, Perusahaan TICC (testing, inspection, certification, consultation) ini juga berencana memperluas market dengan masuk ke sektor financial dan green energy.

Fajar Wibhiyadi, Direktur Utama PT Surveyor Indonesia (SI) menjelaskan, potensi market yang bsia di garap SI memang cukup besar dan terus berkembang. Namun, disisi lain, persaingan juga semakin keras.

“Perusahaan TIC itu ibaratnya sudah masuk dalam red zona. Persaingannya sangat ketat. Karena kita tidak sendirian. Selain Suconfindo dan BKI, juga banyak perusahaan swasta dan asing yang masuk di TIC,” ujar Fajar saat diskusi bersama media secara daring, Jumat (17/4).

Kendati begitu, dia tetap yakin, tahun 2026 mampu memacu kinerjanya sebagaimana yang diamanatkan holding IDSurvey dan pemegang sahamnya. Untuk itu, pihaknya akan terus melakukan ekspansi pasar.

Kalau selama ini PTSI banyak berfokus menggarap market dari sektor oil, gas & renewable energy, coal & mineral, government & institution, infrastructure & transportation dan industrial service, kini pihaknya akan memperlebar marketnya dengan masuk ke sektor financial dan green energy.

“Kita akan masuk ke sektor financial dan green energy. Semoga bisa memberikan kontribusi yang positif kedepan. Kami juga terus mendorong keberlanjutan circular economy,” tambahnya.

EKSPANSI MARKET: Fajar Wibhiyadi, Dirut PT Surveyor Indonesia, menjelaskan rencana ekspansi market yang akan terus dilakukan untuk memperkuat kinerja Perseroan kedepan saat berdiskusi secara Daring bersama sejumlah media pada Hari Jumat (17/4/2026). Foto RIS

Dia belum menjelaskan detail rencana tersebut. Namun mantan Dirut ICDX dan KBI ini menyebutkan salah satu yang jadi fokusnya adalah masuk kedalam ekosistem Bullion Bank. Di Indonesia saat ini baru ada dua yang berperan sebagai Bullion Bank yakni Pegadaian dan BSI.

Berdasarkan data, pada kuartal II/2025, transaksi pembelian emas melalui bullion bank tercatat melonjak 441% secara year-on-year (YoY), dengan total gramasi mencapai 693 kg. BSI bahkan melaporkan total kelolaan emas mencapai 19,77 ton hingga kuartal akhir 2025.

Sementara pada Januari – Februari 2026, BSI mencatat pertumbuhan agresif dengan volume transaksi emas mencapai sekitar 2,7 ton. Sedangkan pengelolaan emas oleh lembaga jasa keuangan (termasuk BSI dan Pegadaian) mencapai 153,05 ton.

Bagi BSI, bisnis emas menjadi salah satu penopang utama laba yang mencapai Rp1,36 triliun per Februari 2026, tumbuh 17% secara tahunan (YoY). Sedangkan tabungan emas masyarakat dalam ekosistem ini meningkat menjadi 19,25 ton per Februari 2026. Karena itu, BSI menargetkan pertumbuhan bisnis emas hingga 22,5 ton pada semester pertama 2026.

Sedangkan transaksi Bullion Bank di PT Pegadaian dengan total pengelolaan emas mencapai 33,7 ton selama tahun 2025. Deposito emas Pegadaian melampaui target 143%. Layanannya mencakup deposito, pinjaman modal kerja, dan jual-beli emas berkolaborasi dengan PT Antam.

Sementara Green Energy, menurutnya, kini menjadi fokus disemua negara di dunia. Dia sangat yakin, kalau sekarang belum banyak  perusahaan yang menggarap green energy, namun kedepan sektor ini akan menjadi rebutan banyak Perusahaan.

Potensi bisnis green energy di Indonesia sangat masif, mencapai lebih dari 3.600 GW, didominasi oleh surya, panas bumi, hidro, dan biomassa.

Saat ini, peluang investasi terbuka lebar di sektor PLTS atap, pembangkit listrik panas bumi (geothermal), ekosistem kendaraan listrik, serta perdagangan karbon yang diproyeksikan bernilai triliunan rupiah. Hal ini karena didorong target transisi energi bersih pemerintah.

“Karena itu, kami akan masuk ke dua sektor ini. Memang challenging bagi kami, namun ada peluang yang cukup besar. Bullion bank dan green energy sangat menarik untuk pengembangan bisnis kedepan,” ujar Fajar yang humoris ini.

Terkait kinerja PTSI tahun ini, dia mengaku tetap yakin akan mampu mendongkraknya. Dia mengatakan, tahun 2025, dari 20 top Perusahaan TICC di Indonesia, nilai transaksinya mencapai Rp 14,5 triliun dan menguasai market 80 persen. Dan dari jumlah tersebut sekitar 50 persenya diraih PT SI bersama Suconfindo dan BKI.

Hingga saat ini sektor energy, oil & gas memberikan kontribusi paling besar. Sementara beberapa Perusahaan sektor energy yang menjadi klien utama PTSI diantaranya adalah PT Pertamina dan anak usahanya, PLN dan anak usahanya.

Perusahaan lainnya adalah PT ASDP, Pupuk Indonesia, ID Food, Angkasa Pura, BNI, Inalum, PP, Mind ID, Jasa Marga, Lotte , Vena Energy, PNM, Bank Mandiri, Pegadaian, Injourney, Danareksa, Bukit Asam, PT GAG Nikel, Kaltim Methanol Industri, KPC, PT Freeport Indonesia dan masih banyak lagi lainnya.

“Kami masih market leader. Tahun lalu, perusahaan sektor energy, oil & gas yang paling besar kontribusinya terhadap kinerja PTSI. Tahun ini kami kira tetap sama. Kami tetap fokus pada beberapa proyek strategis nasional. Kami juga masuk program BGN. Bersama Suconfindo, kami memverifikasi di 3.000 titik di Indonesia tahun 2025,” pungkas Fajar Wibhiyadi dengan penuh optimis. BJ3