Surabaya, BisnisJatim.Id – PT Suparma Tbk (SPMA) memilih memperkuat struktur permodalan sebagai strategi menghadapi kondisi ekonomi yang masih menantang sepanjang 2026. Produsen kertas tisu dan kertas laminasi tersebut memutuskan tidak membagikan dividen tunai, namun tetap memberikan dividen saham kepada pemegang saham sekaligus mendorong ekspansi usaha.
Direktur PT Suparma Tbk Hendro Luhur mengatakan, perlambatan ekonomi yang masih terjadi berdampak pada melemahnya daya beli masyarakat. Meski demikian, perseroan tetap optimistis mampu mencatatkan pertumbuhan kinerja tahun ini melalui peningkatan kapasitas produksi dan perluasan distribusi produk.
“Kami tetap optimistis tahun ini bisa mencatatkan pertumbuhan dibandingkan tahun lalu meskipun kondisi pasar masih cukup challenging,” ujar Hendro di Surabaya usai RUPS, Selasa (30/6).

Optimisme tersebut didukung oleh capaian kinerja selama lima bulan pertama 2026. Hingga Mei, Suparma membukukan penjualan sebesar Rp1,1 triliun atau sekitar 39,1 persen dari target penjualan tahun ini sebesar Rp3 triliun. Target tersebut meningkat sekitar 7,1 persen dibanding realisasi penjualan tahun 2025 yang mencapai Rp2,7 triliun.
Dari sisi volume, penjualan kertas mencapai 92.960 metrik ton (MT) atau sekitar 36,5 persen dari target penjualan sebanyak 255.000 MT pada 2026. Target volume tersebut naik 6,3 persen dibandingkan target tahun sebelumnya.
Sementara itu, produksi kertas hingga Mei mencapai 97.994 MT atau sekitar 39,2 persen dari target produksi tahun ini sebesar 250.000 MT. Target produksi tersebut meningkat 10,7 persen dibandingkan target produksi tahun 2025.
Menurut Hendro, pencapaian pada awal tahun tersebut menjadi modal positif bagi perseroan untuk mempercepat penjualan pada semester II sehingga target pertumbuhan dapat terealisasi.
“Kami akan terus mendorong penjualan pada semester kedua agar target yang telah ditetapkan dapat tercapai. Kami yakin kondisi ekonomi akan membaik,” imbuh dia.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Suparma juga memutuskan tidak membagikan dividen tunai atas laba tahun buku 2025. Meski laba komprehensif meningkat 1,6 persen menjadi Rp104,8 miliar, perseroan memilih mengalokasikan sebagian laba untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung ekspansi usaha.
Setelah menyisihkan Rp20 miliar sebagai dana cadangan wajib, sisa laba akan digunakan untuk sejumlah investasi, antara lain pengembangan kapasitas mesin Refuse Derived Fuel (RDF), pembangunan fasilitas dan mesin pendukung Mesin Kertas Nomor 11 (MK 11), peningkatan kualitas mesin pengolahan bahan baku kertas bekas (de-inking machine), pengadaan mesin cetak, instrumen analitik Quality Assurance (QA), serta pembangunan gedung kantor.
Sebagai pengganti dividen tunai, perseroan akan membagikan dividen saham melalui kapitalisasi saldo laba dengan nilai maksimal Rp492,04 miliar atau sebanyak-banyaknya 1,23 miliar lembar saham baru.
Pembagian dividen saham dilakukan dengan rasio 100:30. Artinya, setiap pemegang 100 saham lama dengan nilai nominal Rp400 per saham akan memperoleh 30 saham baru dengan nilai nominal yang sama.
Menurut Hendro, kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan modal disetor sehingga struktur permodalan perseroan semakin kuat dan memberikan ruang lebih besar untuk memperoleh pendanaan bagi pengembangan usaha. Selain itu, penambahan jumlah saham beredar juga diharapkan dapat meningkatkan likuiditas perdagangan saham SPMA di pasar modal.
Di sisi ekspansi, Suparma juga tengah menyelesaikan investasi Mesin Kertas Nomor 11 senilai sekitar USD23 juta. Investasi tersebut didanai melalui dana internal sebesar USD6 juta dan pinjaman bank senilai USD17 juta.
“Dengan beroperasinya mesin baru tersebut pada semester IV 2026, kapasitas produksi terpasang perseroan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 27.000 MT sehingga dapat mendukung pertumbuhan penjualan pada tahun-tahun mendatang,” pungkas Hendro. ris






