HeadlineInvestasi

Investasi Kuartal I 2026 Tumbuh 7,2 Persen, Pemerintah Perkuat Regulasi Lewat KBLI 2025

×

Investasi Kuartal I 2026 Tumbuh 7,2 Persen, Pemerintah Perkuat Regulasi Lewat KBLI 2025

Sebarkan artikel ini

Jakarta, BisnisJatim.Id – Kinerja investasi Indonesia pada triwulan I 2026 tetap menunjukkan tren positif di tengah tekanan global. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi mencapai Rp498,8 triliun atau tumbuh 7,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Capaian tersebut setara dengan 24,4 persen dari target investasi nasional tahun 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menyebut angka ini mencerminkan kepercayaan investor yang tetap terjaga meskipun kondisi global diliputi ketidakpastian.

“Minat investor, baik domestik maupun asing, masih kuat. Ini menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia tetap solid,” ujarnya dalam keterangan resminya.

Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, realisasi investasi tersebut juga berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, investasi mampu menyerap 706.569 tenaga kerja atau meningkat 18,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi komposisi, investasi asing (PMA) dan domestik (PMDN) tercatat relatif berimbang, masing-masing sebesar Rp250,0 triliun (50,1 persen) dan Rp248,8 triliun (49,9 persen). Kondisi ini menunjukkan kombinasi yang sehat antara kepercayaan investor global dan kekuatan pelaku usaha dalam negeri.

Pemerataan investasi juga semakin terlihat. Realisasi di luar Pulau Jawa mencapai Rp251,3 triliun atau 50,4 persen dari total investasi, sedikit lebih tinggi dibandingkan Pulau Jawa sebesar Rp247,5 triliun (49,6 persen).

“Ini menandakan pembangunan ekonomi semakin inklusif, didorong oleh kebijakan hilirisasi yang menyebar ke berbagai wilayah,” kata Rosan.

Secara sektoral, industri pengolahan masih menjadi kontributor utama, terutama industri logam dasar dengan nilai investasi Rp69,4 triliun. Sementara itu, investasi di sektor hilirisasi secara keseluruhan mencapai Rp147,5 triliun atau hampir 30 persen dari total, tumbuh 8,2 persen (yoy).

Selain sektor industri, investasi juga mengalir ke berbagai bidang seperti jasa (termasuk pusat data dan layanan kesehatan), pertambangan, perumahan dan kawasan industri, serta transportasi dan telekomunikasi.

Dari sisi asal negara, penanaman modal asing masih didominasi oleh Singapura, diikuti Hong Kong, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang, yang mencerminkan posisi strategis Indonesia dalam rantai investasi global.

Di sisi regulasi, pemerintah terus memperkuat iklim investasi melalui implementasi Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025 dalam sistem perizinan berbasis risiko. Kebijakan ini menggantikan KBLI 2020 dan dirancang lebih adaptif terhadap perkembangan ekonomi baru, termasuk sektor digital.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari transformasi struktural ekonomi nasional.

“Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang baik dan daya tarik investasi yang tinggi. Pengembangan kawasan industri dan hilirisasi menjadi keunggulan kompetitif kita,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa KBLI berfungsi sebagai standar bersama untuk mengklasifikasikan aktivitas ekonomi, sehingga memudahkan pengumpulan data dan perumusan kebijakan.

Pemerintah menargetkan implementasi penuh KBLI 2025 paling lambat pada 18 Juni 2026, termasuk integrasi dengan sistem OSS dan Administrasi Hukum Umum (AHU).

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah optimistis Indonesia dapat mempertahankan momentum investasi dan tetap menjadi salah satu tujuan utama investor global di tengah dinamika ekonomi dunia. jr5