Bisnisjatim.id, Surabaya – Deru mesin sepeda motor roda tiga modifikasi itu memecah riuh jalanan kawasan Rungkut, Surabaya, di bawah sengatan terik matahari yang membakar kulit. Di atasnya, seorang pemuda dengan jaket merah khas JNE tampak fokus menatap lembaran alamat pada paket di tangannya.
Namanya Sirilus Siko, akrab disapa Rilus Siko. Bagi sebagian besar warga Rungkut yang kerap menerima paket darinya, Rilus adalah sosok kurir yang ramah dan tak kenal lelah. Namun, di balik seragam kerjanya, tidak banyak yang tahu bahwa pemuda asal Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini adalah seorang penyerang sayap (winger) Tim Nasional Sepak Bola Amputasi Indonesia yang telah mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.
Dilahirkan sebagai penyandang disabilitas fisik pada kaki kanannya, Rilus membuktikan bahwa keterbatasan tubuh bukanlah sebuah vonis untuk berhenti bermimpi. Perjalanan hidupnya dari tanah kelahiran di Flores hingga menjadi pahlawan olahraga sekaligus tumpuan logistik di Surabaya adalah sebuah manifesto nyata tentang keteguhan mental, kerja keras, dan bagaimana sebuah perusahaan seperti JNE mampu menjadi jembatan kemanusiaan yang memanusiakan manusia.
Merajut Asa dari Tanah Ende ke Kota Pahlawan
Kisah hidup Sirilus Siko adalah cerita tentang keberanian, ketekunan, dan semangat yang tak mengenal kata “batas”. Sejak lahir, Rilus telah menghadapi tantangan besar dengan kondisi disabilitas pada kaki kanannya. Namun, segala halangan itu sama sekali tidak menghentikan langkahnya untuk mengejar impian, terutama dalam dunia sepak bola.
Sejak usia lima tahun, Rilus sudah menunjukkan minat yang luar biasa besar dalam sepak bola. Meski kondisi fisiknya terbatas, ia tidak pernah merasa hal itu menjadi penghalang. Bahkan, ia dengan berani bermain bola bersama teman-temannya yang non-disabilitas di Ende.
“Teman -teman mungkin melihatnya kasihan, cuma dari diri saya nyatanya emang tak apa-apa, tak ada rasa takut. Saya main bola dengan tongkat,” ujarnya mengenang masa-masa awal mengolah si kulit bundar.
Bagi Rilus, tumbuh dengan kondisi tersebut justru membentuk mentalnya menjadi sekeras baja. Perundungan atau pandangan sebelah mata dari lingkungan sekitar sudah menjadi makanan sehari-hari yang justru menempa jiwanya, bukan menghancurkannya.
Keterbatasan, semangat dan rasa percaya diri yang tinggi menjadi cikal bakal perjalanan panjangnya. Selepas lulus SMA, Rilus mulai mencari informasi lebih lanjut tentang sepak bola amputasi melalui media sosial. Kala itu, tahun 2022, dia melihat sebuah konten yang menunjukkan adanya komunitas sepak bola amputasi di Surabaya.
Tanpa ragu, Rilus memutuskan untuk berangkat merantau ke Kota Pahlawan pada Februari 2022, meskipun dia tahu bahwa pengurus sepak bola amputasi di daerah tersebut belum memiliki sekretariat yang tetap dan resmi.
Kendati demikian, niat yang kuat tak membuatnya gentar. Beruntung, pengurus sepak bola amputasi Surabaya menyambutnya dengan sangat baik dan memberikan tempat tinggal kos untuk Rilus selama di Surabaya, termasuk menanggung kebutuhan makan dan minumnya karena saat itu belum ada dukungan dana dari pemerintah.
Kesempatan Emas Menjadi Anggota Timnas
Selama di Surabaya, Rilus saban harinya tidak hanya berlatih tanpa mengenal lelah, tetapi juga terus memperjuangkan peluang yang ada. Setelah mengirimkan video latihan mandiri di kampung halaman, pengurus Surabaya sempat mengirimkannya tongkat dan bola standar agar ia bisa memahami regulasi sepak bola amputasi yang menggunakan dua tongkat penyangga.
Kerja keras Rilus di lapangan hijau segera membuahkan hasil. Pada awal tahun 2023, ia melakoni debut pertandingan resminya dalam ajang Piala Bupati Jember dan sukses membawa tim Surabaya keluar sebagai juara kedua tingkat Jawa Timur.
Kesempatan emas yang dinantinya tiba ketika ada seleksi untuk tim nasional sepak bola amputasi U-23 di Yogyakarta. “Saya bersyukur saya bisa lolos seleksi dan terpilih untuk memperkuat tim nasional untuk kejuaraan di Malaysia,” katanya.
Kejuaraan tersebut menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Rilus. Timnas Indonesia berhasil meraih Juara 1 dan ia turut berperan besar dengan mencetak satu gol di turnamen internasional tersebut. Meskipun posisinya sebagai winger atau penyerang sayap tidak mudah dan menuntut kecepatan tinggi, dia menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak membatasi kemampuan serta semangatnya dalam bertanding.
JNE Adalah Rumah yang Memanusiakan
Selepas turnamen di Malaysia, Rilus balik ke Surabaya. Guna menghidupi kebutuhan sehari-hari dan agar bisa tetap mandiri di tanah rantau, dia pun memutuskan untuk mencari pekerjaan. Tekadnya itu membawa Rilus mendapatkan pekerjaan sebagai kurir pengiriman di JNE melalui gelaran job fair.
Menariknya, pihak JNE sama sekali tidak mempersoalkan kondisi disabilitasnya. JNE justru membuka pintu lebar-lebar bagi penyandang disabilitas untuk berkarya. Dalam menjalankan tugas sehari-hari mengantar paket, Rilus menggunakan sepeda motor roda tiga modifikasinya yang ia beli dari rekan komunitas disabilitas di Malang. Dia membuktikan bahwa apapun hambatan fisik yang ada, bukanlah halangan untuk bekerja dan memberikan kontribusi.
“Perusahaan mendukung saya untuk berkarier sebagai atlet. Sejak awal, JNE memberikan komitmen bahwa jika sewaktu-waktu ada panggilan dari Timnas atau ada ajang turnamen, mereka akan memberikan izin penuh bagi saya untuk berlatih dan bertanding,” ungkap Pria yang saat ini bertugas di JNE, Gedangan Sidoarjo ini.
Menjadi kurir mitra di wilayah Rungkut dengan kondisi fisik satu kaki tentu memiliki tantangan tersendiri. Pada hari-hari biasa saat barang sedang ramai, Rilus sanggup membawa dan mengantarkan hingga 150 paket lebih dalam sehari dengan upah per paket. Di awal masa kerjanya, ia sempat kesulitan menghafal peta wilayah. Bahkan, ia pernah hanya diberi 6 paket namun baru selesai dari jam 9 pagi hingga jam 10 malam karena bingung mencari Alamat pelanggan.
Suka dan duka sebagai kurir JNE dirasanya secara langsung, mulai dari menghadapi sistem Cash on Delivery (COD) yang kerap berujung kemarahan pelanggan karena barang tidak sesuai dari penjual, hingga kendala teknis seperti ban motor roda tiganya pecah atau kempis di jalan saat cuaca hujan deras. Namun, semua itu dijalani Rilus dengan lapang dada berkat iklim kerja di JNE Surabaya yang sangat kental dengan rasa kekeluargaan.
Meraih Top Scorer untuk Indonesia
Dedikasi Rilus di jalanan beriringan dengan prestasinya yang kian meroket di lapangan sepak bola. Sambil bekerja, Rilus rajin membuat konten video pendek di media sosial mengenai aktivitasnya sebagai kurir disabilitas. Konten-kontennya yang sarat akan pesan motivasi menjadi viral di jagat maya, hingga membuat manajemen JNE Pusat di Jakarta memanggilnya untuk memberikan apresiasi secara langsung.
Karier sepak bolanya mencapai puncak baru pada tahun 2024 ketika ia mendapat panggilan untuk memperkuat Tim Nasional Sepak Bola Amputasi guna persiapan Piala Asia Amputasi 2025. JNE kembali membuktikan komitmennya dengan memberikan izin dispensasi penuh selama enam bulan agar Rilus dapat fokus menjalani training camp intensif di Jakarta.
Pengorbanan tersebut dibayar tuntas. Pada turnamen Piala Asia Amputasi 2025 yang diselenggarakan di Bangladesh, Rilus tampil sebagai mesin gol yang menakutkan bagi lini pertahanan lawan. Ia berhasil membawa Timnas Indonesia keluar sebagai Juara 2 se-Asia. Tidak hanya itu, secara individu Rilus menorehkan prestasi gemilang sebagai pencetak gol terbanyak (top scorer) kedua di tingkat Asia, dengan memperoleh 5 gol selisih dua gol dari peraih peringkat pertama yang meraih 7 gol yakni pemain dari Bangladesh.
“Pulang dari Bangladesh, manajemen JNE langsung memberikan apresiasi luar biasa atas prestasi tersebut. Saya diberikan hadiah sepeda motor, uang tunai, dan yang paling membuat saya bersyukur adalah saya langsung diangkat menjadi karyawan tetap JNE,” kata Rilus dengan nada penuh rasa syukur.

Dari Atlet Menjadi Inspirator Digital
Bagi Rilus Siko, sepak bola bukan satu-satunya ruang untuk menginspirasi. Semangat yang ia tunjukkan di lapangan kini juga hadir di dunia digital. Melalui akun Instagram @rilussiko_ yang memiliki lebih dari 11,8 ribu pengikut dan TikTok @rilsstore_ dengan lebih dari 13,8 ribu pengikut, Rilus aktif membagikan kisah perjuangan dan aktivitas kesehariannya sebagai penyandang disabilitas yang tetap produktif dan berprestasi.
Melalui video-video pendek yang kreatif dan penuh energi, Rilus konsisten menghadirkan konten yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan motivasi. Ia membagikan momen latihan, aktivitas sehari-hari sebagai kurir hingga pesan-pesan inspiratif yang mendorong penyandang disabilitas untuk terus percaya pada kemampuan diri sendiri.
Konten yang disampaikan secara jujur dan apa adanya tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Tidak sedikit unggahannya yang menarik perhatian warganet dan menjangkau audiens yang lebih luas melalui berbagai platform media sosial.
Bagi Rilus, media sosial bukan sekadar sarana untuk membangun popularitas. Ruang digital telah menjadi wadah untuk menyuarakan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya, berprestasi, maupun memberikan dampak positif bagi orang lain.
Keaktifannya di dunia digital juga membuka peluang baru. Sejumlah influencer mengajaknya berkolaborasi, sementara berbagai brand mulai mempercayakan kerja sama kepadanya. Kepercayaan tersebut menjadi bukti bahwa kreativitas, konsistensi dan pesan positif memiliki nilai yang mampu melampaui batasan fisik.
Perjalanan Rilus menunjukkan bagaimana transformasi digital dapat membuka kesempatan yang lebih luas bagi siapa saja, termasuk penyandang disabilitas. Dari lapangan hijau hingga media sosial, ia terus menebarkan semangat bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, berkarya, dan menginspirasi.
Jadi Sponsor Klub dan Alih Tugas ke Bagian Gudang
Dukungan JNE terhadap dunia sepak bola amputasi ternyata tidak berhenti pada sosok Rilus pribadi. Sebagai bentuk komitmen nyata terhadap perkembangan olahraga disabilitas, JNE juga menjadi sponsor bagi klub sepak bola amputasi tempat Rilus bernaung di Surabaya yakni Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Surabaya (Persas). Dukungan ini memberikan angin segar bagi keberlangsungan latihan dan akomodasi para atlet amputasi di Jawa Timur.
Memasuki tahun 2026, intensitas Rilus di dunia olahraga luar biasa padat. Setelah sempat mengikuti kualifikasi Piala Dunia Amputasi di Jakarta dan menjalani pemusatan latihan di Turki selama tiga bulan, manajemen JNE mengambil langkah bijak demi menjaga kebugaran fisik dan mempermudah manajemen waktu Rilus. Mengingat agenda Timnas yang sangat padat dan sering memerlukan cuti panjang, Rilus kini dialihkan tugasnya dari bagian pengantaran lapangan (kurir) ke bagian logistik internal, yaitu sebagai staf operasional di dalam gudang (bagian sortir dan penerimaan barang).
“Sekarang saya ditempatkan di bagian gudang untuk sortir barang. Keputusan ini sangat membantu saya, jadi fisik saya tidak terlalu lelah di jalanan dan JNE tetap bisa memberikan fleksibilitas penuh saat saya harus membela negara. Hubungan kekeluargaan di JNE ini benar-benar sangat erat, baik dari rekan kerja sesama kurir maupun dari atasan,” paparnya kembali.
Kini, di sela-sela kesibukannya di gudang JNE, Rilus yang menginjak usia 25 tahun pada bulan Juli ini tengah mempersiapkan fisik untuk dalam turnamen mendatang.
Melalui perjalanan hidupnya, Rilus menitipkan sebuah pesan mendalam bagi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya rekan-rekan penyandang disabilitas yang masih ragu untuk melangkah. “Untuk teman-teman disabilitas atau siapapun masyarakat Indonesia yang merasa memiliki kekurangan, atau masih ragu dan takut dengan kemampuan diri sendiri, jangan pernah pantang menyerah untuk kehidupanmu. Kemampuan dan ketekunan itu, hanya dirimu sendiri yang tahu. Teruslah berjuang untuk masa depan, cita-cita dan untuk orang-orang yang kamu cintai. Jangan pernah takut dengan apa yang diomongin orang lain,” pungkasnya tegas.
Dari Ende, Rilus datang membawa keterbatasan fisik, namun lewat keteguhan hati dan dukungan dari ekosistem yang tepat seperti perusahaan dia bekerja yaitu JNE, ia pulang membawa kehormatan bagi ibu pertiwi. Kisah Sirilus Siko adalah bukti nyata bahwa keterbatasan hanyalah sebuah sudut pandang dan kerja keras yang diiringi ketulusan akan selalu menemukan jalannya menuju puncak tertinggi.(kar)






