Surabaya, BisnisJatim.Id – Meskipun dibayangi kondisi ekonomi yang belum stabil namun pasar properti tahun ini diperkirakan tetap akan bertumbuh. Selain didorong banyaknya stimulus dari pemerintah, bank dan developer, juga banyak investor asing yang ingin membeli properti di Indonesia.
Luckyanto, CEO PropNex Indonesia, mengatakan, sebenarnya pasar properti masih sangat berpotensi tumbuh lebih tinggi. Namun karena banyaknya kasus besar yang muncul di Indonesia dalam beberapa pekan terakhir, sehingga banyak investor asing yang bersikap wait and see.
“Tapi sebenarnya ini peluang bagi investor lokal untuk membeli. Nanti saat investor asing mulai masuk, harga sudah naik tinggi bisa dilepas lagi,” ujar Luckyanto, disela acara PropNex Indonesia Annual Convention 2025 di Ballroom Ciputra World Surabaya, Kamis (6/3).

Dijelaskan, tahun 2024, banyak investor asing terutama dari China yang berburu properti di Indonesia. Mereka umumnya mencari industrial untuk ekspansi bisnis. Kebetulan tahun lalu banyak properti di secondary market yang dilepas dengan harga dibawah pasar 40-60 persen sehingga menarik banyak investor.
“Tahun ini kami belum bisa memprediksi. Karena situasinya unpredictable. Namun kami perkirakan masih dalam kisaran 10-15 persen pasar properti berasal investor asing terutama China,” tambahnya.
Sebab itu, dia masih sangat yakin tahun 2025, transaksi penjualan PropNex tetap akan tumbuh sekitar 20 persen atau lebih. Hal ini didorong banyak pembeli end-user dan investor lokal yang masih agresif membeli properti baik residential maupun komersial primary market maupun secondary market.
Tahun lalu, PropNex Indonesia berhasil mencatat transaksi penjualan senilai Rp 2,1 triliun. Jumlah tersebut naik sekitar 20 persen dari tahun 2023 yang sebesar Rp 1,6 triliun. Dengan melihat potensi yang ada, dia yakin tahun ini tetap akan sama atau lebih besar lagi pertumbuhannya.
“Segmen penjualan tahun 2024, sekitar 75 persen dari secondary market dan 25 persen primary market. Dan mayoritas masih residential sekitar 60 persen. Sisanya dari komersial seperti industrial, warehouse, tanah kosong maupun lainnya,” ungkapnya.

Untuk itu, pihaknya akan terus menambah jumlah agen properti. Saat ini jumlah agen properti PropNex Indonesia sebanyak 1.600 orang. Hal ini setelah ada tambahan sekitar 500 agen baru tahun lalu. Mereka mayoritas berasal dari agen properti lain yang sudah punya brand sehingga cukup berpengalaman.
Bahkan pihaknya juga akan mengadakan semacam training Property Wealth System yang sudah suskes diterapkan di Singapura. Dalam training tersebut, para agen akan diubah mindset mereka bagaimana menjual properti yang baik dan benar.
“Jadi mereka akan lebih mudah memasarkan properti. Rencana training ini akan kami lakukan pada bulan Mei nanti setelah di Singapura sukses. Dua tahun penjualan disana naik terus 10-15 persen disaat pasar properti lesu akibat adanya larangan foreigner beli properti di Singapura,” ujarnya.
Soal potensi kenaikan harga properti tahun ini, Lucky – panggilan akrabnya, mengaku belum bisa memastikan. Namun dia yakin, meskipun situasinya masih belum benar-benar stabil, harga properti terutama pasar sekunder tetap akan naik minimal 5-10 persen.
“Kalau mau investasi properti memang tidak bisa short-term terutama apartemen. Perlu di keep 10-20 tahun kalau mau capital gain. Namun bila short term, juga tidak rugi. Sebab dapat dari sewa minimal 5-8 persen. Bahkan bisa 10-12 persen per tahun. Apartemen double bed setahun bisa 50-70 juta. Padahal beli di pasar secondary harganya 500-700 juta,” tutup Lucky. BJ1






