HeadlineIndustriPerdagangan

Dibayangi Kenaikan Kurs Dolar AS dan Geo-Politik, GDST Optimis Raih Penjualan Rp 2,7 Triliun Tahun 2026

×

Dibayangi Kenaikan Kurs Dolar AS dan Geo-Politik, GDST Optimis Raih Penjualan Rp 2,7 Triliun Tahun 2026

Sebarkan artikel ini

Surabaya, BisnisJatim.Id – Meskipun dibayangi kenaikan kurs dolar AS terhadap Rupiah dan masalah geo-politik yang belum reda, namun PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST) tetap optimis tahun ini mampu meraih penjualan sebesar Rp 2,7 triliun.

Direktur PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk, Hadi Sucipto menjelaskan, hingga saat ini pihaknya tidak melakukan revisi target meskipun pasar baja baik ekspor maupun domestic mengalami tekanan. Hal ini akibat kenaikan kurs dolar AS dan masalah geo-politik global.

“Sampai saat ini tidak ada revisi target. Kami optimis tahun ini penjualan akan mencapai Rp 2,7 triliun,” kata Hadi Sucipto, saat Public Expose di kantornya, Selasa (9/6).

Untuk itu, pihak akan melakukan berbagai langkah strategis. Misalnya, untuk pasar ekspor, pihaknya akan terus mencari peluang pasar baru. Saat ini ekspor dilakukan di sejumlah negara di Australia, Eropa, Malaysia, Singapura dan Korea Selatan.

Sedangkan untuk pasar domestik, pihaknya juga akan terus melakukan peluang di berbagai sektor. Saat ini pasar domestic lebih banyak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan berbagai galangan kapal di Batam.

“Kami masih fokus menggarap pasar domestik. Selain kebutuhanya besar, tranportasinya juga mudah. Cash flownya juga lancar. Sementara untuk pasar  ekspor kami lakukan kalau ada demand dan jumlahnya harus nunggu banyak agar tidak mahal ongkos kirimnya. Karena kami tidak mass product, tapi job order,” tambah dia.

TERTEKAN DOLAR AS: Hhadi Sucipto (dua dari kanan) bersama Direksi GDST saat paparan publik. Tahun 2026, GDST tetap optimis meraih penjualan Rp 2,7 Triliun meskipun kenaikan kurs Dolar AS cukup menekan pasar baja nasional dan global. Foto RIS

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah mengoperasikan Plate Mill 2. Sejak Oktober 2025, pihaknya sudah melakukan commissioning atau uji coba produksi. Dan hasilnya cukup bagus. Terbukti produk dari Plate Mill2 sudah bisa diekspor ke Korea Selatan.

Plate Mill 2 ini akan memiliki kapasitas lebih besar yakni 1.200 ton per hari. Sementara Plate Mill 1 hanya 700-an ton per hari. Operasional Plate Mill 2 ini untuk memenuhi kebutuhan pasar baik dipasar domestic maupun ekspor terutama ukuran tertentu yang diminta customer.

“Saat ini Plate Mill2 dalam percobaan produksi bergantian dengan Plate Mill 1. Kami harapkan paling lambat akhir tahun 2026, produksi komersial sudah bisa kami mulai,” tambah dia.

Terkait kinerja tahun ini, Hadi Sucipto, menjelaskan, hingga kuartal I/2026, GDST berhasil meraih penjualan sebesar Rp 469,4 miliar atau turun 26,6 persen dari tahun lalu periode yang sama yakni Rp 639,74 miliar.

Dari jumlah tersebut, pasar ekspor berkontribusi sebesar Rp 14,3 miliar turun 5,8 persend dari tahun lalu periode yang sama yakni Rp 15,2 miliar. Sedangkan pasar domestik berkontribusi sebesar Rp 422 miliar, turun signifikan 28,4 persen dari periode yang sama tahun lalu yakni Rp 589,9 miliar.

Hal ini berimbas pada perolehan laba bersih Perseroan. Hingga kuartal I/2026, Perusahaan yang ada di Surabaya Barat ini berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 13,3 miliar. Jumlah tesebut turun signifikan 65,7 persen dibanding tahun lalu periode yang sama yakni Rp 39 miliar.

Sebenarnya secara kuantity, penjualan mengalami kenaikan volume. Namun karena harga jualnya turun rata-rata 6,9 persen sejak awal tahun 2026, maka hal ini berimbas pada penurunan penjualan dan laba bersih.

“Namun begitu kami tetap optimis tahun ini mampu meraih penjualan sebesar Rp 2,7 triliun dengan laba bersih sebesar rp 136 miliar. Kami akan terus melakukan perluasan pasar domestic dan ekspor serta meningkatkan efisiensi dengan mengoperasikan Plate Mill 2,” pungkas Hadi Sucipto. bj3