IndeksUncategorized

Musim Panas Bawa Berkah, Ubur-Ubur Selat Bali Jadi Komoditas Ekspor Banyuwangi

×

Musim Panas Bawa Berkah, Ubur-Ubur Selat Bali Jadi Komoditas Ekspor Banyuwangi

Sebarkan artikel ini
Hasil tangkapan nelayan muncar Banyuwangi. (Foto Istimewa)

BISNISJATIM.ID – Perairan Selat Bali tengah memasuki masa panen komoditas kelautan yang unik. Ribuan ton ubur-ubur hasil tangkapan nelayan Kabupaten Banyuwangi kini menjadi salah satu komoditas ekspor bernilai ekonomi yang dipasarkan ke sejumlah negara, termasuk China, Taiwan, dan Malaysia.

Hasil tangkapan segar tersebut utamanya dikumpulkan melalui rantai pengepul di kawasan pesisir Muncar sebelum diproses dan dikirim ke pasar internasional.

Musim Panas Buat Pasokan Ubur-Ubur Melimpah

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi, Suryono Bintang Samudra, menjelaskan bahwa fenomena melimpahnya ubur-ubur di Selat Bali sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca. Musim panas menjadi momen puncak kemunculan ubur-ubur di permukaan air.

Bahkan, kapal nelayan berukuran kecil mampu mengumpulkan tangkapan dalam jumlah yang fantastis dalam satu kali melaut.

“Biasanya, ubur-ubur muncul saat cuaca panas. Dalam sekali melaut, kapal nelayan berukuran kecil dapat memperoleh tangkapan antara 1 hingga 3 ton,” kata Suryono, Selasa (3/11/2026).

Komoditas Musiman 3 Bulan dan Potensi Industri

Menurut Suryono, fenomena panen ubur-ubur ini merupakan siklus tahunan yang berlangsung terbatas. Masa tangkapan biasanya bertahan sekitar tiga bulan dan akan berangsur menghilang seiring masuknya musim hujan di perairan Banyuwangi.

Meskipun kerap dianggap sebagai hasil laut musiman, ubur-ubur memiliki pemanfaatan industri yang sangat luas di mancanegara, khususnya di bidang kosmetik dan farmasi.

“Ada pembelinya, ada pengepul yang menampung ubur-ubur dari nelayan. Keberadaan pengepul ini menjadi bagian penting dari rantai pemasaran sebelum dikirim untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri,” tambahnya.

Tantangan Harga di Tingkat Nelayan

Meski volume tangkapan melimpah dan menembus pasar ekspor, harga jual di tingkat nelayan lokal tercatat masih relatif rendah. Saat ini, ubur-ubur dibeli oleh pengepul dengan harga sekitar Rp30.000 per keranjang (kapasitas sekitar 40 kilogram).

Kehadiran pasar ekspor ini tetap menjadi angin segar dan tambahan penghasilan bagi nelayan Muncar dan sekitarnya selama musim kemarau. Kendati demikian, Dinas Perikanan terus memantau dan menghimpun data lebih lanjut terkait total nilai perdagangan serta sejauh mana komoditas ini dapat mendongkrak tingkat pendapatan nelayan secara berkelanjutan. (YQX)