Bisnisjatim.id, Pasuruan – Ketika musim hujan tiba, menyiapkan makanan untuk ribuan santri Pondok Pesantren Darullughah Waddawah (Dalwa), Bangil, Kabupaten Pasuruan, pernah menjadi perjuangan tersendiri. Kayu bakar yang sulit kering menghambat pekerjaan dapur. Ketika pengiriman terlambat, pengelola harus mencari cara agar api tetap menyala. Bahkan, kursi-kursi patah dan sandal yang berserakan pernah dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
“Sungguh sangat menyedihkan waktu itu,” kenang Kepala Bidang Kesiswaan Pesantren Dalwa, Ustaz Ismail Ayyub, saat menceritakan masa ketika dapur pesantren masih bergantung pada kayu bakar.
Untuk memenuhi kebutuhan memasak, kayu harus disiapkan jauh-jauh hari. Prosesnya dimulai dari menebang, mengeringkan, hingga menyimpan persediaan agar siap digunakan. Persiapan bahkan dapat dilakukan sekitar dua bulan sebelumnya. Namun, ketika musim penghujan datang, kayu yang belum cukup kering menyulitkan pekerjaan. Keterlambatan pengiriman pun membuat pengelola harus mencari alternatif bahan bakar.
“Pakai kayu itu kita kesulitan ketika musim hujan. Jadi memang persiapan hingga dua bulan sebelumnya harus ada bahan baku. Mulai nebang sampai proses kering, sampai dipakai kayu tersebut. Dan lebih parah ketika musim hujan telat pengiriman, kursi-kursi yang patah, yang sebenarnya masih layak dipakai, serta sandal-sandal anak yang berserakan dibuat untuk bahan bakar,” ujar Ismail.
Bagi dapur yang melayani ribuan orang, persoalan tersebut bukan sekadar urusan menyalakan api. Ada jadwal makan yang harus dipenuhi, bahan makanan yang harus diolah, serta aktivitas pesantren yang berjalan setiap hari. Ketika proses memasak terhambat, dampaknya berpotensi merembet pada kegiatan lain.
Seiring bertambahnya kebutuhan operasional, Pesantren Dalwa mulai memodernisasi dapur pada rentang 2010–2012. Peralatan memasak khusus, termasuk pengukus atau custom steamer dan oven penanak nasi otomatis, dikembangkan untuk mendukung pengolahan makanan dalam jumlah besar. Penggunaan liquefied petroleum gas (LPG) kemudian menjadi bagian dari perubahan, menggantikan ketergantungan terhadap kayu bakar.
Namun, perjalanan mencari sistem pasokan energi yang sesuai kebutuhan belum berakhir. Pesantren sempat menggunakan compressed natural gas (CNG). Sayangnya, distribusi yang terkadang terlambat kembali menimbulkan kendala.
“Dari CNG itu distribusinya kadang telat. Ketika itu telat, trouble-nya ke mana-mana. Bahkan berpengaruh pada proses belajar mengajar menjadi terlambat,” kata Ismail.
Pengalaman itu menjadi pelajaran bahwa dapur berskala besar membutuhkan lebih dari sekadar bahan bakar. Energi harus tersedia sesuai kebutuhan agar kegiatan memasak dapat berjalan terencana. Ketika pasokan terganggu, persoalannya tidak berhenti pada pekerjaan di dapur, tetapi juga dapat memengaruhi keteraturan aktivitas pesantren.
Kini, Pesantren Dalwa memanfaatkan jaringan gas bumi (jargas) dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina. Melalui jaringan pipa, gas bumi disalurkan untuk menunjang kegiatan memasak di dapur pesantren.
Perubahan tersebut menghadirkan cara berbeda dalam memenuhi kebutuhan energi. Pengelola tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pengiriman bahan bakar secara berkala untuk penggunaan jargas. Dengan layanan pasokan yang tersedia selama 24 jam, kegiatan memasak dapat direncanakan sesuai kebutuhan operasional dapur.
Kepala Dapur Dalwa, Muhamad Nagib, menerangkan bahwa pemanfaatan gas bumi memberikan banyak manfaat bagi operasional dapur pesantren. “Kami berharap penyaluran gas bumi dapat terus berjalan lancar tanpa gangguan teknis agar kegiatan memasak untuk memenuhi kebutuhan ribuan santri dapat berlangsung dengan baik,”ujarnya.
Harapan itu bukan tanpa alasan. Dapur umum Dalwa melayani kebutuhan makan sekitar 12.999 hingga 15.000 santri setiap hari. Aktivitas memasak dibagi ke dalam beberapa sif untuk menyiapkan hidangan makan siang dan makan malam. Besarnya kebutuhan tersebut membuat kelancaran pasokan energi menjadi bagian penting dalam menjaga keteraturan pekerjaan dapur.
Area Head PGN Pasuruan, Mochammad Arief, mengatakan perusahaan terus mendorong pemanfaatan jaringan gas bumi di Kabupaten Pasuruan dan sekitarnya sepanjang 2026. Menurut dia, upaya tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung ketahanan energi nasional sekaligus menyediakan energi yang praktis dan efisien bagi pelanggan rumah tangga, lembaga pendidikan, serta sektor usaha.
“PGN mencatat penyaluran gas bumi di wilayah Pasuruan mencapai sekitar 22–23 juta kaki kubik standar per hari atau million standard cubic feet per day (MMSCFD). Infrastruktur tersebut melayani 40.230 pelanggan rumah tangga dan pelanggan kecil serta 127 pelanggan komersial dan industri,” terangnya.
Pesantren Dalwa menjadi salah satu pelanggan dari segmen komersial dan industri yang memanfaatkan gas bumi untuk menunjang aktivitasnya. Menurut data yang disampaikan PGN, rata-rata pemakaian gas di pesantren tersebut mencapai sekitar 11.000 meter kubik. Periode penghitungan angka pemakaian tersebut perlu dipastikan agar pembaca memperoleh gambaran konsumsi yang akurat.
“Dengan jargas, kami menjamin efisiensi yang diperoleh. Di Pesantren ini efisiensi bisa mencapai 36 persen dan keberlanjutan pasokan 24 jam dan efisiensi biaya. Praktisnya, pengelola pesantren tidak perlu lagi repot menelepon agen karena elpiji habis,” ujar Arief.

Penggunaan gas bumi tetap membutuhkan perhatian terhadap aspek keselamatan. Instalasi harus memenuhi standar, ventilasi perlu memadai, dan prosedur penggunaan harus dipatuhi. PGN menjelaskan bahwa gas alam lebih ringan daripada udara sehingga cenderung naik dan menyebar ketika terjadi kebocoran dalam kondisi ventilasi yang memadai. Zat pembau atau odoran juga ditambahkan untuk membantu pengguna mengenali kemungkinan kebocoran.
Pondok Pesantren Dalwa didirikan oleh Al Habib Hasan Baharun pada 1981. Kini, lembaga pendidikan Islam tersebut berkembang dengan sekitar 19.000 santri putra dan putri serta lima kampus. Skala kegiatan pendidikan itu menjadikan pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk makanan dan energi, sebagai bagian penting dalam menunjang aktivitas sehari-hari.
Di tengah upaya Indonesia menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045, perhatian terhadap pendidikan tidak hanya berkaitan dengan ruang kelas, buku, dan proses belajar mengajar. Ada pula kebutuhan penunjang yang harus dipenuhi agar kegiatan pendidikan dapat berlangsung dengan baik.
Pengalamana dapur Dalwa memperlihatkan bagaimana perubahan sistem energi dapat mendukung kebutuhan sebuah lembaga pendidikan. Dari kayu bakar yang harus dikeringkan, LPG, dan CNG yang distribusinya pernah terkendala, hingga jaringan gas bumi, perjalanan tersebut mencerminkan upaya mencari sistem pasokan yang sesuai dengan kebutuhan dapur berskala besar.
Bagi PGN, pemanfaatan jargas di Dalwa menjadi bagian dari perluasan layanan gas bumi ke sektor pendidikan. Bagi pesantren, kelancaran pasokan menjadi harapan agar kegiatan memasak tetap berjalan tanpa gangguan yang menghambat pekerjaan.
Pada akhirnya, arti penting energi di Dalwa tidak hanya terletak pada bahan bakar yang digunakan untuk menyalakan peralatan memasak. Energi menjadi bagian dari rangkaian pekerjaan yang memastikan makanan tersedia bagi ribuan santri setiap hari. Dari dapur yang terus bekerja itulah, kehidupan pesantren berjalan. Di balik setiap hidangan yang disiapkan, ada kebutuhan sederhana tetapi mendasar yang harus terus dijaga.Pasokan energi yang lancar agar kegiatan memasak dapat berlangsung sebagaimana mestinya. d(kar)







