Jakarta, BisnisJatim.Id — PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mempercepat ekspansi hilirisasi nikel melalui tiga proyek Indonesia Growth Project (IGP) dengan total nilai investasi mencapai sekitar USD 7,2 miliar.
Ketiga proyek tersebut mencakup IGP Morowali di Sulawesi Tengah, IGP Pomalaa di Sulawesi Tenggara, dan IGP Sorowako di Sulawesi Selatan. Investasi masing-masing proyek akan mencakup pengembangan pertambangan serta fasilitas pengolahan nikel menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL).
Mateus Sigit Harisulistya, Head of Strategy and Business Development Vale Indonesia, mengatakan pengembangan tiga proyek tersebut merupakan bagian dari transformasi perseroan dari sebelumnya mengandalkan satu basis operasi menjadi platform pertumbuhan multi-site yang terintegrasi.
“Ini merupakan satu perubahan yang cukup signifikan dari sisi PT Vale dari single operation base menjadi multi-site growth platform, di mana nanti kita akan bekerjasama dengan partner kami,” ujar Sigit dalam acara Talkshow secara daring dengan tema “Hilirisasi Nikel dan Optimasi Nilai Tambah Dalam Negeri”, Senin (14/9).

Dijelaskan, IGP Morowali atau proyek di Sulawesi Tengah memiliki nilai investasi sekitar US$1,9 miliar. Investasi tersebut mencakup kegiatan pertambangan dan pembangunan fasilitas HPAL melalui skema joint venture (JV). Dalam proyek ini, PT Vale Indonesia Tbk menggandeng GEM dan EcoPro sebagai mitra.
Emiten dengan koder perdagangan INCO ini akan melakukan investasi pertambangan secara penuh karena aktivitas tersebut merupakan bagian dari Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) perseroan. Sementara fasilitas HPAL dikembangkan melalui skema JV, dengan posisi PT Vale Indonesia Tbk sebagai pemegang saham minoritas signifikan atau significant minority.
“Investasi mining itu 100 persen dilakukan oleh PT Vale Indonesia karena memang itu merupakan bagian dari IUPK-nya PT Vale. Kemudian untuk HPAL-nya, itu nanti mode-nya joint venture di mana kita akan menjadi significant minority,” jelasnya.
Dalam proyek Morowali, bijih limonit yang ditambang dari Bahodopi akan dikirim ke fasilitas HPAL di Sambalagi untuk diproses menjadi produk antara berupa Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Fasilitas HPAL Sambalagi dirancang memiliki kapasitas sekitar 60.000-90.000 ton.
Sigit menilai integrasi antara tambang dan fasilitas pengolahan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun rantai nilai nikel dari hulu hingga produk antara yang selanjutnya dapat diproses lebih lanjut menjadi material baterai.
“Untuk IGP Morowali, first mechanical completion ditargetkan tercapai pada akhir 2026, sedangkan full mechanical completion ditargetkan pada kuartal I/2027,” ungkap Sigit.
Pomalaa Jadi Proyek Paling Maju
Sementara itu, IGP Pomalaa menjadi proyek dengan nilai investasi terbesar, yakni sekitar USD 3,2 miliar. Proyek tersebut merupakan kombinasi investasi pertambangan dan fasilitas HPAL dengan kapasitas sekitar 120.000 ton. INCO menggandeng Huayou sebagai technology partner dan Ford sebagai mitra OEM.
Menurut Sigit, proyek Pomalaa saat ini menjadi proyek IGP yang paling maju. Perusahaan menargetkan pengujian dan commissioning salah satu autoclave dapat dimulai pada kuartal III atau kuartal IV 2026, sebelum dilanjutkan ke fasilitas lainnya.
“Pomalaa Project memang yang paling advanced. Rencananya mungkin di Q3 atau mungkin di Q4 ini kita akan mulai testing dan commissioning untuk satu autoclave, dan nanti akan dilanjutkan sampai ke semua fasilitas di Pomalaa,” kata Sigit.
INCO menargetkan seluruh fasilitas Pomalaa mencapai full mechanical completion pada akhir tahun dan mulai beroperasi penuh pada awal tahun berikutnya.
Proyek ketiga adalah IGP Sorowako dengan nilai investasi sekitar USD 2,1 miliar. Untuk proyek ini, pihaknya menggandeng Huayou sebagai mitra pengembangan HPAL. proyek Sorowako masih berada dalam tahap awal. Perseroan menargetkan proyek tersebut akan beroperasi penuh pada 2028.
Dengan demikian, ketiga proyek IGP tersebut akan menjadi basis baru bagi PT Vale Indonesia Tbk untuk memperluas kegiatan pertambangan dan pengolahan nikel di sejumlah wilayah Indonesia.
HPAL Jadi Fondasi Hilirisasi
Sigit menjelaskan HPAL menjadi teknologi penting dalam strategi hilirisasi karena mampu mengolah bijih limonit yang sebelumnya relatif kurang termanfaatkan menjadi produk antara MHP. MHP selanjutnya dapat menjadi bahan baku untuk proses downstreaming berikutnya, termasuk precursor atau pCAM, cathode active material (CAM), hingga material baterai.
“HPAL ini kita melihat satu hal yang sangat penting dalam fase midstream, karena ini merupakan fondasi awal sebelum kita bisa masuk ke further downstreaming,” ujarnya.
Menurut Sigit, rantai nilai tersebut merupakan bagian dari konsep integrated value chain yang dimulai dari sumber daya dan cadangan mineral, kegiatan pertambangan, pembangunan infrastruktur tambang dan pelabuhan, hingga pengolahan dan pemurnian.
Perseroan saat ini berfokus pada tahapan awal hingga produk antara. Setelah fasilitas tersebut beroperasi, perusahaan akan mengevaluasi peluang pengembangan further refining bersama mitra, sejalan dengan perkembangan industri downstreaming di Indonesia.
Sigit mengakui pengembangan HPAL merupakan proyek yang bersifat capital intensive. Selain kebutuhan modal yang besar, proyek HPAL saat ini juga menghadapi tekanan biaya, termasuk harga sulfur yang tinggi serta kondisi pasar.
Namun, pihaknya tetap melihat HPAL sebagai investasi dengan prospek jangka panjang, terutama untuk mendukung perkembangan industri baterai.
“HPAL ini enggak bisa dilihat hanya dalam satu siklus. Ini merupakan long term horizon,” tegasnya.
Menurutnya, daya saing HPAL harus terus dijaga melalui efisiensi biaya, skala ekonomi, tingkat recovery bijih, serta operating efficiency.
“Kita melihat bahwa ke depan HPAL ini masih berpotensi, terutama untuk mendukung industri baterai,” katanya.
Sigit menilai apabila industri baterai dan downstreaming di dalam negeri terus berkembang, keberadaan fasilitas HPAL akan memberikan nilai tambah yang semakin besar bagi Indonesia maupun Perseroan.
Manfaatkan Limonit, Buka Revenue Stream Baru
Pengembangan HPAL juga membuka peluang baru bagi PT Vale Indonesia Tbk untuk meningkatkan nilai ekonomi dari cadangan limonit.
Sebelumnya, kegiatan utama PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako lebih berfokus pada pengolahan bijih saprolit menjadi nikel matte. Dengan teknologi HPAL, bijih limonit kini dapat ditambang dan diproses menjadi MHP.
“Kita unlock value dari limonite ore. PT Vale Indonesia dulu cuma beroperasi mengolah saprolit menjadi nikel matte di Sorowako, tapi sekarang kita membuka revenue stream baru,” ujar Sigit.
Dia menambahkan, pemilihan mitra dalam proyek HPAL juga mempertimbangkan kompleksitas teknologi. Mitra diharapkan tidak hanya membawa teknologi dan pengalaman, tetapi juga kemampuan yang saling melengkapi.
Salah satu tujuan kerja sama tersebut adalah membangun kemampuan sumber daya manusia Indonesia melalui transfer teknologi.
“Capability building itu juga penting untuk nanti ke depannya bisa transfer teknologi dari teknologi China ke Indonesian people,” kata Sigit.
Sustainability Jadi Bagian dari Daya Saing
Di sisi lain, aspek keberlanjutan menjadi perhatian utama dalam pembangunan fasilitas HPAL. Sigit mengatakan sustainability dan ESG bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari daya saing proyek.
HPAL memang menghasilkan emisi yang dinilai lebih rendah dibandingkan sistem pirometalurgi. Namun, teknologi tersebut menghasilkan tailing atau residu dalam jumlah signifikan.
Karena itu, Perseroan menekankan kepada para mitra agar fasilitas HPAL yang dibangun memenuhi standar internasional, mulai dari tahap engineering hingga konstruksi dan operasi.
“Sustainability itu juga merupakan bagian dari competitiveness,” ujarnya.
Menurut Sigit, penerapan standar lingkungan yang tinggi penting untuk menjaga keberlanjutan operasi sekaligus memastikan produk yang dihasilkan dapat diterima pasar global.
Pada akhirnya, Sigit menegaskan hilirisasi PT Vale Indonesia Tbk tidak akan berhenti pada pembangunan tambang dan HPAL. Perseroan akan terus melihat peluang memperpanjang rantai nilai hingga tahapan downstream yang lebih tinggi.
“Ini proyek yang akan terus berjalan. Kita akan melihat bagaimana HPAL ini akan berkembang di Indonesia dan nantinya ketika downstreaming itu memang berjalan lebih lanjut di Indonesia, itu akan memberikan nilai tambah yang lebih tinggi bagi Indonesia,” pungkas Sigit. bj3/dan






