Jakarta, BisnisJatim.Id — PT Indonesiaa Battery Corporation (IBC) melihat prospek penggunaan nikel dalam industri baterai masih terbuka lebar di tengah dominasi teknologi Lithium Iron Phosphate (LFP) saat ini.
Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, mengatakan perkembangan teknologi baterai ke depan tidak hanya ditentukan oleh kondisi pasar saat ini, tetapi juga oleh inovasi teknologi yang masih terus berlangsung.
Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi baterai, tetapi perlu ikut masuk dalam pengembangan teknologi agar mineral strategis dalam negeri, termasuk nikel, tetap memiliki posisi dalam rantai pasok baterai global.
“Kalau kita ingin mineral-mineral kita memang betul-betul digunakan dalam industri baterai, maka kita harus terjun langsung di dalam pengembangannya,” kata Aditya, saat talkshow secara daring dengan tema “Hilirisasi Nikel dan Optimasi Nilai Tambah Dalam Negeri”, Senin (14/9).

Dia menjelaskan, saat ini baterai LFP memang mendominasi bauran teknologi baterai yang telah dikomersialkan. Sementara itu, Indonesia memiliki basis industri nikel yang kuat dan tengah mengembangkan rantai nilai baterai berbasis Nickel Manganese Cobalt (NMC).
Aditya menilai NMC masih memiliki ruang pengembangan, terutama melalui teknologi dengan kandungan nikel lebih tinggi, seperti NMC 811 dan NMC 955.
Pengembangan tersebut diarahkan untuk meningkatkan tegangan, kecepatan pengisian, power density, serta stabilitas baterai. Teknologi single-crystal NMC juga dinilai dapat meningkatkan stabilitas sekaligus membuat baterai lebih compact.
“Masih terbuka ruang untuk pengembangan NMC ke depan,” ujarnya.
BESS Jadi Motor Pertumbuhan Baru
Aditya melihat, selain kendaraan listrik (EV), pertumbuhan industri baterai ke depan akan semakin ditopang oleh kebutuhan Battery Energy Storage System (BESS). Ada dua penggerak utama pertumbuhan baterai global, yakni transisi energi dan ekonomi digital.
Dalam transisi energi, baterai dibutuhkan untuk mendukung integrasi energi terbarukan ke dalam jaringan listrik serta mendorong peralihan kendaraan berbahan bakar fosil menuju kendaraan listrik.
Sementara dalam ekonomi digital, kebutuhan baterai meningkat seiring pesatnya pembangunan pusat data atau data center. Fasilitas tersebut membutuhkan sistem penyimpanan energi dengan kapasitas besar untuk menjaga keandalan pasokan listrik.
“Dengan adanya digital economy, ada permintaan baru yaitu dari data center. Data center memerlukan baterai, khususnya Battery Energy Storage System,” jelas Aditya.
Menurutnya, volume kebutuhan BESS berpotensi mencapai sekitar 30 kali lipat pada 2035 dibandingkan 2023. Dengan demikian, BESS diperkirakan menjadi salah satu segmen dengan pertumbuhan paling pesat dalam industri baterai global.
Aditya menambahkan, perkembangan teknologi baterai tidak berhenti pada LFP dan NMC. Teknologi sodium-ion dan solid-state battery juga terus dikembangkan.
Sodium-ion diperkirakan memiliki peluang besar untuk digunakan pada BESS. Teknologi ini dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan penyimpanan energi yang diproyeksikan meningkat tajam.
Di sisi lain, solid-state battery menjadi salah satu teknologi yang tengah diperebutkan oleh negara dan perusahaan baterai dunia.
Menurut Aditya, teknologi solid-state memiliki peluang besar untuk menggunakan katoda berbasis nikel dengan konsentrasi tinggi. Sementara itu, material silikon juga berpotensi digunakan pada sisi anoda.
“Artinya masih ada chance bahwa mineral-mineral Indonesia ini masih bisa mewarnai, sangat bisa mewarnai teknologi baterai masa depan,” katanya.
Dia menilai Indonesia harus mengambil posisi lebih aktif dalam perkembangan teknologi tersebut. Jika hanya menunggu, desain teknologi masa depan berpotensi lebih banyak diarahkan pada bahan baku yang lebih mudah diperoleh negara-negara pengembang teknologi.
Aditya mencontohkan China dan Jepang yang kini sama-sama agresif mengembangkan solid-state battery. China bahkan membangun platform kolaborasi yang melibatkan industri baterai dan dukungan pemerintah.
“Kalau kita ada dua pilihan, apakah kita wait and see atau kita memang ikut masuk ke dalamnya. Kalau saya pribadi berpendapat kita harus masuk ke dalamnya,” ujarnya.
IBC Integrasikan Rantai Nilai Baterai
Dalam pengembangan ekosistem baterai, Indonesia Battery Corporation (IBC) memiliki mandat untuk membangun industri baterai yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Wilayah kerja IBC saat ini terutama berada pada segmen midstream hingga recycling.
IBC telah memiliki portofolio bersama CBL di sektor midstream dan downstream. Di sektor downstream, IBC memiliki 30 persen saham PT HLI Green Power yang mengoperasikan fasilitas produksi baterai di Karawang.
Pabrik tersebut telah beroperasi sejak Juni dan memiliki kapasitas awal sekitar 6,9 GWh. Kapasitasnya tengah dikaji untuk diperluas hingga setidaknya 15 GWh. Total investasi untuk pengembangan fasilitas baterai hingga kapasitas 15 GWh diperkirakan mencapai US$1,2 miliar.
Sementara itu, fasilitas material baterai di Halmahera memiliki kapasitas sekitar 30.000 dan nilai investasi sekitar US$600 juta. Proyek tersebut juga dikembangkan bersama CBL. Pabrik baterai di Karawang merupakan kawasan terintegrasi yang mencakup fasilitas produksi sel dan packing.
“Produk yang dihasilkan nantinya digunakan untuk kendaraan listrik dan sebagian untuk BESS,” ujarnya.
Pengembangan industri baterai nasional juga diarahkan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia Indonesia. Sekitar 600 pegawai telah mendapatkan pelatihan di China untuk mendukung pengoperasian fasilitas baterai di Karawang.
“Knowledge transfer berjalan, ada 600 pegawai yang di-training di China agar bisa mengoperasikan pabrik ini,” katanya.
Selain penguatan sumber daya manusia, aspek keberlanjutan juga menjadi bagian penting dari pengembangan industri baterai. IBC berencana memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas 18 MWp di fasilitas Karawang pada 2027.
ESG Jadi Syarat Wajib
Aditya menegaskan aspek environmental, social, and governance (ESG) bukan lagi sekadar pilihan dalam industri baterai. Menurutnya, produk baterai yang tidak memenuhi standar ESG berisiko kehilangan daya saing di pasar global.
“ESG untuk baterai itu adalah sebuah keharusan,” tegasnya.
Dia menjelaskan pengukuran emisi tidak bisa dilakukan hanya pada satu mata rantai, seperti fasilitas baterai atau material baterai. Penghitungan harus dilakukan dari hulu hingga hilir melalui pendekatan Life Cycle Assessment (LCA).
Karena itu, IBC mengembangkan bauran energi bersih di sejumlah fasilitasnya, termasuk pemasangan PLTS di pabrik Karawang dan rencana penggunaan energi bersih di fasilitas material baterai. Selain itu, aktivitas recycling akan menjadi bagian penting untuk mengurangi jejak karbon sepanjang siklus hidup baterai.
“Kombinasi penggunaan energi bersih dan recycling diharapkan dapat meningkatkan daya saing baterai Indonesia, khususnya ketika berhadapan dengan pasar global yang semakin sensitif terhadap isu ESG,” tegas Aditya.
Industri Baterai Jadi Industri Strategis
Lebih jauh, Aditya menilai pengembangan industri baterai tidak hanya akan memberikan manfaat bagi komoditas nikel. Industri tersebut juga berpotensi menciptakan permintaan baru terhadap aluminium dan tembaga.
Dia menyebut sekitar 23% komponen baterai berasal dari aluminium, sementara sekitar 18% merupakan tembaga. Dengan demikian, pembangunan industri baterai yang terintegrasi dapat memperluas manfaat hilirisasi mineral Indonesia dan tidak hanya bergantung pada nikel.
“Kalau kita punya industri yang sovereignty, yang maju, yang berdaulat, kita juga punya kesempatan untuk mendapatkan dampak ekonomi yang lebih besar lagi dari komoditas-komoditas lainnya, tidak hanya nikel,” ujar Aditya.
Menurut dia, kombinasi antara perkembangan teknologi, pertumbuhan EV, ekspansi BESS, kebutuhan data center, serta transisi energi membuat industri baterai layak ditempatkan sebagai salah satu industri strategis dan prioritas Indonesia.
Aditya menekankan kunci utama agar Indonesia dapat mempertahankan peran nikel dalam industri baterai adalah inovasi dan daya saing.
“Kalau kita ingin menjalankan story nikel, maka kita tetap harus membuat ini lebih kompetitif melalui inovasi,” pungkasnya. bj3/dan






