BISNISJATIM.ID – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, meluruskan polemik yang berkembang di masyarakat terkait keterlibatan pelaku usaha dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan bahwa program ini tetap merangkul seluruh ekosistem UMKM, namun pembagian perannya disesuaikan dengan skala dan kapasitas modal masing-masing.
Maman menjelaskan, anggapan bahwa program MBG menutup ruang bagi pelaku usaha kecil bersumber dari kesalahpahaman dalam mendefinisikan UMKM. Padahal, klaster UMKM mencakup tiga skala berbeda: mikro, kecil, dan menengah. Untuk pengelolaan unit dapur MBG sendiri, pemerintah memang mengalokasikannya bagi pelaku usaha menengah karena faktor kebutuhan investasi yang besar.
“Selama ini banyak yang salah memahami seolah-olah UMKM hanya usaha mikro dan kecil. Padahal UMKM terdiri dari usaha mikro, kecil, dan menengah. Untuk dapur MBG memang diperuntukkan bagi usaha menengah,” ujar Maman, dikutip Kamis (16/7/2026).
Kebutuhan Modal Dapur Capai Miliaran Rupiah
Alasan utama pengelolaan dapur tidak diserahkan kepada pelaku usaha mikro dan kecil adalah faktor finansiil dan kapasitas produksi. Maman mengungkapkan bahwa untuk membangun satu unit dapur MBG yang representatif, dibutuhkan investasi yang tidak sedikit.
“Satu unit dapur MBG membutuhkan modal sekitar Rp1,5 miliar hingga Rp3 miliar, sehingga sulit dipenuhi oleh pelaku usaha mikro maupun kecil. Kalau pengelolaan dapur ini diserahkan kepada usaha mikro dan kecil, mereka belum mampu dari sisi permodalan,” katanya.
Usaha Mikro dan Kecil Pegang Peran Strategis di Sektor Hulu
Meski pengelolaan dapur dipegang oleh usaha menengah, Maman membantah keras jika program andalan pemerintah ini hanya menguntungkan satu pihak. Pemerintah telah merancang ekosistem MBG agar manfaat ekonominya mengalir luas ke sektor hulu melalui keterlibatan usaha mikro dan kecil sebagai pemasok utama (supplier).
Pelaku usaha mikro dan kecil memiliki peluang besar untuk menyuplai berbagai kebutuhan logistik dapur, mulai dari telur, daging ayam, sayuran segar, bumbu dapur, hingga komoditas pangan lokal lainnya.
“Ekosistem MBG membuka ruang bagi usaha mikro, kecil, dan menengah. Ada pemasok telur, ayam, bumbu dapur, sayuran, dan berbagai produk lainnya yang bisa ikut terlibat sesuai kapasitas usahanya,” tambah Maman.
Melalui strategi penyesuaian skala usaha ini, pemerintah berharap Program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan dengan standar operasional yang optimal sekaligus menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang nyata bagi pertumbuhan ekosistem UMKM nasional dari hulu ke hilir. (VKG)






