BISNISJATIM.ID – Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong perluasan akses pasar global bagi produk halal Indonesia.
Tujuannya guna mengoptimalkan potensi industri halal nasional yang terus berkembang.
Upaya tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kontribusi produk halal Indonesia di pasar internasional.
Hal tersebut disampaikan Wamendag Roro saat menutup International Halal Brands and Food Expo (IHBF) 2026 di Hall 8 Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Tangerang, Banten, Minggu (31/5/2026).
“Di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global saat ini, Indonesia harus menjadi negara yang tangguh (resilient). Oleh karena itu, Kemendag terus berupaya membuka akses pasar melalui kerja sama dan perjanjian dagang dengan berbagai negara agar peluang ekspor bagi pelaku usaha Indonesia makin luas,” ujar Roro.
Menurut dia, pemerintah terus mendorong pembukaan pasar baru di berbagai kawasan potensial, seperti Amerika Latin, Afrika, Amerika Utara, dan kawasan lainnya.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan produk-produk Indonesia, termasuk produk halal dapat makin diterima di pasar global.
Roro menjelaskan, potensi ekonomi halal dunia terus menunjukkan tren peningkatan.
Berdasarkan berbagai proyeksi global, nilai pasar halal dunia mencapai USD 3,2 triliun pada 2025.
Oleh karena itu, Indonesia perlu meningkatkan pemanfaatan peluang tersebut melalui penguatan daya saing dan ekspor produk halal.
Lebih lanjut, Roro mengungkapkan bahwa kinerja ekspor produk halal Indonesia menunjukkan perkembangan positif.
Pada 2025, nilai ekspor produk halal Indonesia mencapai USD 63,42 miliar, sementara impor produk halal sebesar USD 12,24 miliar.
Dengan demikian, Indonesia membukukan surplus perdagangan produk halal sebesar USD 51,17 miliar.
“Meski neraca perdagangan produk halal kita sudah mencatatkan surplus yang positif, kami berharap capaian ekspor tersebut dapat terus meningkat sehingga produk halal Indonesia makin mendominasi pasar global,” imbuh Roro.
Berdasarkan data Kemendag, ekspor produk halal Indonesia pada periode Januari-Maret 2026 mencapai USD 15,64 miliar atau meningkat 2,52 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Adapun struktur ekspor produk halal Indonesia masih didominasi oleh kelapa sawit dan turunannya senilai USD 34,16 miliar.
Diikuti produk fesyen muslim sebesar USD 8,67 miliar, serta bahan kimia untuk kosmetik halal yang mencapai USD 5,46 miliar.
Sementara itu, negara tujuan utama ekspor produk halal Indonesia antara lain Tiongkok dengan nilai USD 10,73 miliar dan Amerika Serikat (AS) sebesar USD 10,16 miliar.
Berikutnya, India senilai USD 5,07 miliar, dan Malaysia yang mencapai USD 3,21 miliar.
Untuk mendukung peningkatan ekspor, lanjut Roro, Kemendag terus memperkuat berbagai instrumen fasilitasi perdagangan yang salah satunya melalui program usaha mikro, kecil, dan menangah (UMKM) BISA Ekspor.
Pada Januari-April 2026, UMKM BISA Ekspor mencatat 278 kegiatan yang terdiri atas 146 pitching dan 132 pertemuan dengan buyer.
Kegiatan tersebut melibatkan 552 pelaku usaha dan menghasilkan capaian transaksi sebesar USD 107,34 juta yang terdiri atas pesanan pemberlian (purchase order) sebesar USD 11,72 juta dan potensi transaksi senilai USD 95,62 juta.
Roro mengungkapkan, Kemendag juga mendorong pelaku usaha memanfaatkan platform digital Inaexport sebagai etalase produk Indonesia di pasar internasional.
Tidak hanya itu, pelaku usaha dapat memperoleh pendampingan melalui Export Center yang saat ini telah hadir di Surabaya, Makassar, Batam, dan Balikpapan. (fia)






