BISNISJATIM.ID – Pemulihan pasar otomotif nasional dinilai belum sepenuhnya mencerminkan membaiknya daya beli masyarakat. Meski penjualan mobil nasional mengalami lonjakan pada April 2026, segmen konsumen kelas menengah disebut masih menghadapi tekanan cukup besar.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), wholesales mobil nasional atau distribusi kendaraan dari pabrikan ke diler mencapai 80.776 unit pada April 2026. Angka tersebut meningkat 55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan penjualan itu terjadi setelah pasar otomotif sempat melambat pada Maret 2026 akibat momentum Lebaran. Aktivitas pembelian masyarakat dan distribusi kendaraan sempat tertahan selama periode libur panjang.
Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, Kukuh Kumara mengatakan kondisi pasar otomotif saat ini belum sepenuhnya sehat. Menurutnya, konsumen kelas menengah masih cenderung menahan pembelian kendaraan baru.
“Sementara kalau dari yang konvensional, yang kelas menengah kan masih tertekan ya,” kata Kukuh, dikutip Selasa (12/5/2026).
Tekanan terhadap kelas menengah membuat penjualan mobil berbahan bakar bensin belum mampu bangkit secara signifikan. Konsumen disebut masih lebih berhati-hati dalam melakukan pembelian bernilai besar di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.
Di sisi lain, pertumbuhan penjualan justru lebih banyak ditopang kelompok masyarakat yang sudah memiliki kemampuan finansial kuat dan sebelumnya telah memiliki kendaraan.
“Jadi kembali lagi, yang pembelinya adalah orang-orang yang punya uang,” ujarnya.
Gaikindo mencatat selama Januari hingga April 2026, total wholesales mobil nasional mencapai 289.787 unit atau tumbuh 12,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara retail sales atau penjualan dari diler ke konsumen mencapai 287.581 unit atau naik 6,9 persen.
Meski tren penjualan mulai menunjukkan peningkatan, Kukuh menilai industri otomotif masih membutuhkan dorongan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat agar pasar benar-benar pulih.
“Jadi kalau itu pertumbuhannya di atas 5% itu ada positif, tapi kalau di 5% itu cenderung stagnan,” katanya.
Menurutnya, industri otomotif nasional akan lebih sehat apabila pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu berada di atas 6 persen dan didukung sektor riil yang kuat.
“Jadi perlu pertumbuhan di atas 5%, di atas kalau bisa sih 6% ya. Mudah-mudahan 6% nya juga 6% yang berkualitas juga kan, yang tumbuhnya itu didasari pada sektor-sektor riil gitu,” tutup Kukuh. (XYW)






