Bisnisjatim.id, Surabaya – PT Bogasari Flour Mills mengawali tahun 2026 dengan catatan pertumbuhan penjualan di kawasan Indonesia Timur dengan moncer. Sepanjang Januari hingga Februari 2026, penjualan tepung terigu tercatat naik 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Vice President Marketing Bogasari Wilayah Indonesia Timur, Yulius Ronadi, mengatakan peningkatan tersebut didorong tingginya permintaan pasar dari dua segmen utama, yakni industri manufaktur dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Menurut Yulius, salah satu produk yang mencatat lonjakan permintaan signifikan adalah tepung terigu merek Kunci Biru. “Permintaan Kunci Biru kemasan 1 kilogram naik lumayan tinggi. Selain itu, pabrik-pabrik biskuit juga banyak yang memesan kemasan 25 kilogram. Ini menjadi pendorong utama pertumbuhan di dua bulan pertama tahun ini,” ujar Yulius, Rabu (4/2/2026).
Ia menjelaskan, struktur konsumen perusahaan hingga kini masih didominasi sektor UMKM yang menyerap sekitar 60 hingga 65 persen dari total pasokan. Sementara itu, sektor industri menyerap 20 hingga 25 persen, dan sisanya berasal dari kategori konsumen kecil lainnya.
Secara geografis, pasar terbesar di wilayah Indonesia Timur masih bertumpu pada Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan kontribusi sekitar 70 persen. Adapun 30 persen sisanya tersebar di Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua.
Meski mencatat pertumbuhan positif, perusahaan tetap mencermati dinamika global yang berpotensi memengaruhi biaya distribusi. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya penutupan jalur pelayaran strategis yang menampung sekitar 20 persen peredaran minyak dunia, dinilai berdampak langsung pada kenaikan biaya logistik atau freight cost.
Yulius menjelaskan, gangguan jalur perdagangan tersebut memaksa kapal-kapal pengangkut mengalihkan rute pelayaran melalui Tanjung Harapan di Afrika. “Dampaknya pasti ke freight cost. Kapal harus memutar lewat Tanjung Harapan di Afrika. Ini tentu berpotensi menaikkan biaya distribusi karena rute yang lebih jauh,” katanya.
Kendati demikian, Bogasari tetap optimistis tren permintaan di awal tahun menjadi sinyal positif bagi kinerja sepanjang 2026, dengan tetap memperhitungkan tantangan eksternal yang dapat memengaruhi rantai pasok dan biaya operasional.(kar)







