Surabaya, BisnisJatim.Id – Menjelang tutup tahun 2025, pasar properti terutama secondary market terjadi anomali. Meskipun demand sewa properti terjadi peningkatan signifikan menyusul masuknya banyak investor asing terutama dari China.
Investor asal China sedang gencar mencari dan memperluas market atas produksi manufaktur mereka yang terdampak atas kebijakan tarif dagang Presiden Trumph. Namun begitu, harga sewa tetap stagnan atau tidak mengalami kenaikan secara signifikan.
Rudy Sutanto, Penasehat DPD AREBI Jatim, mengatakan, sejak tahun 2024 hingga 2025, banyak investor China yang melakukan ekspansi bisnisnya. Mereka mencari pasar terbaik di banyak negara termasuk di Indonesia yang merupakan pasar potensial dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa. Sehingga mereka banyak yang datang kesini.
Hal ini tentu menyebabkan demand sewa properti khususnya ruko dan pergudangan naik signifikan. Namun sayang, pertumbuhan demand tidak linier dengan harga sewa properti yang masih stagnan. Tidak mengalami kenaikan yang signifikan. Hal ini karena supplai properti yang di sewakan juga banyak.
“Trend sewa properti oleh asing akan meningkat sudah kami prediksi sejak tiga tahun lalu. Dan sekarang sejak 2024 meledak” papar Rudy saat ditemui di kantornya, Rabu (3/12).

Dikatakan, kondisi anomali ini akan tetap bertahan hingga batas waktu yang belum bisa dipastikan. Pasalnya, para investor properti hingga saat ini juga masih enggan membeli properti. Mereka banyak membelanjakan modalnya di instrument investasi lain yang lebih menjanjikan dan lebih likuid seperti emas dan saham.
Banyak pemain properti yang sekarang mengalihkan dananya ke emas dan membeli beragam saham yang harganya banyak terkoreksi. Karena dinilai lebih banyak memberikan cuan yang lebih cepat dibandingkan dengan bermain di properti.
Kapan anomali ini akan berakhir? Pria ramah ini mengaku, anomali ini akan berakhir jika para investor properti kembali aktif dan tertarik membeli properti baik ruko, rumah maupun gudang. Dan menjadikan properti sebagai pilihan utama untuk investasi bagi mereka selain emas dan saham.
“Kondisi ini kami perkirakan akan terjadi pada tahun 2027. Itu dengan catatan, harga properti terutama ruko dan gudang harganya tetap berkisar seperti tahun 2024 atau 2025. Sebab mereka akan berhitung, yield sewa properti harus lebih tinggi dari kenaikan harga emas dan saham. Sehingga cuan yang didapat dari sewa atau capital gain properti lebih tinggi,” ungkap mantan Ketua DPD AREBI Jatim ini.
Rudy yang juga Principle Java Property CitraLand yg berlokasi di Bisnis Center TPR blok B/14 Surabaya ini mengaku, saat ini harga sewa properti hunian juga mengalami koreksi penurunan. Dia menggambarkan, harga sewa apartemen middle class 2 BR dengan luasan dibawah 60 m2, berkisar 30 -40 juta per tahun. Sementara yang middle-up class masih stabil tapi ada tendensi akan mengikuti harga market bila owner merasa berat membayar Maintenance fee.
Sedangkan untuk pergudangan, yang paling banyak dicari investor kelas menengah yang ukurannya antara 360-500 m2. Harga sewanya berkisar antara Rp 125 -200 juta per tahun atau hitungan sewa Rp 5.000/ meter, tergantung luasan dan lokasinya. Semakin strategis dan aksesnya mudah akan semakin mahal.
Untuk ruko, yang paling banyak dicari luasan 150 – 200 m2 tiga lantai dengan harga sewa antara Rp 100-250 juta per tahun, semua tergantung lokasi . Sedangkan Gudang Industri dengan luasan 2.000 – 5.000 m2, start harga sewanya berkisar mulai Rp 750 jutaan atau lebih. Tergantung lokasinya.
“Market atau target market sewa ini menjadi rebutan antara pengusaha lokal dan asing. Sedangkan lokasinya ada di Surabaya dan sekitarnya seperti Gresik, Sidoarjo, Mojokerto dan Pasuruan,” tutup Rudy yang hobi Koleksi Batik Tulis. BJ3







