HeadlineKeuanganPasar Modal

IHSG Tembus 7.214, Asing Suntik Rp 2 Triliun ke Bursa RI

×

IHSG Tembus 7.214, Asing Suntik Rp 2 Triliun ke Bursa RI

Sebarkan artikel ini

Jakarta, BisnisJatim.Id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 7.214 pada Jumat (23/5), naik 1,4 % dibandingkan pekan lalu. Lonjakan ini disokong net buy asing Rp 2 triliun di pasar reguler, angka tertinggi dalam lima minggu terakhir dan lebih dari dua kali rata-rata inflow mingguan sejak April.

Di sisi lain, secara teknikal IHSG saat ini sudah bergerak di atas level 7.000 yang menandakan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

“Meskipun begitu investor juga harus tetap waspada, karena ada resistance penting di level 7.400, yang sebelumnya menjadi area yang diuji berkali-kali, sebelum akhirnya IHSG mencetak all time high di level 7.800 pada September 2024 lalu,” tegas Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, Senin (26/5).

David menegaskan pergerakan IHSG pada pekan lalu dipengaruhi sentimen global dan domestik. Dari global, ada sentimen kebijakan tarif Donald Trump dan harga emas. Diketahui, Presiden Trump telah mengumumkan tarif impor sebesar 50% terhadap produk Uni Eropa mulai 1 Juni 2025, dengan alasan ketidakseimbangan perdagangan dan hambatan perdagangan yang tidak adil dari pihak EU. Inggris sendiri dikecualikan dari kebijakan ini karena telah menyepakati perjanjian perdagangan pasca-Brexit dengan AS.

Sementara itu terkait sentimen harga emas, ketidakpastian ekonomi global mendorong investor mencari aset safe haven seperti emas. Akibatnya, permintaan emas meningkat tajam, dengan pengeluaran global untuk emas mencapai 0,5% dari PDB dunia, tertinggi dalam 50 tahun terakhir. Harga emas saat ini ada potensi untuk kembali ke all time high.

Selanjutnya dari domestik ada sentimen suku bunga Bank Indonesia (BI), dimana pada 21 Mei 2025 lalu Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%, setelah mempertahankan suku bunga selama tiga pertemuan sebelumnya. Langkah ini diambil untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang melambat, dengan pertumbuhan kuartal I 2025 sebesar 4,87%, serta untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal. BJ1