HeadlineIndustriPerdagangan

Pasar Ekspor Turun, Surabaya International Jewellery Fair 2026 Bisa Dongkrak Penjualan Domestik

×

Pasar Ekspor Turun, Surabaya International Jewellery Fair 2026 Bisa Dongkrak Penjualan Domestik

Sebarkan artikel ini

Surabaya, BisnisJatim.Id – Industri perhiasan nasional berupaya menggenjot penjualan di pasar domestik untuk mengimbangi perlambatan ekspor yang dipengaruhi kondisi geopolitik global. Penguatan pasar dalam negeri dinilai menjadi salah satu strategi untuk menjaga pertumbuhan industri perhiasan di tengah ketidakpastian pasar internasional. Salah satunya dengan menggelar event bertajuk Surabaya International Jewellery Fair 2026.

Direktur Jendral Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian RI, Ir. Reni Yanita M.Si, mengatakan kinerja ekspor perhiasan Indonesia mengalami perlambatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, kondisi tersebut tidak seharusnya membuat pelaku industri kehilangan optimisme.

“Kalau catatan yang ada, ekspor kita dibandingkan periode yang sama tahun lalu memang agak perlambatan. Ini jangan sampai membuat kita lesu, tetapi justru menjadi tantangan bagaimana menjaga pertumbuhan seperti tahun-tahun lalu,” ujar Reni, disela pembukaan Surabaya International Jewellery Fair 2026 di Shangrila Hotel, Surabaya, Kamis (15/10).

PAMERAN PERHIASAN: Dirjen IKMA Kemenpering, Renni Yanita M.Si (tuju dari kanan) foro bersama usai pembukaan acara Surabaya Jewellery Fair 2026 di Shangrila Hotel Surabaya. Acara menarik ini diikuti 82 peserta baik industri besar, IKM maupun permesinan. Foto HAN

Menurut Renny, dinamika geopolitik turut memengaruhi kondisi pasar perhiasan global. Pada periode Januari – Juli 2025 nilai ekspor dan perhiasan mencapai USD 5 miliar. Namun tahun 2026, periode yang sama mencapai USD 3,35 miliar.

Hingga semester I/2026, ekspor perhiasan Indonesia terjadi penurunan hingga 30 persen. Untuk itu, pemerintah berkeinginan mengejar peningkatan penjualan di dalam negeri dalam kurun wkatu 2-3 bulan kedepan hingga akhir tahun 2026.

“Kami berharap pelaku usaha tidak menunda pengiriman ekspor. Jika menghadapi hambatan di lapangan, pelaku industri diharapkan segera berkomunikasi dengan pemerintah agar kendala tersebut dapat ditangani. Inilah pentingnya terus berkomunikasi,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga mendorong melakukan diversifikasi pasar ekspor. Sejumlah pasar nontradisional, seperti Afrika dan Turki, dapat menjadi alternatif untuk memperluas tujuan ekspor emas dan perhiasan Indonesia selain Timur Tengah  yang menjadi market utama.

“Selama ini ekspor emas dan perhiasan terbesar ke Timur Tengah. Itu hampir 60 persen dari total ekspor emas dan perhiasan. Dengan adanya penutupan selat Hormuz dan geo-politik yang belum berakhir dampaknya sangat terasa,” kata Reni.

Pemerintah juga memastikan ketersediaan bahan baku. Keberadaan bullion bank dinilai menjadi salah satu instrumen yang dapat mendukung kebutuhan bahan baku industri perhiasan. Selain itu, pemerintah juga mengenakan bea tinggi ekspor bahan baku emas.

“Perhiasan itu rantainya banyak, ekosistemnya juga banyak. Kita punya desainer yang bagus dan produsen yang memiliki pasar ekspor. Namun, kalau tidak didukung bahan baku yang terjamin kualitas dan kuantitasnya, hasilnya tidak akan optimal,” kata Renny.

Tinjau Stand: Renni Yanita, M.Si (dua dari kiri) bersama Iskandar Husen meninjau salah satu peserta pameran perhiasan bertajuk Surabaya International Jewellery Fair 2026 di Shangrila Hote Surabaya. Foto HAN

Saat ini Indonesia masih berada di kelompok 17 besar negara eksportir perhiasan dunia. Diperlukan dukungan insentif pemerintah yang lebih atraktif, penguatan pasokan bahan baku, serta perluasan akses pasar.

Sementara itu, Iskandar Husin, Sekjen Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI),  menilai desain menjadi salah satu faktor utama yang menentukan daya saing industri perhiasan saat ini. Perubahan desain secara berkala diperlukan agar produk tetap menarik bagi konsumen.

Kenaikan harga emas juga mendorong pengrajin beradaptasi dengan menghadirkan perhiasan yang lebih ringan. Strategi tersebut memungkinkan konsumen tetap membeli perhiasan dengan menyesuaikan anggaran, tanpa mengabaikan kualitas dan standar yang berlaku.

“Sekarang persaingan industri perhiasan ini ada di desain. Desain harus punya nilai jual. Dengan harga emas yang cukup tinggi, pengrajin menyiasatinya dengan desain yang lebih ringan dan kadar yang disesuaikan pasar, sepanjang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI),” ujarnya.

Husen menambahkan, perubahan desain dapat disertai pengurangan bobot produk. Perhiasan yang sebelumnya berbobot 10 gram, misalnya, dapat dikembangkan menjadi produk dengan bobot sekitar 4 gram melalui desain yang berbeda. Dengan demikian, konsumen memiliki lebih banyak pilihan sesuai daya beli.

Dari sisi pasar, pameran perhiasan juga diharapkan menjadi sarana untuk memperkuat transaksi domestik sekaligus menjaga aktivitas industri kreatif, khususnya industri kecil dan menengah (IKM). Bertambahnya peserta dari sektor permesinan perhiasan menunjukkan masih adanya kebutuhan pelaku usaha terhadap pemasok peralatan dan teknologi produksi.

Dalam pameran yang dibahas tersebut, penyelenggara mencatat sekitar 82 peserta, termasuk dari sektor permesinan perhiasan. Adapun target pengunjung ditetapkan sebanyak 10.000 orang, setelah penyelenggaraan sebelumnya mencatat sekitar 12.000 pengunjung. Surabaya International Jewellery Fair 2026 digelar tanggal 15 – 18 Oktober 2026.

“Aktivitas pameran seperti ini dapat membuka peluang pertemuan antara produsen, pemasok, dan pembeli, sekaligus mendorong pelaku IKM mempertahankan kreativitas di tengah kondisi ekonomi yang menantang,” tutup Iskandar. bj5/hen