Jakarta, BisnisJatim.Id – Bank Indonesia (BI) menyebut pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi kekhawatiran terhadap meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang menjaga harga minyak dunia berada di atas 100 dolar AS per barel.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan tingginya harga minyak tersebut meningkatkan risiko inflasi global sekaligus memberikan tekanan terhadap prospek fiskal.
“Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik,” ujarnya dalam kerangan resminya.

Menurut Erwin, BI terus melakukan langkah stabilisasi di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan secara baik sekaligus menjaga pergerakan rupiah tetap sesuai dengan fundamental perekonomian.
Upaya tersebut dilakukan melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dengan memperkuat strategi operasi moneter yang berorientasi pada mekanisme pasar atau pro-market.
Selain itu, BI meningkatkan efektivitas stabilisasi nilai tukar dan menjaga kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai yang disertai pemberian insentif.
Erwin mengatakan intervensi pasar dilakukan secara konsisten melalui sejumlah instrumen, yakni transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
“Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif, antara lain untuk mendorong arus masuk modal asing dengan mengoptimalkan insentif yang telah diberikan, serta mendiversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT),” katanya.
Erwin menyampaikan pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan perkembangan mata uang negara-negara kawasan. Secara quarter to date (qtd), rupiah tercatat menguat 0,37 persen.
Di sisi lain, posisi cadangan devisa Indonesia turut mengalami peningkatan. Pada akhir Agustus 2026, cadangan devisa tercatat mencapai 146,5 miliar dolar AS.
Sementara itu, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (21/9) sore berada di level Rp17.813 per dolar AS.
Posisi tersebut melemah 0,38 persen dibandingkan kurs JISDOR pada Jumat (18/9) yang tercatat sebesar Rp17.745 per dolar AS. bj5/wan






