EnergiHeadlineMigas

PGEO Bukukan Laba Bersih US$79,6 Juta pada Semester I 2026, Naik 15,5 Persen

×

PGEO Bukukan Laba Bersih US$79,6 Juta pada Semester I 2026, Naik 15,5 Persen

Sebarkan artikel ini

Jakarta, BisnisJatim.Id  – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatatkan kinerja positif sepanjang semester I 2026 dengan membukukan laba bersih sebesar US$79,605 juta atau meningkat 15,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut ditopang oleh pertumbuhan produksi listrik dan implementasi operational excellence di seluruh wilayah kerja perusahaan.

Berdasarkan paparan kinerja keuangan semester I 2026, Selasa (4/8), produksi listrik PGEO mencapai 2.745 gigawatt hour (GWh), tumbuh 13,62 persen secara tahunan. Peningkatan produksi berasal dari hampir seluruh wilayah operasi, antara lain Kamojang, Ulubelu, Lahendong, Karaha, serta kontribusi penuh PLTP Lumut Balai Unit 2 yang mulai beroperasi secara komersial pada akhir Juni 2025.

Kinerja operasional tersebut turut mendorong pendapatan perseroan menjadi US$235,027 juta atau naik 14,7 persen dibandingkan semester I 2025.

Direktur Keuangan PGEO, Fransetya Hasudungan Hutabarat, mengatakan pertumbuhan produksi menjadi fondasi utama peningkatan pendapatan, profitabilitas, dan arus kas perusahaan.

“Pertumbuhan ini mencerminkan keberhasilan kami dalam mengoptimalkan operasi pembangkit untuk memenuhi meningkatnya kebutuhan listrik nasional. Sebagian besar peningkatan laba juga berasal dari kinerja operasional, sementara faktor nonoperasional hanya memberikan tambahan dukungan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, beroperasinya PLTP Lumut Balai Unit 2 serta penyelesaian sejumlah aset produktif baru menjadi bagian dari strategi ekspansi jangka panjang perusahaan. Dampaknya, beban penyusutan meningkat sehingga margin laba kotor (gross profit margin) sedikit turun menjadi 55,5 persen.

“Penurunan margin tersebut merupakan konsekuensi dari investasi yang dilakukan untuk menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar di masa depan,” kata Fransetya.

Sementara itu, Direktur Operasi PGEO Andi Joko Nugroho mengatakan keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari peningkatan produksi, tetapi juga dari kemampuan menjaga operasi pembangkit tetap aman, andal, dan efisien.

Menurutnya, hal tersebut dicapai melalui pengelolaan reservoir yang disiplin, program pemeliharaan yang terencana, serta kolaborasi di seluruh wilayah operasi sehingga utilisasi aset dapat terus dioptimalkan.

Hingga semester I 2026, PGEO membukukan availability factor sebesar 99,71 persen, capacity factor 90,42 persen, serta unplanned outage rate hanya 0,11 persen. Tingkat capacity factor tersebut jauh melampaui rata-rata perusahaan panas bumi global yang berada pada kisaran 75-80 persen.

Di Kamojang, peningkatan produksi didukung tambahan pasokan uap melalui penyambungan make-up well yang menambah sekitar 41 MW sejak Maret 2026. Sementara di Ulubelu, tambahan pasokan uap dari Cluster M sejak Mei 2026 meningkatkan kapasitas listrik sekitar 35 MW yang diiringi optimalisasi jadwal pemeliharaan.

Di sisi lain, Lahendong mampu mempertahankan produksi seiring meningkatnya permintaan listrik dari PLN. Lumut Balai mencatatkan lonjakan produksi lebih dari dua kali lipat setelah Unit 2 beroperasi penuh, sedangkan Karaha menunjukkan tren pemulihan melalui program Karaha Recovery Program.

Andi menegaskan perusahaan akan terus memperkuat keandalan aset, optimalisasi reservoir, budaya keselamatan kerja, serta efisiensi operasional guna menjaga pertumbuhan produksi sekaligus mendukung target pengembangan kapasitas panas bumi jangka panjang.

Dengan fundamental operasional yang semakin kuat, PGEO optimistis mampu mempertahankan pertumbuhan kinerja sekaligus mempercepat pengembangan energi panas bumi sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan energi dan transisi menuju energi bersih di Indonesia. bj3/iqp