HeadlineIndeksUmum

Separuh Telur untuk Adik, Potret 18 Tahun JAPFA for Kids Memutus Rantai Gizi Buruk

×

Separuh Telur untuk Adik, Potret 18 Tahun JAPFA for Kids Memutus Rantai Gizi Buruk

Sebarkan artikel ini

Bisnisjatim.id, Lamongan — Bel istirahat baru saja memecah keheningan di SDN Kemantren, Lamongan. Iqbal Azka (10) bergegas lari menuju ruang kelasnya untuk mengikuti ekstrakurikuler catur. Namun langkahnya sempat tertahan di depan meja guru. Matanya tertuju pada barisan telur rebus yang tersusun rapi bagian dari program peningkatan gizi anak sekolah di daerahnya. Alih-alih mengupas dan memakannya di tempat, Iqbal memasukkan butiran telur itu dengan hati-hati ke dalam tasnya setelah diberikan oleh sang guru.

“Nanti dimakan sama adik di rumah,” katanya dengan senyum malu-malu.

Bagi Musri, Kepala Sekolah SDN Kemantren, pemandangan mengharukan yang ditunjukkan bocah penghobi catur itu bukan lagi hal baru. “Awalnya saya kira anak-anak tidak suka telur. Ternyata sebagian sengaja menyimpannya karena di rumah mereka jarang sekali bisa menyantap lauk berprotein hewani,” ungkap Musri.

Kisah Iqbal adalah potret nyata dari gunung es persoalan gizi anak usia sekolah di Indonesia. Realitas di Lamongan ini berkelindan dengan data nasional. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 11% anak usia 5–12 tahun masih berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Kondisi serupa terekam oleh JAPFA di tujuh lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids pada tahun 2024, di mana sekitar 10,1% siswa masih mengalami kondisi malagizi yang nyata.

Sebagai garda depan pendidikan yang melihat langsung kondisi siswanya, Musri menegaskan bahwa persoalan gizi buruk ini erat kaitannya dengan jerat ekonomi keluarga di sekitar sekolah. “Sebenarnya orang tua tahu protein itu penting. Tapi dengan pendapatan yang terbatas, prioritas mereka adalah makanan yang penting kenyang, bukan bergizi,” jelas Musri.

Temuan merah di lapangan itulah yang kemudian menggerakkan program JAPFA for Kids untuk masuk, memotong mata rantai malagizi dan melakukan intervensi formula kolaborasi di SDN Kemantren. Dampak taktis dari intervensi asupan protein ini pun segera dirasakan langsung di lingkungan sekolah. Anak-anak kini tampil jauh lebih aktif, berani maju ke depan kelas, dan Iqbal sendiri kini memiliki stamina yang prima untuk fokus mengasah taktik caturnya tanpa cepat merasa lelah.

Saat Cinta Ibu Tak Lagi Sebatas Mengisi Perut Anak

Perubahan positif di sekolah tersebut lambat laun ikut merembet ke dalam pola asuh di lingkungan rumah tangga. Ibunda Iqbal, Fitri Retnosari mengaku, lewat pendampingan program ini, dirinya menjadi lebih melek nutrisi dan sadar akan tumbuh kembang anak. “Dulu prinsip saya yang penting anak kenyang nasi. Sekarang saya paham, tanpa telur atau protein, anak-anak tidak bisa tumbuh maksimal,” ujarnya.

Kesadaran baru ini mengubah total kebiasaan belanja dan memasak di dapur rumahnya. Fitri yang dulunya jarang memperhatikan komposisi makanan, kini mulai menyisihkan anggaran belanja mingguan khusus untuk memastikan ketersediaan protein hewani bagi anak-anaknya.

Edukasi yang diterimanya dari penyuluhan program tidak hanya menjadi teori, melainkan komitmen harian untuk memprioritaskan kualitas gizi di atas piring makan, demi menjamin masa depan tumbuh kembang sang buah hati yang lebih optimal.

Menguji Formula Makan Bergizi di Atas Meja Sekolah

Persoalan gizi anak di sekolah memang menyimpan tantangan unik yang membutuhkan perhatian lintas sektor. Pakar gizi masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati membeberkan temuan konkret dari studi lapangan yang memperkuat kondisi tersebut.

Berdasarkan observasi, ditemukan bahwa konsumsi protein hewani pada anak sekolah di tanah air memang masih relatif rendah, kecuali komoditas telur. Ditambah lagi, fakta menunjukkan sebanyak 63% siswa tidak terbiasa membawa bekal dari rumah.

“Kemudian, dari hasil studi menunjukkan bahwa program makan bergizi efektif untuk menurunkan gizi buruk pada anak. Dimana, sebelum program dimulai, masih terdapat 9,7% dari total 1.143 anak yang mengalami gizi buruk, ditandai dari berat badan dan tinggi badan yang tidak sesuai umur,” tambah Prof. Sandra Fikawati.

Namun pasca-program dijalankan secara terintegrasi, jumlah anak dengan status gizi buruk atau gizi kurang berhasil berkurang sebesar 2,8% secara keseluruhan. Hal ini menegaskan keberhasilan nyata dalam meningkatkan asupan gizi siswa, terutama aspek protein dan buah yang krusial bagi tumbuh kembang.

Menariknya, dari ketiga model pemberian makanan bergizi yang diuji di lapangan, model Swakelola mencatatkan tingkat konsumsi tertinggi di antara siswa dengan persentase 84%, diikuti oleh model Ready to Cook (RTC) sebesar 83%.

“Peningkatan kualitas gizi anak memerlukan keterlibatan banyak pihak. Terlebih terhadap pentingnya konsumsi protein hewani, pola makan seimbang, serta pembiasaan perilaku hidup sehat sejak usia dini,” jelasnya.

18 Tahun Komitmen JAPFA Merawat Masa Depan Indonesia

Rentetan dampak positif dan transformasi perilaku yang dirasakan Iqbal, pihak sekolah, hingga orang tua di Lamongan merupakan cerminan dari perjalanan panjang hampir dua dekade program JAPFA for Kids. Hingga tahun 2025, program ini telah membentangkan jangkauan yang luas di seluruh penjuru nusantara, menyentuh 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah yang tersebar di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia.

Keberhasilan program ini terekam jelas lewat tren peningkatan status gizi siswa yang terukur konsisten dari tahun ke tahun. Pada tahun 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa (51,5%) dengan kondisi gizi kurang dan buruk berhasil pulih menuju gizi baik. Tren positif ini melonjak signifikan pada tahun 2025, di mana 646 dari 1.034 siswa sasaran berhasil mencapai status gizi baik, atau mencatatkan tingkat keberhasilan sebesar 62,5%.

Melihat capaian itu, Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, memaparkan strategi di balik layar keberhasilan tersebut. “Dalam implementasinya, JAPFA for Kids menjalankan berbagai strategi terintegrasi, mulai dari pemberian asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi,”ujarnya.

Pemantauan rutin berat dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital, hingga pembiasaan perilaku hidup sehat terus dilakukan melalui program Hari Sehat JAPFA. Program ini juga dilengkapi dengan edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta monitoring berkala guna memastikan dampak program dapat terukur secara konsisten.

Visi besar tentang masa depan Indonesia yang kokoh itu pada akhirnya bermula dari unit terkecil, dapur-dapur keluarga di pelosok daerah. Lingkungan sehat yang dicita-citakan bersama kini telah mewujud nyata di sebuah rumah sederhana di Lamongan. Saat sore merapat dan jam sekolah berakhir, Iqbal berjalan pulang menggandeng erat tangan ibunya. Di meja makan mereka yang bersahaja, telur rebus yang dijaga bocah itu sejak pagi hari akhirnya dikupas. Dengan cermat dan penuh kasih, ia membelah telur itu menjadi dua bagian yang sama besar.

Separuh untuk dirinya, separuh lagi untuk sang adik.

Bagi keluarga kecil Iqbal, sebutir telur memang tidak serta-merta menghapus seluruh tantangan ekonomi yang mereka hadapi. Namun, dari belahan telur itulah sebuah kesadaran baru telah lahir bahwa masa depan generasi penerus bangsa ini tidak boleh hanya dibangun di atas rasa kenyang, melainkan dari hak dasar mereka untuk tumbuh, sehat dan berani bermimpi lebih tinggi. (kar)