Bisnisjatim.id, Pandaan – Kabut tipis khas pegunungan masih menyelimuti kawasan wisata Tretes, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, saat matahari baru saja terbit di ufuk timur. Di saat sebagian besar warga masih terlelap dalam hawa dingin, keriuhan justru sudah dimulai di salah satu sudut RT 09/RW 06 Lingkungan Tretes.
Sejumlah warga, yang didominasi oleh ibu-ibu rumah tangga dan barisan pemuda, tampak sibuk dengan aktivitas yang tidak biasa. Ada yang dengan cekatan memilah sampah plastik berdasarkan jenisnya, ada yang menyiram deretan tanaman hias di sepanjang jalan kampung, dan ada pula yang sedang membersihkan saluran air dari sumbatan sisa-sisa limbah domestik.
Pemandangan ini bukan lagi sebuah pemandangan langka akibat adanya kerja bakti musiman, melainkan sudah menjadi bagian dari urat nadi dan ritme keseharian masyarakat yang terlibat dalam gerakan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Gema Tretes Berseri.
Gerakan yang belakangan sukses menyabet predikat sebagai Desa Berseri ini tidak lahir dari program pemerintah, bukan pula hasil gelontoran modal dari investor besar. Perubahan besar ini justru tumbuh secara organik dari bawah, bermula dari keresahan segelintir warga awam yang digerakkan oleh jemari mereka di atas layar ponsel pintar.
Melalui pemanfaatan konektivitas digital yang tanpa batas, kepedulian terhadap lingkungan yang semula hanya menjadi keluhan sunyi di forum musyawarah, kini bertransformasi menjadi sebuah gerakan kolektif yang masif, terstruktur, dan berdampak nyata bagi kelestarian alam serta kesejahteraan ekonomi warga setempat.
Berawal dari Keresahan yang Menjalar di Grup WhatsApp
Purnomo Wahyu Indianto, seorang pria paruh baya yang sehari-hari menjabat sebagai Ketua RT 09/RW 06 Lingkungan Tretes, merupakan salah satu sosok penting yang mempelopori lahirnya KSM Gema Tretes Berseri. Dengan guratan wajah yang penuh semangat, ia menceritakan latar belakang mendalam mengapa program lingkungan ini akhirnya harus terwujud.
Sebagai destinasi wisata yang sudah sangat melegenda di Jawa Timur, Tretes memang dianugerahi keindahan alam yang memukau dan udara yang sejuk. Namun, popularitas tersebut membawa konsekuensi logis yang tidak sederhana persoalan sampah yang menahun dan tak kunjung menemukan solusi konkret.
“Tretes sebagai daerah wisata mempunyai masalah terkait sampah dari dulu hingga sekarang yang tidak terpecahkan. Setiap akhir pekan atau musim liburan tiba, lonjakan jumlah wisatawan selalu berbanding lurus dengan volume sampah yang ditinggalkan. Jika kita sebagai warga lokal tidak mengolah sampah ini dengan baik, ada banyak efek domino buruk yang langsung dirasakan oleh masyarakat sendiri. Mulai dari penurunan estetika wisata, munculnya sarang penyakit, hingga ancaman bencana alam seperti banjir bandang dan kelongsoran di area lereng berbukit ini,” ungkap Purnomo secara mendalam.
Pada mulanya, diskusi mengenai peliknya persoalan sampah ini hanya menjadi obrolan santai yang berulang di pos ronda atau teras rumah warga. Namun, Purnomo menyadari bahwa obrolan tatap muka memiliki keterbatasan ruang dan waktu. Ia pun mulai menggeser ruang diskusi tersebut ke ranah digital melalui grup WhatsApp warga.
Di ruang siber inilah, ruang komunikasi menjadi lebih dekat dan tanpa sekat. Diskusi sederhana mengenai tumpukan sampah di sudut jalan mulai intens dibahas. Purnomo dan beberapa warga lainnya berinisiatif membagikan foto-foto kondisi lingkungan sekitar, lengkap dengan ajakan untuk mulai bergerak melakukan pembersihan mandiri.
Dokumentasi kegiatan bersih-bersih kecil yang secara konsisten dibagikan di grup WhatsApp dan platform media sosial tersebut ternyata memantik perhatian masyarakat yang lebih luas. Ada efek psikologis positif yang terbangun melihat tetangga mereka bergerak, warga lain pun merasa terpanggil dan sungkan jika hanya berdiam diri.
Dari sinilah terbentuk sebuah kesadaran kolektif yang baru di tengah masyarakat Tretes, bahwa menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan bukanlah melulu menjadi tanggung jawab pemerintah daerah atau dinas kebersihan semata, melainkan sebuah kewajiban mutlak bagi setiap individu yang menghirup udara dan mencari nafkah di tanah Tretes.

Berkah Sinyal Kuat Telkomsel di Wilayah Pegunungan
Menggerakkan massa dan menjaga konsistensi sebuah gerakan sosial di kawasan dataran tinggi seperti Tretes tentu memiliki tantangan geografis yang tidak mudah. Kontur tanah yang berbukit-bukit, lembah yang curam, serta rimbunnya pepohonan sering kali menjadi musuh utama bagi kelancaran sinyal telekomunikasi. Padahal, bagi KSM Gema Tretes Berseri, kecepatan arus informasi dan kemudahan koordinasi digital adalah bahan bakar utama yang menjaga api gerakan ini tetap menyala. Dalam konteks inilah, keberadaan infrastruktur jaringan seluler yang mumpuni memegang peranan yang sangat krusial dan tidak tergantikan.
Purnomo mengakui secara jujur bahwa masifnya perkembangan gerakan peduli lingkungan di wilayahnya sangat bergantung pada koordinasi digital yang didukung oleh kualitas jaringan seluler di kawasan tersebut. Berdasarkan pengalaman nyata warga di lapangan, tidak semua operator seluler mampu menembus pekatnya kabut dan bentang alam di Tretes.
“Kawasan Tretes ini berada di lereng gunung dengan topografi yang berbukit-bukit. Tantangan utamanya sinyal yang sering hilang-timbul. Namun, untungnya, sejauh ini Telkomsel punya jaringan yang paling kuat di Tretes. Sinyalnya sangat stabil dan tidak putus-putus meskipun cuaca sedang memburuk atau posisi warga sedang berada di pelosok gang-gang curam,”ungkapnya.
Karena jaringan Telkomsel yang andal ini, proses kirim foto kegiatan, penyebaran video edukasi cara memilah sampah, hingga koordinasi mendadak untuk agenda kerja bakti lewat grup WhatsApp bisa langsung diterima oleh seluruh warga seketika itu juga tanpa ada kendala delay,” tegas Purnomo.
Kestabilan sinyal dari provider telekomunikasi terbesar di Indonesia ini membuat sekat-sekat geografis di pedesaan berhasil diruntuhkan. Informasi mengenai kelestarian lingkungan tidak lagi eksklusif milik segelintir pengurus RT, melainkan langsung terdistribusi secara merata ke ponsel genggam setiap warga.
Salah seorang warga setempat, Suciana, turut mengamini betapa teknologi dan sinyal yang kuat telah mengubah cara mereka bertetangga dan bergotong royong.”Dulu, sebelum era grup WhatsApp dan sinyal stabil ini meluas, informasi mengenai kegiatan kerja bakti atau penyuluhan lingkungan hanya diketahui oleh beberapa orang saja dari mulut ke mulut. Sering kali informasi terlambat sampai atau salah paham. Sekarang, kondisinya sudah jauh berbeda. Cukup melalui satu pesan yang disebarkan di grup WhatsApp, seluruh warga dari berbagai sudut lingkungan bisa langsung mengetahui jadwal kegiatan secara mendetail dan langsung menyatakan kesiapannya untuk ikut berpartisipasi,” tutur Suciana dengan antusias.
Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa ketersediaan jaringan internet yang kuat di wilayah pelosok bukan lagi sekadar pemenuh kebutuhan gaya hidup atau hiburan semata, melainkan telah bertransformasi menjadi instrumen sosial yang sangat kuat untuk menggalang aksi kemanusiaan dan penyelamatan lingkungan. Serta pengembangan wisata setempat. Selain di Tretes, jaringan kuat Telkomsel juga menyasar tempat pariwisata lainnya seperti I-One Trawas, Glamping Jolotundo di Nganjuk dan beberapa lokasi lainnya.
Hal tersebut sesuai dengan upaya dilakukan Telkomsel untuk memperluas jaringan yang ada. Manager Network VIP, Event and Enterprise Handling Jawa Bali Telkomsel, M. Dwi Sakti Effendie mengatakan Agrowisata Bhakti Alam mengajukan penguatan sinyal seiring rencana re-opening pascapandemi.
“Setelah ada pengajuan, kami langsung tindak lanjuti dengan mengecek kondisi di lapangan. Hasilnya karena punya topologi perbukitan, kami berikan solusi instalasi Easy Macro yang terkoneksi dengan BTS terdekat,” ucapnya.
Perangkat antena yang ditujukan untuk menjangkau area yang membutuhkan perluasan sinyal (new coverage) tetapi tidak membutuhkan infrastruktur yang terlalu kompleks dalam pemasangannya.”Optimalisasi jaringan ini dilaksanakan untuk mensolusikan kebutuhan customer dengan memanfaatkan kolaborasi B2B2C. Selain itu juga berdasarkan analisa trafik historis dan prediksi lonjakan pengguna untuk menjamin efisiensi dan efektivitas investasi infrastruktur jaringan,” lanjutnya.
Dengan hadirnya konektivitas yang andal, Telkomsel turut berkontribusi dalam meningkatkan daya tarik dan daya saing sebagai destinasi wisata berbasis digital dan berkelas nasional. Hal ini juga merupakan bagian dari misi besar Telkomsel dalam memeratakan akses digital dan mempercepat adopsi teknologi di seluruh lapisan masyarakat.
Mengubah Sampah Menjadi Berkah Finansial
Seiring berjalannya waktu, gerakan yang diinisiasi oleh KSM Gema Tretes Berseri tidak lagi sekadar membersihkan kampung dari sampah visual, melainkan telah melangkah jauh ke arah pengelolaan limbah yang lebih profesional dan bernilai guna. Sampah tidak lagi dipandang sebelah mata sebagai tumpukan limbah kotor yang menjijikkan dan harus segera dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau Bank sampah yang telah disediakan.
Di tangan kreatif warga Tretes, sampah kini telah diposisikan sebagai sebuah komoditas baru yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan mampu mendatangkan berkah finansial bagi domestik keluarga.
Berdasarkan data pencatatan rutin yang dilakukan oleh pengurus KSM Gema Tretes Berseri, wilayah RT mereka kini mampu mengelola, memilah, dan mengumpulkan sampah kering (anorganik) serta sampah basah (organik) dengan volume rata-rata mencapai hingga 1,5 ton per bulan.
Angka yang cukup fantastis untuk skala lingkungan di daerah pegunungan. Keberhasilan ini dicapai berkat adanya sistem pemilahan berlapis yang dilakukan langsung dari dapur rumah masing-masing warga. Setiap keluarga diwajibkan memisahkan sampah mereka ke dalam kategori organik, anorganik yang bernilai jual, dan residu.
Dari total volume 1,5 ton sampah yang berhasil dikelola setiap bulannya tersebut, KSM Gema Tretes Berseri mencatat adanya perputaran nilai ekonomis riil yang cukup signifikan, yaitu berkisar antara Rp 1,5 juta setiap bulannya. Pendapatan ini tidak dinikmati secara pribadi, melainkan dialokasikan secara transparan ke dalam kas kelompok untuk mendanai kegiatan sosial, perawatan fasilitas umum kampung, serta sebagian dimasukkan ke dalam buku tabungan Bank Sampah milik masing-masing warga yang dapat dicairkan sewaktu-waktu, misalnya menjelang hari raya.
Dampak kesejahteraan yang nyata ini secara langsung meningkatkan motivasi warga untuk tetap konsisten menjaga lingkungan. “Alhamdulillah, selain lingkungan kampung kami sekarang menjadi jauh lebih bersih, sehat, dan asri dipandang mata, sistem pengelolaan sampah ini juga terbukti mampu menjadi sumber pendapatan ekonomi sirkular baru bagi warga di tengah situasi ekonomi yang menantang,” imbuh Purnomo sembari tersenyum bangga.
Melihat perkembangan yang sangat positif dan mandiri ini, pemerintah daerah pun tidak tinggal diam. Dukungan resmi mulai mengalir mengapresiasi gerakan bottom-up ini. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pasuruan bersama dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur mulai turun ke lapangan untuk memberikan program pendampingan teknis serta edukasi lanjutan guna memperluas skala dampak positif gerakan ini ke tingkat desa-desa tetangga.

Sentuhan Program “Baktiku Negeriku” dan Inovasi Pemuda Desa
Program Desa Berseri di Tretes tersebut, selaras dengan program Corporate Social Responsibility (CSR) unggulan dari Telkomsel, yang bertajuk “Baktiku Negeriku 2026”. Kehadiran program ini bukan sebuah kebetulan, melainkan bagian dari visi besar korporasi yang selaras dengan arah pembangunan nasional Indonesia, khususnya yang mengacu pada poin ke-6 Asta Cita, yaitu membangun dari desa dan dari bawah demi terciptanya pemerataan ekonomi serta pemberantasan kemiskinan di tingkat akar rumput.
Vice President Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel, Abdullah Fahmi, dalam keterangannya menegaskan komitmen mendalam perusahaan di balik program ini “Baktiku Negeriku merupakan wujud nyata komitmen Telkomsel dalam menghadirkan dampak sosial yang berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi digital secara bijak dan produktif,” ujarnya.
Telkomsel sangat mempercayai bahwa program pemberdayaan masyarakat di tingkat pedesaan akan berjalan jauh lebih efektif, adaptif, dan memiliki daya tahan yang lama ketika dilakukan secara kolaboratif, termasuk dengan cara melibatkan langsung karyawan kami sebagai agen perubahan (agents of change) yang dapat membagikan ilmu pengetahuan, literasi teknologi, dan pengalaman industri mereka secara tatap muka kepada warga,” ungkap Fahmi secara tertulis.
Sinergi Teknologi dan Kesadaran untuk Masa Depan Berkelanjutan
Langkah maju yang ditunjukkan oleh warga di kaki Gunung Welirang ini menyingkap sebuah fakta dimana proses transformasi sosial dan perbaikan lingkungan tidak selalu menuntut ketersediaan anggaran yang sangat besar atau fasilitas teknologi tingkat tinggi yang rumit.
Berbekal kepedulian yang tulus dari warga, ikatan semangat gotong royong yang masih mengakar kuat, serta ditopang oleh kehadiran konektivitas digital yang stabil dari jaringan Telkomsel yang memungkinkan arus informasi mengalir tanpa batas geografis, sebuah gerakan kecil di lingkup RT terbukti mampu bermutasi menjadi sebuah perubahan nyata yang berdampak luas.
Bagi kawasan Tretes secara umum, keberhasilan gerakan KSM Gema Tretes Berseri dalam menata lingkungan menjadi lebih asri, hijau dan bebas dari sampah visual memiliki implikasi yang sangat positif terhadap keberlangsungan industri pariwisata lokal.
Lingkungan yang bersih adalah modal paling mendasar untuk menjaga tingkat kepercayaan wisatawan, memperpanjang durasi kunjungan mereka, dan pada akhirnya bermuara pada peningkatan kualitas hidup serta pendapatan ekonomi masyarakat setempat secara berkelanjutan.
Kisah sukses komparatif dari Desa Berseri di Tretes ini hadir laksana oase yang memberikan inspirasi dan harapan baru. Pengalaman berharga ini menjadi bukti yang tidak terbantahkan bahwa kehadiran teknologi digital terdepan tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi visual melainkan memiliki kekuatan magis yang jauh lebih besar yaitu mampu merajut kesadaran manusia, menyatukan frekuensi kepedulian dan mengonversinya menjadi sebuah aksi nyata yang terorganisir demi menciptakan sebuah ekosistem masa depan yang lebih hijau, mandiri, adaptif, dan berkelanjutan untuk generasi yang akan datang.(kar)






