Uncategorized

NEXT Indonesia: 8 Sektor Ini Potensial Serap Kredit Rp 200 Triliun dan Tingkatkan Ekonomi

×

NEXT Indonesia: 8 Sektor Ini Potensial Serap Kredit Rp 200 Triliun dan Tingkatkan Ekonomi

Sebarkan artikel ini

Jakarta, BisnisJatim.Id  – NEXT Indonesia Center merekomendasikan delapan sektor prioritas untuk menerima kucuran kredit senilai total Rp200 triliun. Dana ini berasal dari penempatan pemerintah di bank-bank Himbara dan ditujukan untuk mendorong pemulihan dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, menjelaskan bahwa delapan sektor tersebut dipilih karena memiliki efek pengganda (multiplier effect) tinggi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Berdasarkan simulasi dalam rentang waktu 2014–2024 (tidak termasuk tahun 2020), penyaluran kredit ke sektor-sektor ini dapat mengangkat perekonomian rata-rata 1,44 kali lipat dari nilai kredit.

“Sektor-sektor ini terbukti mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Jika kredit disalurkan secara tepat, potensi peningkatan PDB sektoral bisa lebih dari satu kali lipat,” ujar Christiantoko, Senin (15/9).

Sektor Properti merupakan salah satu sektor yang direkomendasikan Next Indoensia menerima kucuran dana dari pemerintah Rp 200 triliun karena memiliki multiplier efek yang luas dan mampu menggerakan perekonomian. Foto IST

Delapan sektor yang direkomendasikan meliputi:

  1. Industri pengolahan (efek pengganda 1,69)
  2. Pertanian, kehutanan, dan perikanan
  3. Perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor
  4. Penyediaan akomodasi serta makanan dan minuman
  5. Transportasi dan pergudangan
  6. Informasi dan komunikasi
  7. Jasa pendidikan
  8. Real estat dan administrasi pemerintahan

Simulasi dilakukan dengan menggunakan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disesuaikan dengan kategori sektor kredit OJK. Sektor-sektor tersebut dianggap paling efektif dalam mentransmisikan kredit menjadi pertumbuhan ekonomi riil.

Christiantoko mengingatkan pentingnya pengawasan pemerintah dalam penyaluran dana tersebut agar tidak disalurkan secara sembarangan.

“Jangan sampai bank mendapat cek kosong. Penyaluran kredit harus diarahkan ke sektor yang benar-benar produktif dan memberikan dampak langsung ke perekonomian,” paparnya.

Ia juga menambahkan bahwa bukan berarti sektor di luar delapan kategori itu tidak penting, namun kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi cenderung tidak langsung atau memerlukan waktu lebih panjang untuk terasa. BJ3