Jakarta, BisnisJatim.Id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.742 atau melemah tajam -5,16% selama sepekan kemarin. Jika dilihat dari teknikal IHSG menggunakan time frame weekly, IHSG sudah breakdown dari indikator MA200 weekly yang merupakan sinyal bearish.
Namun pergerakan IHSG pada Jumat kemarin menunjukan adanya rejection pada saat IHSG berada di area support dan membentuk candle hammer yang membuat IHSG masih mampu bertahan di area support historikalnya di level 6600 – 6700.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Dimas Krisna Ramadhani memberikan 2 sinyal sekaligus potensi pergerakan IHSG kedepannya. Pertama, dalam jangka pendek IHSG berpotensi untuk mengalami rebound yang ditunjukkan oleh rejection yang terjadi pada Jumat kemarin. Apabila IHSG akan menguat maka MA200 weekly dan resistance historikal menjadi target penguatan IHSG yang berada di level 6880 – 6970.
Kedua, dalam jangka menengah IHSG berpotensi untuk terus melanjutkan pelemahan yang ditunjukan dari chart weekly-nya dengan target penurunan sementara ke level support terdekat sekaligus support kunci di level 6500 – 6600. Selain itu, aliran dana asing yang masih konsisten keluar dari IHSG serta sinyal patah trend yang terjadi di beberapa saham konglomerasi yang selama ini juga menjadi penopang bagi pergerakan IHSG.

Perlu diketahui foreign flow merupakan salah satu indikator yang bersifat leading, artinya sering terjadi ketika investor asing melakukan distribusi (outflow), dalam jangka pendek terjadi hal-hal random yang akan membuat rancu dan membuat seolah distribusi investor asing terlihat “normal”.
Apabila, indikator ini dikonfirmasi dengan teknikalnya (seperti yang terjadi pada IHSG yang baru saja breakdown dari MA200 weekly) di minggu lalu maka kedua data tersebut mengonfirmasi arah pergerakan market kedepannya.
Secara umum pelemahan IHSG pada pekan lalu (3-7 Februari 2025) dipengaruhi oleh 2 top losers, yakni IDX Energy dan IDX Basic Materials. IDX Energy melemah -7,6% dalam sepekan kemarin yang disebabkan karena penurunan saham DSSA yang menjadi kapitalisasi pasar terbesar ke-2 di sektor ini dan ke-8 di IHSG.
Sektor energi sendiri menjadi satu-satunya sektor yang secara trend jangka panjangnya masih bergerak uptrend, berbeda dengan sektor lainnya yang secara trend jangka panjangnya sideways atau bahkan ada yang sudah memasuki downtrend. Namun begitu, pelemahan yang terjadi pada sektor energi di minggu lalu pun juga sama kasusnya seperti IHSG yang sama-sama breakdown dari MA200 weekly-nya.
Selanjutnya IDX Basic Materials dalam sepekan kemarin turun sebesar -5,5% disebabkan oleh penurunan saham TPIA yang menjadi kapitalisasi pasar terbesar ke-5 di IHSG. TPIA turun sebesar -8% pada minggu lalu seiring dengan berita gagal masuknya emiten grup barito lainnya (BREN, CUAN, PTRO) ke dalam indeks MSCI di Februari ini.
Sementara itu yang menjadi top gainers dan menopang IHSG pada pekan lalu (3 – 7 Februari 2025) yakni IDX Technology yang menguat 3,9% dalam sepekan dan menjadi satu-satunya sektor yang mengalami kenaikan. Sektor ini menguat disebabkan oleh kenaikan saham GOTO sebagai leader pada sektor ini sebesar 2,5%. GOTO naik cukup signifikan setelah sempat diberitakan akan mergernya emiten ini dengan Grab yang membuat lonjakan volume dan kenaikan saham signifikan pada 4 Februari dan langsung dibantah oleh pihak emiten pada 1 hari setelahnya. BJ3







