CSRekbisUmum

Menjemput Asa di Kalanganyar, Saat Limbah Duri Bandeng Menatap Masa Depan Ekonomi Sirkular

×

Menjemput Asa di Kalanganyar, Saat Limbah Duri Bandeng Menatap Masa Depan Ekonomi Sirkular

Sebarkan artikel ini

Bisnisjatim.id, Sidoarjo – Bau amis yang menyengat pernah menjadi benteng tak kasat mata di RT 017 RW 004, Desa Kalanganyar, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Dahulu, jangankan bertamu, orang luar kerap enggan menginjakkan kaki ke pemukiman pesisir yang dijuluki Kampung Cabut Duri ini. Di balik stigma kampung kumuh dan aroma yang membuat orang memalingkan muka, tersimpan denyut perjuangan para perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.

Di pelataran rumah-rumah bersahaja, jemari-jemari ibu-ibu Kalanganyar menari dengan cekatan. Menggunakan pinset, mereka mencabut duri halus ikan bandeng satu demi satu sebuah ketelitian tingkat tinggi yang menuntut kesabaran ekstra demi memastikan sepotong daging bandeng siap disantap tanpa halangan.

Salah satu sosok di balik ketangguhan itu adalah Bu Saadah. Sudah sekitar satu decade lebih ia mengabdikan jemarinya untuk pekerjaan ini. Demi sepotong daging bandeng utuh, ia harus menaklukkan tak kurang dari 165 duri dalam setiap ekornya.

“Kalau lagi ramai, sehari saya bisa mengerjakan sampai 90 ekor. Tapi kalau sepi, ya 40 sampai 70 ekor per hari,” tutur Bu Saadah mendeskripsikan dinamika mata pencahariaannya.

Dengan upah jasa berkisar Rp1.500 hingga Rp3.000 per ekor, pendapatan Saadah dan belasan perempuan lainnya memang tidak pernah pasti. Kendati demikian, pekerjaan rumahan ini menjadi penopang nyata dalam menjaga nyala dapur rumah tangga mereka.

Aktivitas mencabut duri di Kalanganyar memiliki sejarah panjang. Menurut Ketua Kampung Cabut Duri sidoarjo, Ahmad Arif Wibowo, tradisi ini bermula sekitar tahun 2002 ketika seorang warga membawa teknik mencabut duri dan menularkannya ke tetangga sekitar. Seiring berjalannya waktu, Kalanganyar bertransformasi menjadi bagian penting dari rantai pasok industri perikanan daerah, menghubungkan para petambak dan pemasok dari berbagai kabupaten di sekitar Sidoarjo, seperti Surabaya, Gresik, hingga Lamongan.

Dilema Lingkungan di Balik Dapur Perekonomian

Ironisnya, aktivitas yang menghidupi warga ini perlahan-lahan menjadi bumerang bagi lingkungan mereka sendiri. Saban hari, literan air bekas cuci ikan, sisa lemak, hingga timbunan duri terbuang begitu saja ke saluran pemukiman tanpa pengolahan. Bau amis tak sedap pun mengepung kampung, memicu ketidaknyamanan bagi siapapun yang melintas. Dilema ini menempatkan warga pada pilihan sulit: mempertahankan mata pencaharian atau membiarkan tempat tinggal mereka makin tercemar dan kumuh.

Titik balik perubahan itu hadir pada 2022. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Juanda mulai merangkul warga Kalanganyar untuk mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat yang diwadahi dalam Usaha Kecil Menengah (UKM) Kampung Cabut Duri (KUCARI). Pendekatan yang dilakukan tidak sekadar memberi bantuan fisik, melainkan diawali dengan dialog mendalam untuk mendengar jeritan hati para pekerja perempuan.

Pertamina merespons kebutuhan mendasar mereka, mulai dari pembagian peralatan kerja ergonomis seperti kursi, celemek, pinset presisi, dan pisau khusus, hingga pembenahan tata visual kawasan seperti penomoran rumah, papan penanda, dan gapura identitas Kampung Cabut Duri.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menegaskan komitmen pihaknya dalam mendampingi masyarakat kawasan pesisir ini. “Pertamina senantiasa berkomitmen untuk hadir di tengah masyarakat melalui program-program yang berdampak langsung seperti dukungan terhadap masyarakat KUCARI ini,” kata Ahad Rahedi.

Ahad menuturkan, pihak Pertamina melihat inisiatif warga Kampung Cabut Duri di Kalanganyar bukan hanya sebagai gerakan ekonomi kreatif semata, tetapi sebagai bentuk nyata semangat kemandirian dan kepedulian terhadap pembangunan desa yang berkelanjutan. Menurutnya, semangat gotong royong yang tumbuh dari masyarakat apabila didukung dengan baik dapat menjadi kekuatan besar dalam memperkuat ketahanan ekonomi lokal.

“Melalui sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, dan dunia usaha, kami percaya Kalanganyar bisa menjadi contoh inspiratif bagi desa-desa lainnya di wilayah Jatimbalinus,” ujar Ahad.

Ekonomi Sirkular Melalui Program ‘Kang Iling’

Program pembenahan lingkungan ini mengkristal melalui inisiatif bernama Kang Iling (Kalanganyar Circular Living Initiative). Mengusung konsep ekonomi sirkular, program ini mengajak masyarakat mengubah sudut pandang terhadap limbah.

Duri ikan yang dahulunya dianggap sampah berbau menyengat, kini diolah menjadi pupuk organik cair (POC) dan pakan bernilai jual. Tak hanya itu, limbah rumah tangga seperti minyak goreng bekas (jelantah) turut dikumpulkan agar tidak mencemari tanah dan perairan setempat.

Guna mengatasi persoalan utama berupa limbah cair cuci ikan, dibangun fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal. “Ada tujuh titik saluran masuk di wilayah RT 017 yang terhubung langsung ke sistem pengolahan terpusat ini,” terang Achmad.

Fasilitas IPAL Komunal di Kampung Cabut Duri ini memiliki kapasitas mengolah hingga 226 kiloliter limbah cucian ikan bandeng per tahun. Air bekas pencucian ikan diolah secara terpadu hingga aman dari kuman dan bau, lalu dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan non-konsumsi, seperti menyiram tanaman hidroponik dan vegetasi kampung.

Menghasilkan Puluhan Produk UMKM dari Satu Ekor Bandeng

Dari tangan-tangan kreatif warga Kalanganyar, olahan bandeng berkembang pesat menjadi puluhan produk bernilai tinggi. Mulai dari kerupuk gurih, dendeng, abon lezat, hingga terasi. Tercatat ada 45 jenis produk UKM yang aktif di wilayah tersebut, hasil dari semangat kolektif warga.

“Ini merupakan inisiatif warga Kampung Cabut Duri untuk meningkatkan perekonomian dan ketahanan pangan desa melalui pengelolaan potensi lokal, khususnya ikan bandeng,” jelas Ahmad.

Produk olahan warga ini telah menerima banyak pesanan, baik dari wilayah Sidoarjo maupun luar pulau. Besar harapan warga agar brand KUCARI makin dikenal sehingga kian banyak pembeli yang berburu produk-produk unggulan mereka.

Mengguyubkan Kampung dan Merangkul Gen Z

Di balik capaian fisik dan hadirnya deretan inovasi lingkungan, merawat semangat kebersamaan masyarakat tetap menjadi perjuangan yang tak kunjung usai. Mengubah kebiasaan lama dan menyatukan puluhan kepala dalam satu visi pembenahan membutuhkan kesabaran ekstra. Konsistensi warga untuk bergotong royong menjaga kebersihan saluran serta merawat fasilitas IPAL komunal menjadi ujian nyata agar keterikatan sosial tidak luntur di tengah kesibukan harian.

Tantangan yang tak kalah krusial adalah menjembatani estafet keberlanjutan ini kepada generasi muda setempat. “Para Gen Z di Kalanganyar yang tumbuh di era serba digital kerap memiliki pandangan berbeda terhadap pekerjaan di sektor pengolahan perikanan tradisional,” ungkap Ahmad.

Menanamkan kebanggaan bahwa tradisi cabut duri dan pengelolaan UMKM lokal adalah potensi ekonomi modern bukan lagi aktivitas kumuhmenjadi pekerjaan rumah besar agar anak muda mau terlibat aktif.

Melalui pendekatan adaptif, warga bersama Pertamina terus berupaya merangkul generasi muda untuk mengambil peran strategis, seperti mengelola pemasaran digital, branding produk UMKM, hingga memanfaatkan media sosial untuk mengenalkan Kampung Cabut Duri ke pasar global. Menghubungkan ketelitian jemari para ibu dengan kreativitas digital Gen Z kini menjadi kunci utama agar rantai ekonomi dan asa perubahan di Kalanganyar tak terputus di tengah jalan.

Wajah Baru Kampung Pesisir Kalanganyar

Kini, wajah Kampung Cabut Duri perlahan berganti pesona. Bau amis menyengat yang dulu mendominasi kini berganti dengan pemandangan asri vertical garden, deretan bunga, serta instalasi hidroponik tanaman kangkung dan pakcoy. Hasil panen sayuran kerap dibagi-bagikan antartetangga, mempererat tali silaturahmi warga.

Kendati penataan fisik dan teknologi IPAL telah berdiri, proses perubahan perilaku tetap menjadi komitmen berkelanjutan. Achmad mengakui, konsistensi warga dalam menjaga kebersihan saat penjemuran ikan dan perawatan fasilitas IPAL menjadi kunci keberhasilan jangka panjang.

Sementara itu, bagi Bu Saadah dan perempuan-perempuan tangguh di Kalanganyar, transformasi ini bukan sekadar perbaikan kawasan. Di atas tanah yang kini bersih dan tak lagi dijauhi, mereka dapat terus mencabut ribuan duri bandeng demi masa depan keluarga tanpa harus mengorbankan lingkungan tempat mereka berpijak.(kar)