HeadlineInvestasiKeuanganPembiayaan

Wagub Emil Dardak: Peluang Investasi Jatim Tak Lagi Terkonsentrasi di Surabaya

×

Wagub Emil Dardak: Peluang Investasi Jatim Tak Lagi Terkonsentrasi di Surabaya

Sebarkan artikel ini

Surabaya, BisnisJatim.Id — Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendorong perubahan pola investasi dari yang selama ini cenderung terkonsentrasi di kawasan metropolitan menjadi lebih tersebar ke berbagai wilayah. Penguatan konektivitas, kawasan industri, pelabuhan, bandara, hingga pengembangan potensi ekonomi lokal menjadi kunci untuk membuka kantong-kantong investasi baru di luar kawasan Surabaya dan sekitarnya.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan peluang investasi di Jawa Timur pada dasarnya tersebar di hampir seluruh wilayah. Karena itu, strategi menarik investor tidak dapat hanya bertumpu pada kawasan Gerbangkertosusila, tetapi harus disesuaikan dengan karakter dan keunggulan masing-masing kawasan.

“Dengan melihat peta ini kita jadi mengetahui bahwa memang potensi Jawa Timur tersebar di seluruh penjuru. Jadi tidak crowded. Opportunity-nya tersebar di seluruh penjuru Jawa Timur,” ujar Emil saat memaparkan peluang investasi di Jatim dalam ajang East Java Investment Forum (EJIF) 2026 di Grand City Convention Surabaya, Jumat (2/10).

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi modal penting bagi Jawa Timur untuk membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru sekaligus mengurangi konsentrasi aktivitas ekonomi di satu kawasan.

Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak (Tengah) bersama Adhy Karyono, Sekda Pemprov Jatim, Ibrahim, Kepala Kantor Perwakilan BI Jatim dan Horas Tarihoran, Interim Head of OJK Jatim saat pembukaan acara East Java Investment Forum (EJIF) 2026 di Grand City Convention Surabaya. Foto RIS

Gerbangkertosusila Tetap Jadi Motor Utama

Emil membagi pengembangan ekonomi Jawa Timur ke dalam sejumlah kawasan berdasarkan karakter dan potensi ekonominya.

Salah satu yang menjadi pusat utama adalah kawasan Gerbangkertosusila, yang meliputi Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan.

Kawasan tersebut menyumbang sekitar 46-47 persen perekonomian Jawa Timur, atau hampir separuh dari total aktivitas ekonomi provinsi.

“Di sinilah heavy industry, capital intensive industry tempatnya,” kata Emil.

Karena itu, penguatan infrastruktur menjadi prioritas di kawasan tersebut. Salah satunya pembangunan jalan lingkar yang berfungsi mengurangi beban lalu lintas perkotaan dan memperlancar konektivitas antarkawasan industri.

Menurut Emil, keberadaan kawasan industri juga memberikan keuntungan bagi investor karena konsepnya relatif plug and play. Lahan industri telah tersedia dan peruntukannya sudah jelas sehingga proses investasi dapat dilakukan lebih cepat.

Jawa Timur saat ini memiliki 13 kawasan industri dengan total luas sekitar 4.649 hektare, termasuk kawasan industri halal di Sidoarjo.

“Kalau ingin cepat, kawasan yang tadi,” ujarnya.

Bromo-Tengger-Semeru: Pariwisata hingga Ekonomi Digital

Di luar kawasan metropolitan, peluang investasi diarahkan berdasarkan karakter wilayah.

Kawasan Lingkar Bromo-Tengger-Semeru, yang mencakup Malang, Lumajang, Pasuruan, Probolinggo dan Batu, memiliki keunggulan pada potensi alam dan pariwisata.

Menurut Emil, karakter tersebut membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata, termasuk ekonomi digital.

Salah satu infrastruktur strategisnya adalah KEK Singhasari di Malang yang diarahkan untuk pengembangan ekonomi digital, kreatif dan pariwisata.

Pengembangan sumber daya manusia juga mulai diarahkan untuk mendukung sektor tersebut. Menurut Emil, kerja sama pendidikan dengan institusi internasional akan memperkuat pasokan SDM terampil yang dibutuhkan industri digital.

“Ini terletak di sini. Dan hari ini Ibu Gubernur bersama dengan King’s College London meluncurkan dua program Master of Science di bidang Advanced Software Engineering dan juga Cybersecurity,” katanya.

Dengan demikian, investasi di kawasan Malang Raya dan sekitarnya tidak hanya diarahkan pada sektor pariwisata, tetapi juga industri digital dan ekonomi kreatif berbasis talenta.

Lingkar Wilis Lebih Cocok untuk Agroindustri

Sementara itu, kawasan Lingkar Wilis yang meliputi Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Pacitan, Ponorogo, Magetan, Madiun, dan Nganjuk memiliki karakter yang berbeda.

Emil mengatakan kawasan tersebut tidak seluruhnya cocok untuk pengembangan industri besar seperti yang terdapat di kawasan metropolitan. Karena itu, pendekatan investasi perlu disesuaikan dengan karakter wilayah.

“Di kawasan Lingkar Wilis ini adalah kawasan yang kalau konsepnya adalah pabrik industri besar kurang begitu sesuai sebenarnya,” jelasnya.

Pengembangan diarahkan pada sektor agroforestry dan agroindustri, dengan tetap membuka peluang industri padat karya terutama di sepanjang koridor yang memiliki akses jalan tol.

Kehadiran Bandara Kediri dan pembangunan konektivitas tol Kediri-Kertosono menjadi bagian dari infrastruktur yang diharapkan membuka akses kawasan tersebut terhadap pasar yang lebih luas.

Emil menilai konektivitas menjadi faktor penting agar potensi ekonomi wilayah yang sebelumnya relatif jauh dari pusat pertumbuhan dapat masuk ke dalam rantai pasok regional.

Kawasan Ijen dan Madura Jadi Simpul Baru

Potensi investasi juga dikembangkan di kawasan Ijen, yang meliputi Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi.

Kawasan tersebut memiliki peluang yang berkaitan dengan pertanian, perkebunan, pariwisata, serta perdagangan dan logistik.

Konektivitas kawasan Ijen juga semakin penting dengan keberadaan berbagai infrastruktur transportasi, termasuk bandara dan pelabuhan.

Sementara itu, kawasan Madura memiliki hubungan ekonomi yang erat dengan Gerbangkertosusila maupun kawasan Ijen.

Emil menilai pelabuhan penyeberangan Jangkar di Situbondo dapat menjadi salah satu simpul konektivitas yang menghubungkan wilayah Jawa Timur dengan kepulauan Madura sekaligus membuka akses logistik ke wilayah lain.

Dengan pola tersebut, pengembangan investasi tidak lagi menggunakan pendekatan satu pusat, tetapi membangun jaringan beberapa pusat pertumbuhan yang saling terkoneksi. bj3/ris