IndeksUmumUncategorized

Strategi Komunikasi Jadi Kunci OPDis Sidoarjo Dorong Pemenuhan Akayan (AYL)

×

Strategi Komunikasi Jadi Kunci OPDis Sidoarjo Dorong Pemenuhan Akayan (AYL)

Sebarkan artikel ini

BISNISJATIM.ID – Penguatan strategi komunikasi dinilai menjadi kunci utama bagi Organisasi Penyandang Disabilitas (OPDis) dalam mendorong terpenuhinya Akomodasi yang Layak (AYL). Isu krusial ini mengemuka dalam acara Komunitas Belajar Komunikasi (KBK) Seri 2 yang berlangsung di Hotel Aston Sidoarjo, Sabtu (23/5).

Kegiatan yang mengusung tema “Dari Isu ke Strategi: Menyusun Arah Komunikasi OPDis yang Lebih Terarah” ini diselenggarakan oleh Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI)—kemitraan pendidikan antara Pemerintah Indonesia dan Australia. INOVASI bersinergi dengan UPT Balai Pelatihan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan Digital (BLSDM Komdigi) Surabaya serta Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA).

Acara ini mempertemukan 40 peserta dari berbagai OPDis di Sidoarjo, pemerintah daerah, akademisi, hingga media untuk memperkuat kapasitas komunikasi sebagai alat advokasi perubahan.

Tantangan Informasi dan Pendidikan Inklusif
Kepala BLSDM Komdigi Surabaya, Bagus Winarko, menekankan bahwa tantangan yang dihadapi kelompok disabilitas tidak hanya terbatas pada akses fisik, melainkan juga akses informasi dan ruang untuk didengar.

“Banyak organisasi disabilitas memiliki semangat advokasi yang kuat, namun masih menghadapi kendala dalam menyusun strategi komunikasi yang terarah dan menjangkau audiens yang tepat,” ujar Bagus.

Sejalan dengan hal itu, Wakil Direktur INOVASI Bidang Ekosistem Pendidikan dan Manajemen Sub Nasional, Handoko Widagdo, menegaskan bahwa pemenuhan AYL merupakan prasyarat mutlak dalam mewujudkan pendidikan inklusif. Menurutnya, OPDis harus memperkuat komunikasi agar isu AYL dipahami publik dan direspons cepat oleh pengambil kebijakan.

Hak Setara: Setiap anak harus mendapatkan kesempatan belajar yang setara.

Bentuk Dukungan: Mulai dari alat bantu, penyesuaian metode pembelajaran, hingga lingkungan sekolah yang aksesibel.

Menjembatani Isu Lapangan Menuju Kebijakan
Diskusi dan kerja kelompok dalam KBK Seri 2 ini dipandu oleh Kepala Program Studi PGSD UMSIDA, Kemil Wachidah. Ia menilai strategi komunikasi berfungsi sebagai jembatan penting untuk menerjemahkan pengalaman nyata di lapangan menjadi pesan terstruktur yang mudah dipahami pemangku kepentingan.

Dalam sesi gelar wicara (talkshow), para pakar dan praktisi membagikan perspektif penting:

Fokus pada Isu Prioritas: Aktivis disabilitas, Sunarman Sukamto, mengingatkan agar OPDis fokus pada isu yang paling berdampak. “Kita harus memilih isu yang paling berdampak, lalu menyampaikannya dengan cara yang menyentuh logika sekaligus empati,” jelasnya.

Kejelasan Target Audiens: Jurnalis Cheta Nilawaty menyoroti aspek media. Strategi yang jelas mengenai siapa audiensnya, apa pesannya, dan bagaimana cara menyampaikannya akan menentukan keberhasilan advokasi dalam memengaruhi kebijakan.

Kebutuhan Nyata Komunitas: Ameilia Rizkyka Handayani dari Gerakan untuk Kesejahteraan Tuli Indonesia (GERKATIN) Sidoarjo mencontohkan pentingnya pemenuhan AYL yang konkret, seperti penyediaan Juru Bahasa Isyarat (JBI) di layanan publik.

Refleksi Berbasis Data dan Rencana Aksi
Sebagai penguat diskusi, tim INOVASI memaparkan hasil analisis media monitoring periode Januari–Juni 2026. Data tersebut menunjukkan bahwa OPDis memang masih perlu memperkuat kapasitas dalam merancang serta mengimplementasikan strategi komunikasi yang efektif dan efisien demi menjawab tantangan pemenuhan AYL di Sidoarjo.

Melalui KBK Seri 2 ini, setiap OPDis yang hadir tidak hanya berdiskusi, tetapi juga didorong untuk menghasilkan draf strategi komunikasi organisasi. Draf ini akan menjadi panduan taktis advokasi ke depan, memastikan suara penyandang disabilitas tidak sekadar terdengar, tetapi mampu mengetuk kebijakan dan melahirkan perubahan nyata. (PNH)