Surabaya, BisnisJatim.Id – Sebagai bentuk kepedulian terhadap pemenuhan gizi dan kesehatan anak, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) kembali mengadakan kegiatan JAPFA for Kids tahun 2026. Kegiatan sosial ini akan diadakan di 93 SDN dengan melibatkan 16 ribu siswa yang tersebar di beberapa Kabupaten/ Kota di Indonesia.
Retno Artsanti, Head of Social Investment JAPFA, mengatakan, masalah malanutrisi anak menjadi persoalan bersama. Sebab itu, JAPFA tidak bisa berjalan sendiri. JAPFA melakukannya dengan bekerjasama dengan semua stakeholder.
Tujuan kegiatan JAPFA for Kids adalah menurunkan malanutrisi serta membiasakan hidup sehat dan bersih. Sasaran utamanya ada;aj siswa Sekolah Dasar Negeri. Namun tidak menutup kemungkinan SD lain juga bisa dilibatkan.
“Dalam JAPFA for Kids, kami menerapkan share contribution. Kami bukan donatur yang datang memberikan bantuan. Kami bekerjasama dengan semua stakeholder, dengan sekolah, dengan orang tua, dengan puskesmas dengan dinas Kesehatan, dinas Pendidikan juga dengan media,” ujar Retno, Selasa (19/5).

Karena itu, semua kegiatan ini terukur, ada timeline dan ada endline-nya. Sebab persoalan malagizi anak adalah masalah bersama yang harus diselesaikan bersama-sama pula. Ini persoalan yang menyangkut nasib generasi bangsa kedepan.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Mari bergandengan tangan bersama. Kebetulan kami mengambil peran di tingkat SD. Semoga hal ini menjadi inspirasi bagi yang lain untuk mengambil peran juga,” ungkap dia.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11% anak usia 5–12 tahun masih berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).
Sementara itu, data yang dihimpun JAPFA di tujuh lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids pada tahun 2024 menunjukkan sekitar 10,1% siswa masih mengalami kondisi gizi kurang dan gizi buruk. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa isu malagizi masih menjadi tantangan nyata yang memerlukan pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan.
Hingga tahun 2025, JAPFA for Kids telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia. Program ini juga menunjukkan dampak nyata terhadap peningkatan status gizi siswa.
Pada tahun 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi gizi baik atau sebesar 51,5%. Sementara pada tahun 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa berhasil mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik atau sebesar 62,5%.
“Tahun ini ada 93 Sekolah dan 16 ribu siswa. Kami berharap hasilnya akan lebih baik lagi. Tapi endline baru akan terlihat pada Desember nanti,” ungkap dia.
Kegiatan Japfa for Kids 2026 diadakan di beberapa Kabupaten / Kota diantaranya adalah Padang Pariaman, Bintan, Lampung Selatan, Bogor, Tegal, Karanganyar, Lamongan dan Maluku Utara.
JAPFA for Kids menjalankan berbagai strategi terintegrasi, mulai dari pemberian asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, pemantauan rutin berat dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital, hingga pembiasaan perilaku hidup sehat melalui program Hari Sehat JAPFA.
“Program ini juga dilengkapi dengan edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta monitoring berkala guna memastikan dampak program dapat terukur secara konsisten,” ujar Retno.
Sementara itu, Prof. Sandra Fikawati, Pusat Kajian Gizidan Kesehatan (PKGK) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, menilai edukasi publik mengenai pemenuhan gizi seimbang masih perlu terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk media.
Saat ini banyak anak mengonsumsi makanan yang dominan karbohidrat, seperti nasi, mi, atau makanan murah tinggi kalori, tetapi rendah protein berkualitas. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya ekonomi, harga sumber protein hewani yang dianggap mahal, kurangnya edukasi gizi dan distribusi pangan bergizi yang belum merata.
“Di beberapa daerah, konsumsi protein hewani anak masih jauh di bawah kebutuhan harian. Padahal masa balita dan usia dini merupakan periode penting pembentukan jaringan tubuh dan perkembangan otak,” kata Prof. Sandra.
Dikatakan, Indonesia memiliki sumber protein hewani yang cukup beragam seperti ikan laut, telur, ayam, dan susu. Namun tantangan utamanya adalah akses, daya beli, serta kebiasaan konsumsi masyarakat. Kebanyakan anak mengkonsumsi protein nabati dan masih kurang menkonsumsi protein hewani.
“Peningkatan kualitas gizi anak memerlukan keterlibatan banyak pihak. Media memiliki peran strategis dalam menyampaikan edukasi yang benar dan mudah dipahami masyarakat, terutama mengenai pentingnya konsumsi protein hewani, pola makan seimbang, serta pembiasaan perilaku hidup sehat sejak usia dini,” tutup Prof. Sandra Fikawati.






