HeadlineIndustriPerdagangan

Sekar Laut Bidik Pasar Baru Imbas Tekanan Geopolitik Timur Tengah

×

Sekar Laut Bidik Pasar Baru Imbas Tekanan Geopolitik Timur Tengah

Sebarkan artikel ini

Surabaya, BisnisJatim.Id — Produsen makanan olahan PT Sekar Laut Tbk (SKLT) mulai mengalihkan fokus ekspor ke kawasan Asia dan Afrika menyusul terganggunya pasar Timur Tengah akibat konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Sekretaris Perusahaan Jimmy Herlambang mengatakan, tekanan geopolitik berdampak pada distribusi produk perseroan di awal 2026. Meski kontribusi ekspor ke Timur Tengah tidak dominan, gangguan tersebut tetap menekan volume pengiriman.

Perseroan kini aktif menjajaki pasar baru di sejumlah negara Asia seperti China dan Taiwan, serta memperluas penetrasi ke kawasan Afrika. Upaya ini dilakukan melalui partisipasi dalam pameran dagang internasional dan penjajakan langsung dengan calon pembeli.

“Kami mencari pasar yang relatif tidak terdampak konflik, sehingga ekspor tetap bisa tumbuh tahun ini. Penurunan pasar di Timur Tengah juga bisa tertutupi,” ujar Jimmy saat paparan publik, Selasa (28/4).

Ia menambahkan, kontribusi ekspor selama ini mencapai sekitar 15 persen dari total pendapatan perusahaan. Dengan diversifikasi pasar, perseroan berharap kinerja ekspor tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

Di pasar domestik, Sekar Laut terus memperkuat jaringan distribusi agar produk menjangkau lebih luas wilayah Indonesia. Perseroan juga berencana meningkatkan kapasitas produksi, khususnya untuk produk kerupuk dan sambal yang permintaannya terus meningkat. Selain itu, peremajaan mesin dilakukan guna mendorong efisiensi operasional.

Dengan berbagai strategi tersebut, perusahaan menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 10 persen dan laba bersih naik hingga 20 persen pada 2026.

Kinerja tahun buku 2025 sendiri tercatat positif. Pendapatan perseroan tumbuh 16 persen secara tahunan menjadi Rp2,65 triliun, sementara laba bersih meningkat 6 persen. Pertumbuhan ini ditopang oleh ekspansi distribusi dan inovasi produk.

Namun, perusahaan tetap menghadapi tantangan berupa fluktuasi harga bahan baku dan keterbatasan pasokan yang berdampak pada peningkatan biaya produksi. Untuk menjaga margin, penyesuaian harga jual pun dilakukan.

Sementara itu, Direktur John C. Gozal menyampaikan bahwa total aset perusahaan meningkat 18 persen pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan aset lancar sebesar 10 persen dan aset tetap yang melonjak 28 persen.

Dari sisi liabilitas, total kewajiban naik menjadi Rp816 miliar dari Rp607 miliar pada 2024, seiring peningkatan kewajiban jangka panjang hingga 77 persen untuk mendukung ekspansi investasi.

“Kami akan terus mengandalkan inovasi produk serta perluasan pasar sebagai strategi utama menjaga pertumbuhan,” ujar John. bj1