Bisnisjatim.id, Surabaya – Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan yang baru diluncurkan pemerintah disambut hangat oleh pelaku usaha properti di Jawa Timur. Skema pembiayaan ini dinilai membawa angin segar bagi pengembang kecil dan menengah yang selama ini menghadapi kendala akses perbankan.
Ketua DPD Realestat Indonesia (REI) Jawa Timur, Mochamad Ilyas, mengungkapkan antusiasme yang tinggi dari anggotanya.
“Program ini sangat ditunggu. Satu perusahaan bisa mendapatkan plafon hingga Rp5 miliar dan bisa bersifat revolving. Dari 600 anggota REI Jatim, sudah ada lebih dari 170 pengembang yang menyatakan minat, dengan estimasi kebutuhan mencapai Rp187 miliar,” ujar Ilyas di sela Sosialisasi KUR Program Perumahan, Rabu (15/10/2025).
Menurut Ilyas, selama ini banyak pengembang skala kecil memilih meminjam ke Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dengan bunga yang lebih tinggi karena proses kredit di bank umum terlalu panjang dan rumit. Melalui KUR Perumahan, akses pembiayaan menjadi lebih terbuka, didukung pula dengan subsidi bunga hingga 5 persen dari pemerintah.
“Biasanya bunga pinjaman ke bank bisa 11 persen. Dengan subsidi ini, pengembang cukup membayar sekitar 6 persen saja. Ini tentu sangat membantu,” katanya.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, menuturkan bahwa Program KUR Perumahan ini adalah yang pertama kali diluncurkan dalam sejarah dengan total nilai Rp130 triliun secara nasional. Dana ini secara spesifik ditujukan untuk mendorong ekosistem industri perumahan, mencakup kontraktor, pengembang, hingga toko bangunan yang masuk kategori UMKM dengan modal maksimal Rp10 miliar dan omzet hingga Rp50 miliar.
Secara nasional, sekitar 15 persen atau Rp18 triliun dari total dana KUR tersebut diharapkan dapat terserap di Jawa Timur. “Dengan jumlah penduduk terbesar kedua di Indonesia dan anggota REI yang aktif, potensi serapan KUR di Jatim sangat besar,” kata Ara, sapaan akrab Menteri Maruarar Sirait.
Ara meyakini program ini mampu menggerakkan ekonomi secara luas. Ia menyebut, satu proyek pembangunan rumah subsidi berpotensi menyerap setidaknya lima tenaga kerja langsung. Dengan kuota pembangunan sekitar 300 ribu unit rumah subsidi tahun ini—terbesar sepanjang sejarah—program ini berpotensi menciptakan lebih dari 1,6 juta lapangan kerja.
“Belum termasuk aktivitas ekonomi lain yang ikut bergerak. Ada ibu-ibu yang buka warung di sekitar proyek, ada sopir truk pengangkut material, hingga industri semen, keramik, dan cat yang ikut terdongkrak,” paparnya.
Selain dukungan bunga KUR yang rendah, Maruarar juga menyoroti kebijakan pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto yang dinilai sangat prorakyat, yakni pemberian pembebasan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) untuk rumah subsidi.
“BPHTB gratis, PBG gratis, dan bunga KUR yang ringan. Ini benar-benar kebijakan yang berpihak pada masyarakat dan pelaku usaha kecil,” tegasnya.
Dengan dukungan regulasi dan kemudahan akses permodalan melalui KUR Perumahan, REI Jatim optimistis sektor properti dan industri pendukungnya akan kembali tumbuh pesat. “Kami siap mengeksekusi secara masif di Jawa Timur. Ini momentum besar untuk menggerakkan ekonomi dari sektor perumahan,” tutup Mochamad Ilyas.(den)







