
Bisnisjatim.id, Surabaya – Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Jawa Timur, Sutandi Purnomosidi, menegaskan bahwa tidak ada istilah seperti “rombongan jarang beli (rojali)”, “rombongan hanya nanya (rohana)”, atau “rombongan benar-benar beli (robeli)” di mal atau pusat perbelanjaan di Jawa Timur.
Sutandi menjelaskan bahwa fenomena pengunjung yang sekadar berjalan-jalan atau window shopping di pusat perbelanjaan sudah ada sejak dulu. Ia menyebut pengunjung semacam itu sebagai “potential buyer”.
“Saya katakan bukan rohana atau rojali. Sebenarnya dari dulu orang jalan-jalan ke mal atau window shopping itu banyak. Tetapi kalau rohana dan rojali, itu KTP-nya di Jakarta saja. Yang penting di Surabaya, kita terus berupaya orang mau datang ke mal untuk mau spending ya, atau jalan-jalan juga tidak apa-apa, no problem,” ujar Sutandi.
Ia justru menyambut baik kehadiran pengunjung yang hanya berjalan-jalan. “Kami justru sangat welcome orang jalan-jalan ke mal, kenapa? Dari jalan-jalan mereka lihat (produk), mereka yang awalnya tidak mau belanja, lihat baju baru, lihat diskon, beli. Mereka ini justru potential buyer. Justru saya khawatir kalau mal sepi tidak ada yang jalan-jalan nanti malah roh halus yang jalan-jalan,” tambahnya.
Sutandi menegaskan bahwa sudah sewajarnya masyarakat menghabiskan waktunya, terutama saat akhir pekan, untuk berjalan-jalan ke mal, baik hanya untuk melihat-lihat tanpa membeli. Justru, menjadi tugas peritel untuk membuat promosi semenarik mungkin agar pengunjung mau membeli produknya.
“Bagaimana ritel untuk memancing mereka untuk beli. Kalau kita sudah datangkan rojali, rohana ke mal, justru itu potensi besar untuk membeli. Ritel harus kreatif melihat event-event-nya,” tegas Direktur Marketing Pakuwon Group ini.
Sutandi mengakui bahwa saat ini daya beli masyarakat memang menurun, sebuah tren yang sudah terasa sejak setahun belakangan. “Memang terasa daya beli menurun terutama di Surabaya saya merasakannya. Contohnya penjualan saat Lebaran tahun ini tidak lebih baik dari tahun lalu, tapi ingat ada inflasi, sehingga jika penjualan sama, maka volumenya turun, termasuk saat liburan sekolah kemarin,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa penurunan tingkat kunjungan dan pengeluaran di mal saat ini adalah siklus yang wajar karena anak-anak sudah masuk sekolah. “Dalam siklus ritel, saat ini trennya menurun karena anak-anak sudah masuk sekolah. Itu hal yang wajar saat ini tingkat kunjungan ke mal turun dan spending turun. Jangan dianggap berlebihan dan pesimis, ini siklus. Upaya setiap mal sangat perlu untuk menarik pengunjung datang,” tambahnya.
Meski demikian, Sutandi mengatakan bahwa di mal-mal yang berada di naungan Pakuwon Group, tingkat kunjungan masih terjaga, termasuk pembelian, meskipun angkanya tidak signifikan.
Menurutnya, Semester II Tahun 2025 akan menjadi periode yang cukup berat bagi pengusaha mal. Sebab, satu-satunya momentum besar untuk mendongkrak penjualan berada di akhir tahun.
“Memang semester kedua sulit, karena tidak ada momentum untuk mengangkat penjualan karena sudah diborong saat semester I. Kita menunggu momentum Desember, jadi ketika Oktober, November kami prediksi mulai meningkat. Tapi kita tidak bisa diam juga, di bulan Agustus dan September, kita bikin event semisal belanja Rp 500 Ribu dapat gift, jadi setiap mal tentunya mempunyai kreativitas sendiri untuk meningkatkan daya ungkit pembelian,” jelasnya.
“Secara traffic di mal yang berada dalam naungan Pakuwon itu naik, meski kenaikan pengunjung tidak sampai double digit secara persentase. Secara kunjungan masih oke, daya belinya dan penjualan di toko aman meski pertumbuhannya hanya single digit di tengah tingginya inflasi. Daya beli yang menurun memang terasa, dulu orang beli brand mahal, sekarang sudah tidak memandang brand asal enak dipakai, nyaman, harga affordable itu dipilih,” tandasnya.(kar)







