Jakarta, BisnisJatim.Id – Awal tahun 2025 diperkirakan menjadi titik terendah bagi pasar hotel di Jakarta, terutama karena lambatnya awal aktivitas bisnis dan bulan Ramadhan yang jatuh pada bulan Maret.
“Hal ini menjadikan bulan Maret sebagai salah satu bulan dengan kinerja terendah sepanjang tahun 2025,” kata Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, Senin (28/4).
Selain itu, dampak dari langkah-langkah efisiensi pemerintah cukup terasa, terutama bagi hotel yang sangat bergantung pada pasar pemerintah.
Jika tidak ada pelonggaran dari pemerintah, hampir dapat dipastikan bahwa pasar hotel di Jakarta akan bergantung sepenuhnya pada sektor non-pemerintah.
“Para pengelola hotel harus menemukan pasar dan sumber pendapatan tambahan untuk tetap bertahan; jika tidak, tahun 2025 akan cukup berat bagi mereka,” imbuhnya.

Sementara di Bali, meskipun sebagian besar pasar hotel melayani wisatawan rekreasi, sektor MICE tetap sangat dipengaruhi oleh aktivitas pemerintah. Langkah-langkah efisiensi pemerintah memiliki dampak yang signifikan, dan bulan Ramadhan juga mempengaruhi wisatawan domestik.
Kinerja hotel di Bali diperkirakan membaik mulai dari liburan Idul Fitri, dengan peningkatan aktivitas wisatawan domestik. Selain itu, musim liburan pada bulan Juni di beberapa benua diharapkan dapat meningkatkan kedatangan wisatawan asing.
Para pengelola hotel di Bali menghadapi tantangan yang cukup besar. Penurunan pasar domestic berdampak signifikan pada beberapa hotel, sehingga memerlukan perubahan fokus pasar mereka.
Kondisi ekonomi global, yang menyebabkan kecemasan dan mempengaruhi daya beli, juga harus dipertimbangkan. Prinsip "Jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang" sangat penting bagi pelaku bisnis hotel.
“Diversifikasi pasar dengan komposisi yang seimbang dapat membantu meminimalkan kerugian. Berkolaborasi dengan agen perjalanan, maskapai penerbangan, dan sektor bisnis lainnya untuk memperluas pasar dapat menjadi solusi yang layak,” ungkapnya. BJ1







