HeadlineIndeksIndustri

Menjaga Kilau Daun Emas, Rahasia Tembakau Berkualitas Ekspor

×

Menjaga Kilau Daun Emas, Rahasia Tembakau Berkualitas Ekspor

Sebarkan artikel ini

Bisnisjatim.id, Jember – Budidaya tembakau masih menjadi salah satu sektor strategis dalam industri perkebunan Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Namun, keberhasilan dalam budidaya tembakau sangat ditentukan oleh rangkaian proses yang panjang dan teknis, mulai dari pemilihan bibit, perawatan agronomis, pengendalian hama penyakit, hingga penanganan pascapanen.

Hal ini diungkapkan oleh Okta Prima Indahsari, Plt Peneliti Tembakau dari PTPN 1 Regional 4. Menurut Okta, bibit berkualitas adalah kunci utama keberhasilan budidaya tembakau yang punya nilai ekonomis tinggi. Bibit sehat, kuat, seragam, dan memiliki viabilitas lebih dari 80 persen merupakan standar minimal sesuai SNI 01-7161:2006. “Pemilihan benih unggul yang tersertifikasi dengan daya kecambah minimal 90 persen serta kadar air 8–10 persen sangat penting,” jelasnya.

Seleksi bibit dilakukan dua kali. Pertama pada umur 10–12 hari untuk menyingkirkan benih yang tidak tumbuh atau sakit. Seleksi kedua pada umur 22–25 hari dilakukan berdasarkan keseragaman dan kesehatan tanaman yang dikelompokkan dalam tiga klasifikasi mutu: A (sangat baik), B (baik), dan C (kurang baik). Proses hardening dilakukan dengan membuka atap bedengan pada umur 25 hari agar batang tanaman menjadi keras dan tegak.

Untuk varietas sendiri, setiap wilayah di Indonesia memiliki varietas tembakau andalan dengan ciri khas berbeda-beda. “Kebutuhan industri kretek, rokok putih, hingga cerutu menentukan varietas yang dibudidayakan,” terang Okta.
Misalnya, tembakau Prancak dari Madura, Srintil Kemloko dari Temanggung, dan Selopuro dari Blitar sangat digemari industri kretek. Untuk rokok putih, varietas Virginia dari Lombok dan Bojonegoro serta White Burley dari Lumajang dan Jember menjadi pilihan utama. Sedangkan untuk cerutu, varietas unggulan seperti Besuki, Vorstenlanden dan Deli memiliki nilai ekonomi tinggi.

“Tembakau bawah naungan (TBN) varietas H382 dari Kebun Tembakau PTPN I di Jember bahkan menjadi produk ekspor semi final yang sangat diminati pasar luar negeri,” tambahnya.

Kendati demikian, pengelolaan persemaian merupakan tahap kritis dalam siklus budidaya. Tantangan utama mencakup pemilihan media tanam yang sesuai, pengendalian hama dan penyakit, serta kondisi lingkungan seperti cahaya matahari, kelembaban, dan ketersediaan air. Selain itu, keberadaan tanaman inang di sekitar area persemaian dapat menjadi sumber vektor penyakit.

Di lapangan, keberhasilan pertumbuhan juga sangat dipengaruhi oleh faktor agronomis seperti kualitas tanah, pengolahan dan aerasi tanah, pH, serta sistem drainase. Pemupukan dan pengendalian hama menjadi dua pilar penting yang saling terkait.

Pemupukan tidak hanya berperan dalam pertumbuhan tanaman, tapi juga menentukan kualitas daun. Nitrogen berlebihan bisa meningkatkan kadar nikotin, namun justru menurunkan aroma. Di sisi lain, pupuk organik dan kalium berkontribusi positif terhadap pembentukan aroma. “Fosfat netral, namun nitrogen yang berlebih bisa kontraproduktif terhadap aroma,” ujar Okta.

Kendati demikian, perlu diingat tembakau rentan diserang oleh berbagai hama seperti ulat grayak, ulat pupus, ulat tanah, thrips, dan kutu kebul. Penyakit pun datang dari berbagai jamur (rebah semai, lanas, patik), bakteri (layu bakteri, batang berlubang), hingga virus (TMV, CMV, TLCV). Strategi pengendalian harus bersifat terpadu yakni teknis, mekanis, dan kimiawi.

Penggunaan pestisida nabati menjadi salah satu solusi untuk menghindari residu bahan kimia. Produk organik menjamin keamanan tembakau dan bebas dari zat berbahaya.

Sebagai bentuk inovasi berkelanjutan, PTPN I tengah mengembangkan pestisida hayati dari asap cair batang tembakau. Hasil awal menunjukkan potensi besar dalam menekan penyakit layu, begomovirus, serta serangan ulat tanah. Asap cair juga meningkatkan pH tanah secara alami. Namun, riset lanjutan dengan skala lebih luas masih diperlukan untuk pemanfaatan komersial.

Keterangan  Foto : Okta Prima Indahsari , Plt Peneliti Tembakau PTPN 1 Regional 4

Waktu panen yang tepat menjadi faktor penting dalam menentukan mutu tembakau. Untuk tembakau cerutu, panen ideal pada umur 40–42 hari, sedangkan untuk rokok, antara 90–100 hari. Visual daun dan kadar klorofil juga menjadi indikator pemanenan. Waktu petik terbaik adalah pagi hari untuk cerutu dan pagi atau sore untuk tembakau rokok.

Pasca panen, proses curing atau pengeringan sangat menentukan warna, tekstur, dan kadar kimia daun. Tembakau cerutu melalui lima tahap curing, sedangkan tembakau rokok tiga tahap. “Fermentasi dan penyimpanan juga tak kalah penting untuk menjaga aroma dan kualitas,” kata Okta.

Penyimpanan yang buruk bisa memicu kerusakan karena jamur dan serangan hama gudang seperti Lasioderma serricorne, yang dapat melubangi tumpukan daun dari atas hingga ke bawah.

Faktor terpenting dalam budidaya tembakau adalah penerapan teknologi mekanisasi yang kini diadopsi dalam banyak tahapan, mulai dari olah tanah, panen, hingga penyimpanan. “Ini sangat membantu mengatasi kelangkaan tenaga kerja dan meningkatkan efisiensi,” jelas Okta.

Inovasi lain yang kini dikembangkan meliputi sistem tumpangsari, penggunaan vermikompos, serta pengolahan limbah batang menjadi biochar dan asap cair. Seluruh strategi ini diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomis tembakau sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Dengan kombinasi antara ilmu agronomi, teknologi pertanian, dan pendekatan ramah lingkungan, industri tembakau Indonesia diharapkan mampu beradaptasi dengan tuntutan pasar modern yang semakin tinggi. “Petani perlu terus didampingi agar inovasi yang ada bisa diimplementasikan secara optimal di lapangan. Sehingga nantinya dapat menghasilkan produk berkualitas yang mempunyai nilai ekonomis tinggi,” pungkas Okta.(kar)