Bisnisjatim.id, Surabaya – Sebanyak 10.000 ikan Grass Carp ditebar di Sungai Jagir Surabaya. Pelepasan ikan ini diharapkan menjadi solusi alami yang ramah lingkungan dan berkelanjutan terhadap masalah eceng gondok di sungai yang membelah kota Pahlawan tersebut.
Selama ini, enceng gondok di sungai Jagir pertumbuhannya sangat. Sehingga menghambat aliran air dan menurunkan kualitas air, bahkan memicu sedimentasi. Sungai Jagir atau dikenal juga sebagai Sungai Wonokromo, memiliki peran vital dalam pengendalian banjir sekaligus pemenuhan kebutuhan air baku Kota Surabaya.
Namun, sungai ini menghadapi tekanan berat akibat pencemaran sampah domestik dan pertumbuhan eceng gondok yang sulit dikendalikan. Kehadiran ikan Grass Carp untuk menjaga kualitas air tanpa merusak ekosistem. Jenis ikan pemakan tumbuhan ini memiliki peran alami dalam mengendalikan pertumbuhan eceng gondok yang kerap menutupi aliran sungai.
Penebaran 10.000 ikan Grass Carp di Sungai Jagir ini digelar PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) bersama Perum Jasa Tirta I (PJT I) dan Tunas Hijau Indonesia dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional. Kegiatan ini melibatkan ratusan pelajar, masyarakat, serta perwakilan berbagai instansi.
Presiden Tunas Hijau Indonesia, Mochamad Zamroni, menegaskan pentingnya menjadikan Sungai Jagir sebagai ruang edukasi bagi pelajar. “Sungai ini bagian penting dari kehidupan warga Surabaya. Kami ingin menjadikannya laboratorium terbuka bagi pelajar untuk belajar tentang ekologi, sampah, dan konservasi. Dengan begitu, kesadaran menjaga sungai bukan hanya wacana, tapi menjadi budaya,” paparnya, Senin (18/8/2025).
Sementara itu, Kepala Departemen TJSL dan Keberlanjutan PT SIER, Puspita Ernawati, menegaskan pentingnya pelibatan generasi muda dalam gerakan konservasi. “Kegiatan ini bukan hanya soal aksi nyata yang manfaatnya bisa langsung dirasakan, tetapi juga investasi jangka panjang. Dengan melibatkan pelajar, kita menanamkan nilai konservasi sejak dini,” ujarnya.
Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan PT SIER, Jefri Ikhwan Maarif, menekankan pentingnya kolaborasi dalam menjaga lingkungan. “Sungai adalah sumber kehidupan, tetapi juga sangat rentan terhadap kerusakan akibat ulah manusia. Kami berharap aksi ini tidak berhenti pada acara seremonial, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari,” tegasnya.
Menurut Jefri, peringatan Hari Konservasi Alam Nasional harus dimaknai sebagai momentum untuk mengingatkan pentingnya menjaga ekosistem darat maupun perairan. “Apa yang dilakukan di Sungai Jagir ini adalah wujud nyata. Edukasi pelajar, penebaran ikan, pengolahan sampah, hingga bersih-bersih bantaran sungai menunjukkan komitmen bersama untuk menjaga kelestarian alam,” tambahnya.(luk)







