Surabaya, BisnisJatim.Id — Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk tidak berhenti pada pola kemitraan, tetapi meningkatkan bisnisnya menjadi waralaba yang memiliki keunggulan dan karakteristik kuat.
Anang mengatakan, Jawa Timur memiliki banyak usaha lokal yang berpotensi dikembangkan menjadi merek waralaba dan diperluas ke seluruh Indonesia sebelum menargetkan pasar ekspor.
“Banyak pengusaha-pengusaha lokal dari Jawa Timur yang punya usaha unggulan yang bisa di waralabakan,” ujar Anang saat pembukaan Info Franchise & Business Concept Expo (IFBC) 2026 di Grand City Convention, Jumat (11/9).
IFBC 2026 dihelat mulai tanggal 11-13 September. Ada ratusan brand lokal, nasional dan global yang dipamerkan mulai usaha kuliner, Pendidikan, Kesehatan, supermarket dan lainya. Pelaku usaha siap melakukan Kerjasama dalam bentuk waralaba.
Menurutnya, sejumlah bisnis kuliner lokal seperti Rawon Nguling, Soto Ambengan, Bu Rudy hingga berbagai produk makanan khas daerah memiliki potensi untuk dikembangkan dengan sistem waralaba, sepanjang memenuhi karakteristik dan memiliki keunggulan yang jelas.
Anang menegaskan, waralaba bukan sekadar pemberian label atau stempel, melainkan konsep pemasaran dan strategi perluasan usaha yang harus ditopang keunggulan produk serta sistem bisnis yang kuat.
“Waralaba itu adalah konsep pemasaran dan strategi perluasan,” katanya.

Ia juga mengingatkan UMKM agar tidak asal mengembangkan bisnis menjadi waralaba. Pelaku usaha perlu menemukan keunggulan yang menjadi pembeda, baik dari produk, resep, layanan maupun konsep bisnis.
Anang menilai Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang sangat besar dari berbagai daerah, mulai dari Aceh, Sumatra, Jawa, Bali, Sulawesi hingga Manado. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi modal bagi lahirnya lebih banyak merek waralaba lokal.
Ia berharap pengusaha muda dapat mengembangkan bisnis sesuai minat dan kemampuan masing-masing, kemudian membangun usaha tersebut secara konsisten hingga memiliki nilai jual dan daya saing.
“Bawa ke seluruh Nusantara Indonesia dulu, baru kita ekspor,” ungkap Anang.
Jahja B Soekandar, Advisor AFI dan Wakil Ketua Bidang Perdagangan Apindo Pusat, menambahkan, pihaknya mendorong pelaku usaha waralaba di Indonesia untuk tidak hanya menjadi pasar bagi merek asing, tetapi juga mampu membawa merek lokal menembus pasar internasional.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan bisnis waralaba, terutama dengan semakin banyaknya merek lokal yang memiliki konsep bisnis dan produk yang kompetitif.
“AFI sebagai organisasi waralaba pertama di Indonesia yang berdiri pada 1991 memiliki komitmen untuk terus mendorong pertumbuhan industri waralaba nasional,” ujarnya.

Ia menjelaskan, AFI juga terlibat dalam jaringan waralaba internasional melalui keanggotaannya di Asia-Pacific Franchise Confederation dan World Franchise Council. Hal itu menjadi peluang bagi pelaku waralaba Indonesia untuk memperluas jejaring dan membuka akses ke pasar global.
Jahja menilai tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana merek-merek waralaba Indonesia dapat mengikuti jejak merek asing yang telah sukses masuk dan berkembang di pasar nasional.
“Kiat jangan hanya jadi market saja. Kapan waralaba Indonesia berjaya di luar negeri,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, Iwan. S. Hut.M.M mengatakan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menargetkan wilayahnya menjadi hub waralaba nasional yang berorientasi ekspor.
Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong UMKM naik kelas sekaligus memperluas akses pasar produk dan merek lokal ke rantai pasok global.
Sektor UMKM dan waralaba memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan ekonomi daerah. Terlebih, sektor konsumsi domestik dan UMKM menjadi penopang perekonomian di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Jawa Timur siap menjadi hub franchise nasional dengan orientasi ekspor dan program UMKM Go Export serta jejaring internasional kita yang menjadi pijakan kita memasuki rantai pasok global,” ujar dia.
Menurutnya, sejumlah subsektor UMKM di Jawa Timur memiliki prospek besar untuk dikembangkan melalui model waralaba. Di antaranya makanan dan minuman, ritel, pendidikan nonformal, kesehatan, serta jasa laundry.
Pengembangan model waralaba dinilai dapat menjadi salah satu strategi mempercepat ekspansi usaha karena memungkinkan pelaku bisnis memperluas pasar dengan pembagian risiko dan dukungan sistem usaha yang lebih terstruktur.
“Pemprov Jatim menyiapkan sejumlah agenda untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan. Salah satunya melalui peningkatan skala usaha dengan mendorong UMKM memanfaatkan skema kemitraan maupun waralaba,” pungkasnya. bj3/fir






