Bisnisjatim.id, Banyuwangi – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama The Partnership for Plastics in Indonesian Society (PISCES), Alner, dan Gerakan Banyuwangi Hijau mengembangkan ekosistem produk guna ulang atau refill sebagai upaya mengurangi sampah kemasan sekali pakai.
Melalui sistem tersebut, masyarakat dapat membeli berbagai kebutuhan sehari-hari dengan mengisi ulang produk menggunakan wadah yang dapat dipakai berulang kali. Dengan demikian, penggunaan kemasan sekali pakai diharapkan dapat ditekan sejak dari sumbernya.
Inisiatif tersebut dikenalkan dalam acara Banyuwangi ASRI yang dibuka Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono di Pendopo Sabha Swagata, Minggu (6/9/2026).
Melalui layanan refill, masyarakat dapat membeli berbagai kebutuhan, seperti sabun, deterjen, beras, minyak goreng, hingga produk kebutuhan sehari-hari lainnya dengan membawa wadah sendiri atau menggunakan wadah yang disediakan Alner.
Director PISCES Prof. Susan Jobling dari Brunel University, Inggris, mengatakan program refill menjadi bagian dari pengembangan ekosistem pengelolaan sampah secara sirkular di Banyuwangi.
Menurut dia, ekosistem tersebut sebelumnya telah dikembangkan melalui Gerakan Banyuwangi Hijau dan Project STOP. Program tersebut mencakup pembangunan tempat pengolahan sampah berbasis 3R (TPS3R), dukungan armada dan tenaga pengangkutan, penguatan kelembagaan, pembiayaan, hingga pengembangan sistem pengumpulan sampah.
“Perubahan perilaku masyarakat membutuhkan waktu dan dukungan lintas sektor. Peneliti, sektor swasta, dan pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Semua pihak harus bekerja bersama,” kata Susan.
PISCES mendukung Alner sebagai pelaksana utama pilot komersial fasilitas refill, baik dari sisi akademik maupun finansial. Sejak 2023, PISCES juga menginisiasi Living Lab di Banyuwangi sebagai ruang kolaborasi antara peneliti, pemerintah, sektor swasta, masyarakat, dan para inovator dalam mengembangkan solusi pengelolaan sampah plastik.
CEO Alner Bintang Ekananda mengatakan, layanan refill saat ini telah bermitra dengan 20 toko yang tersebar di Kecamatan Kalipuro, Giri, Glagah, dan Banyuwangi.
Ke depan, jaringan layanan tersebut akan terus diperluas dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, seperti PKK, Dharma Wanita, hingga warung-warung yang dapat berperan sebagai reseller melalui sistem konsinyasi.
Dalam mekanismenya, konsumen dapat menggunakan wadah milik sendiri atau memanfaatkan wadah yang disediakan Alner. Wadah tersebut dapat dikembalikan setelah digunakan untuk kemudian dikumpulkan, dicuci, dan dikirim kembali kepada produsen untuk diisi ulang.
“Dengan mekanisme ini, kemasan dapat digunakan kembali sehingga sampah kemasan sekali pakai dapat ditekan sejak dari sumbernya,” ujar Bintang.
Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono mengapresiasi kolaborasi lintas sektor tersebut. Menurutnya, pengembangan sistem refill memberikan alternatif bagi masyarakat untuk secara bertahap mengurangi penggunaan produk dengan kemasan sekali pakai.
“Setiap kemasan yang tidak menjadi sampah berarti mengurangi beban rumah tangga, petugas, kendaraan, fasilitas pengolahan, hingga tempat pemrosesan akhir,” kata Mujiono.
Melalui kolaborasi tersebut, Banyuwangi diharapkan dapat terus memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju pola konsumsi yang lebih ramah lingkungan.(yon)






