ekbisIndeks

PT BMI Perluas Jangkauan Pasar Amerika dan Eropa Melalui Penguatan Rantai Pasok Hulu-Hilir

×

PT BMI Perluas Jangkauan Pasar Amerika dan Eropa Melalui Penguatan Rantai Pasok Hulu-Hilir

Sebarkan artikel ini

Bisnisjatim.id, Surabaya –

PT Bumi Menara Internusa (BMI) menyatakan kesiapannya untuk melipatgandakan kapasitas produksi ekspor olahan hasil laut hingga 100 persen. Komitmen tersebut disampaikan pihak manajemen menyambut kunjungan kerja Wakil Menteri Perindustrian RI, Faisol Riza, di pabrik BMI Kawasan Pergudangan Jalan Margomulyo, Surabaya, Kamis (27/8).

Direktur PT BMI, Aris Utama, menjelaskan bahwa saat ini tujuh pabrik BMI di seluruh Indonesia mengoperasikan kapasitas produksi sebanyak 35 ribu ton per tahun yang diserap 100 persen oleh pasar internasional. Volume tersebut dihasilkan dari skema kerja satu shift dengan mengaryakan sekitar 15 ribu tenaga kerja.

“Kapasitas 35 ribu ton saat ini baru dijalankan dalam satu shift. Dengan dukungan kebijakan pemerintah yang pro-ekspor, kami sangat optimistis dapat meningkatkan volume produksi hingga 100 persen,” ujar Aris kepada Media.

Dalam peninjauannya ke lini produksi, Faisol Riza menyampaikan apresiasinya terhadap standar kelayakan operasional dan efisiensi manufaktur yang diterapkan oleh PT BMI.

“Kami sudah meninjau dan melihat secara langsung proses pengolahannya dan saya mengapresiasi BMI yang sudah melakukan pengolahan sesuai standar internasional. Dan tentu saja upaya BMI ini sudah membantu pemerintah meningkatkan lapangan kerja dan devisa negara dari ekspor,” ungkap Faisol Riza.

Meski demikian, Wamenperin menekankan pentingnya penguatan integrasi rantai pasok dari sektor hulu agar daya saing ekspor Indonesia dapat melampaui negara pesaing seperti Ekuador dan India.

“Tantangan kita harus bisa buat inline bahan baku dari hulu hingga ke proses pengolahan. Saat ini, kita masih kalah dari negara produsen udang, terutama budidaya udang. Kami minta, secara bersama-sama, memperbaiki teknis di hulu untuk bahan baku yang melimpah agar bisa diproses dengan cepat,” tegas Faisol.

Untuk menopang target peningkatan kapasitas tersebut, PT BMI menerapkan strategi pengamanan pasokan bahan baku secara luas dari hulu ke hilir. BMI menyerap hasil tangkapan nelayan dari berbagai wilayah Nusantara, mulai dari Papua, Medan, hingga Makassar.

Di sektor budidaya, BMI bermitra langsung dengan petambak udang di Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi dengan rata-rata pembelian mencapai 150 ton udang per hari. Perusahaan juga memberdayakan sentra nelayan rajungan di wilayah seperti Cirebon guna memelihara standar mutu dan menggerakkan ekonomi lokal.

Selain pasokan domestik, BMI mengolah komoditas imbal-dagang internasional seperti ikan dari Alaska untuk diproses menjadi produk siap saji (ready-to-eat) sesuai spesifikasi pasar global. Seluruh lini produksi telah mengantongi sertifikasi keberlanjutan, sistem keterlacakan (traceability), serta menerapkan teknologi cold chain dan pengemasan hemat energi.

Saat ini, portofolio ekspor PT BMI didominasi komoditas udang sebesar 70 persen, diikuti olahan gurita, ikan, dan rajungan. Pasar Amerika Serikat menjadi tujuan utama dengan porsi serapan mencapai 80 persen, disusul oleh Jepang, Uni Eropa, dan Tiongkok.

Langkah efisiensi dan penerapan inovasi teknologi pada rantai pendingin yang dijalankan BMI dinilai menjadi salah satu pilar utama penopang daya saing perusahaan di pasar global. Kemenperin berharap komitmen efisiensi energi serta kepatuhan standar lingkungan yang ditunjukkan perseroan mampu menginspirasi pelaku industri sejenis untuk terus meningkatkan nilai tambah produk perikanan dalam negeri.

Pemerintah juga berjanji bakal terus mendukung penguatan ekosistem pengolahan hasil laut nasional dari sektor hulu agar kelancaran bahan baku dapat diakses lebih efisien oleh industri ekspor.

Sinergi antara kebijakan pemerintah yang pro-ekspor dan kesiapan ekspansi PT BMI diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam memenangkan kompetisi pasar perikanan dunia melawan negara produsen utama lainnya.

Selain fokus pada penambahan volume produksi, PT BMI juga terus memperkuat jaringan kemitraan bersama puluhan ribu petambak lokal di daerah. Pembinaan teknis secara berkala diberikan agar metode budidaya yang diterapkan memenuhi ekspektasi pasar global yang makin ketat terhadap kriteria eco-label dan rantai pasok ramah lingkungan.

Optimisme penguatan pasar ekspor ini turut ditopang oleh iklim hubungan industrial yang kondusif di lingkungan internal pabrik. Kehadiran ruang dialog antara manajemen, pekerja, dan kementerian menjadi pondasi penting bagi BMI dalam menjaga stabilitas operasional serta produktivitas seluruh unit manufakturnya di Indonesia.(kar)