Surabaya, BisnisJatim.Id – Meskipun bertahap, pasar perkantoran di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya terus menunjukkan pemulihan, terutama ditopang oleh aktivitas relokasi perusahaan dan peningkatan kualitas ruang kantor yang ditempati. Pemulihan pasar masih selektif dan lebih banyak didorong oleh penyesuaian kebutuhan ruang dibandingkan ekspansi bisnis yang masif.
Ferry Salanto, Kepala Riset Colliers Indonesia, menyampaikan, “Semakin selektifnya penyewa dalam mengambil keputusan, pemulihan pasar perkantoran Jakarta juga didorong oleh kebutuhan kualitas, bukan semata-mata oleh harga. Gedung-gedung yang berpotensi pulih lebih cepat adalah gedung yang menawarkan struktur sewa yang fleksibel, ruang siap pakai, kemudahan akses transportasi publik, serta kredensial keberlanjutan.”
Pasar masih menghadapi tantangan dengan tingkat kekosongan yang besar. Sekitar 3 juta meter persegi ruang perkantoran yang belum terserap di Jakarta, hampir 60% dari jumlah tersebut dikontribusi oleh kawasan CBD.

Ketersediaan ruang dalam jumlah besar tersebut menyebabkan kondisi pasar masih berpihak kepada penyewa. Akibatnya mendorong pemilik gedung untuk menawarkan struktur sewa yang lebih fleksibel, periode bebas sewa, dukungan fit-out, serta berbagai insentif komersial lainnya.
Meskipun tingkat kekosongan masih tinggi, Colliers mencatat rerata okupansi perkantoran di CBD mengalami pertumbuhan dan tercatat sekitar 76% per kuartal kedua tahun 2026. Gedung premium tetap menunjukkan kinerja yang lebih unggul, dengan okupansi sekitar 83%, mencerminkan kuatnya permintaan terhadap gedung perkantoran berkualitas tinggi. Sementara itu, perlahan rerata tingkat hunian mulai mendekati 70% untuk wilayah diluar CBD.
Tren ini menunjukkan adanya pergeseran dalam prioritas penyewa. Di luar harga dan fleksibilitas sewa, penyewa kini semakin mempertimbangkan faktor kesiapan ruang kerja, aksesibilitas transportasi dan standar ESG. Gedung-gedung yang mampu mempercepat proses relokasi dan mendukung keberlangsungan bisnis memiliki posisi yang lebih baik dalam menarik permintaan.
Sisi pasok juga mendukung stabilisasi kondisi pasar perkantoran di Jakarta. Dengan tidak adanya gedung baru yang selesai dibangun total pasokan perkantoran di kawasan CBD tetap berada di kisaran 7,4 juta meter persegi di Q2 2026.
”Terbatasnya pasokan baru di CBD dalam beberapa tahun ke depan diharapkan dapat memberikan kesempatan yang lebih besar bagi pasar untuk menyerap ruang kosong yang tersedia,” ungkap dia.
Permintaan ruang perkantoran di Jakarta diperkirakan terus meningkat hingga akhir 2026, terutama didukung oleh permintaan dari sektor logistik, energi, fintech, baik perusahaan lokal dan asing.
Namun, kondisi pasar yang masih menguntungkan penyewa, pemulihan ke depan perlu menghadirkan fleksibilitas, aksesibilitas, keberlanjutan, dan efisiensi total biaya okupansi untuk lebih banyak menarik minat penyewa. bj5/ril






