IndeksUmumUncategorized

FGD Yagitu Ungkap Tantangan Pola Hidup Sehat di Jatim, Perilaku Konsumsi Jadi Sorotan

×

FGD Yagitu Ungkap Tantangan Pola Hidup Sehat di Jatim, Perilaku Konsumsi Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini

BISNISJATIM.ID – Yayasan Generasi Inovatif dan Tunas Unggul (Yagitu) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Pola Hidup Sehat dan Perilaku Konsumsi Masyarakat Jawa Timur di Surabaya, Selasa (30/6/2026). Kegiatan ini merupakan tindak lanjut hasil riset yang melibatkan 437 responden di Jawa Timur sekaligus menjadi forum penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis data dengan melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, hingga organisasi masyarakat.

Sekretaris Yagitu, Nuryadi, mengatakan penelitian tersebut dilatarbelakangi keprihatinan terhadap kondisi kesehatan generasi muda di tengah perubahan gaya hidup dan pola kerja yang semakin dinamis. Menurutnya, kesehatan merupakan fondasi utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

“Anak muda adalah sumber daya pembangunan. Kita berbicara Generasi Emas 2045 tidak akan bisa terwujud tanpa kondisi anak muda yang sehat. Karena semuanya berawal dari kesehatan, baru kecerdasan dan aspek lainnya bisa mengikuti,” ujarnya saat memaparkan hasil riset.

Berdasarkan hasil penelitian, masyarakat Jawa Timur pada dasarnya telah memahami pentingnya menerapkan pola hidup sehat. Namun, masih terdapat kesenjangan antara pengetahuan dengan implementasi dalam kehidupan sehari-hari.

“Gap terbesar ada pada niat dan eksekusi. Mereka tahu pentingnya hidup sehat, tetapi terkendala konsistensi, keterbatasan waktu, biaya, serta lingkungan sosial yang belum mendukung,” kata Nuryadi.

Penelitian tersebut juga memotret perubahan pola konsumsi masyarakat yang dipengaruhi budaya nongkrong dan tren work from cafe. Sebanyak 56 persen responden mengaku lebih sering mengonsumsi makanan dan minuman olahan di kafe, kedai maupun warung, dengan teh dan kopi menjadi minuman yang paling banyak dikonsumsi.

Menurut Nuryadi, fenomena tersebut memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain berpotensi meningkatkan konsumsi gula masyarakat.

“Fenomena ini sebenarnya baik dari sisi ekonomi karena mendorong tumbuhnya usaha. Namun, di sisi lain kita juga melihat tempat-tempat tersebut menjadi lokasi konsumsi gula yang cukup tinggi. Tantangannya bagaimana ekonomi tetap tumbuh, tetapi masyarakat juga tetap sehat,” jelasnya.

Hasil riset juga menunjukkan sebanyak 41,2 persen responden mengonsumsi makanan dan minuman manis karena menyukai rasanya, 23,1 persen menjadikannya sebagai penambah energi, sementara 14,9 persen dipengaruhi faktor budaya dan kebiasaan.

Dalam penelitian tersebut, masyarakat juga menyampaikan harapan kepada pemerintah agar memperkuat edukasi dan kampanye hidup sehat (33 persen), memperbanyak fasilitas olahraga publik (20,8 persen), serta mempermudah akses terhadap pangan sehat.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, yang membuka FGD menegaskan pentingnya penyusunan kebijakan kesehatan yang tidak hanya bersifat teknokratis, tetapi juga mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan melalui kolaborasi lintas sektor.

“Kita ingin riset ini bukan menjadi produk yang hanya disusun secara teknokratik, tetapi juga memperhatikan realitas di lapangan. Karena itu kita libatkan pelaku usaha, komunitas, akademisi, hingga masyarakat agar kebijakan yang lahir benar-benar implementatif,” katanya.

Emil menilai tantangan terbesar saat ini adalah menemukan titik keseimbangan antara menjaga pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

“Kita harus mencari titik temu antara pertumbuhan ekonomi melalui dunia usaha dengan perlindungan kesehatan masyarakat. Tidak ada solusi yang bisa sekadar disalin dari negara lain karena kita juga harus memperhatikan kearifan lokal,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa setelah pandemi Covid-19, ancaman penyakit tidak menular akibat gaya hidup menjadi tantangan utama.

“Persoalannya bukan hanya apa yang dikonsumsi, tetapi juga gaya hidup. Sedentary lifestyle, kurang bergerak, hingga kebiasaan menggunakan gawai menjadi faktor yang ikut meningkatkan risiko penyakit tidak menular,” jelas Emil.

Koordinator Litbang Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Jawa Timur, Wiwik Winarsih, mengapresiasi penelitian Yagitu karena mampu menggambarkan kesenjangan antara pemahaman masyarakat dengan praktik hidup sehat.

“Saya yakin hasil penelitian ini bisa menjadi bahan edukasi bagi masyarakat sehingga mereka tahu di titik mana harus mulai memperbaiki pola hidupnya,” ujarnya.

Wiwik mengungkapkan prevalensi obesitas, diabetes, hipertensi hingga penyakit ginjal kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda. Menurutnya, Indonesia saat ini menghadapi beban ganda berupa stunting, obesitas, hingga kekurangan zat gizi mikro yang membutuhkan penanganan bersama.

Ia juga mengingatkan bahwa pemerintah telah menerapkan pedoman gizi seimbang sebagai pengganti konsep empat sehat lima sempurna. Namun, tantangan terbesar tetap terletak pada perubahan kebiasaan konsumsi masyarakat, terutama tingginya konsumsi makanan dan minuman berpemanis.

Sementara itu, akademisi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Irfan, menilai edukasi kesehatan perlu diarahkan pada perubahan perilaku yang sederhana dan mudah diterapkan masyarakat.

“Masyarakat sebenarnya sudah tahu gula berlebihan itu tidak baik. Yang mereka butuhkan adalah panduan praktis, misalnya memilih minuman less sugar, mengganti satu minuman manis setiap hari dengan air putih, atau membiasakan membaca label kandungan gula,” katanya.

Ia juga mendorong agar intervensi kesehatan tidak hanya dilakukan di fasilitas kesehatan, tetapi juga menyasar ruang konsumsi masyarakat seperti kafe, warung, minimarket, kantin hingga tempat kerja.

“Warung, kedai, minimarket dan kafe adalah ruang strategis untuk membangun perilaku hidup sehat. Misalnya menyediakan pilihan menu rendah gula sebagai menu utama atau memberikan insentif bagi pelaku usaha yang menyediakan produk lebih sehat,” ujarnya.

Melalui FGD tersebut, Yagitu berharap hasil penelitian tidak berhenti sebagai kajian akademis semata, melainkan menjadi dasar penyusunan rekomendasi kebijakan yang mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju gaya hidup sehat sekaligus tetap mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. (TSV)