Oleh: Okta Prima Indahsari, Peneliti PTPN I Regional 5
Bisnisjatim.id, Jember – Kita sering menyebut Indonesia sebagai negara agraris. Tapi di tengah kebanggaan itu, ada satu fakta yang jarang benar-benar kita renungkan: kita punya lahan luas, tapi belum tentu punya strategi jangka panjang untuk menjaganya. Data menunjukkan, luas lahan yang dikelola BUMN Perkebunan di bawah holding PTPN mencapai sekitar 917.495,2 hektar berdasarkan Annual Report tahun 2024. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah potensi raksasa.
Namun pertanyaannya sederhana: dari hampir satu juta hektar itu, berapa persen yang benar-benar dialokasikan untuk konservasi dan pengembangan ilmu pengetahuan? Di sinilah konsep kebun koleksi menjadi penting.
Jika kita bicara global, praktik ini bukan hal baru. Lembaga riset tropis di Costa Rica, CATIE, tercatat menyimpan lebih dari 2.000 aksesi kopi dari berbagai negara. Ini bukan sekadar koleksi, tetapi fondasi riset global untuk menghadapi perubahan iklim dan serangan penyakit tanaman.
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan contoh. Kebun Raya Bogor, misalnya, telah berdiri sejak 1817 dan kini mengoleksi lebih dari 15.000 jenis tumbuhan. Ia bukan hanya ruang hijau, tetapi pusat konservasi dan penelitian yang diakui dunia.
Di sektor perkebunan, kita juga punya Kebun Teh Kayu Aro di Jambi yang dikenal sebagai salah satu kebun teh terluas di dunia dengan luas mencapai sekitar 2.500 hektar. Namun, fungsi utamanya masih berfokus pada produksi, belum sepenuhnya dioptimalkan sebagai pusat konservasi terintegrasi.
Padahal, jika kita melihat tren global, ancaman terhadap sektor pertanian semakin nyata. Data FAO menunjukkan bahwa sekitar 75% keanekaragaman genetik tanaman telah hilang sejak awal abad ke-20 akibat praktik pertanian modern yang homogen. Ini adalah alarm serius. Artinya, tanpa upaya konservasi seperti kebun koleksi, kita berisiko kehilangan “cadangan genetik” yang sangat penting untuk masa depan.
Bayangkan jika hanya 1–2% saja dari total lahan BUMN dialokasikan untuk kebun koleksi. Itu berarti sekitar 9.000 hingga 18.000 hektar—luas yang sangat cukup untuk membangun pusat konservasi berskala nasional, bahkan global.
Manfaatnya tidak main-main:
• Konservasi genetik: melindungi varietas langka dari kepunahan
• Riset dan inovasi: mendukung pengembangan varietas tahan iklim ekstrem
• Ketahanan pangan: menyediakan cadangan jika terjadi krisis tanaman
• Edukasi: menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa dan petani
• Nilai ekonomi baru: membuka potensi wisata edukasi dan kolaborasi internasional
Namun, realitas di lapangan tidak sesederhana itu. Biaya pemeliharaan kebun koleksi bisa mencapai puluhan juta rupiah per hektar per tahun, tergantung jenis tanaman dan kompleksitas pengelolaan. Selain itu, kebutuhan tenaga ahli seperti botanis, agronom, hingga peneliti bioteknologi masih terbatas.
Belum lagi tekanan bisnis. Dalam banyak kasus, lahan lebih diprioritaskan untuk komoditas yang menghasilkan keuntungan cepat seperti sawit atau karet. Konservasi sering dianggap sebagai “biaya”, bukan investasi. Padahal, jika melihat nilai jangka panjangnya, kebun koleksi justru adalah bentuk investasi paling strategis. Ini bukan hanya soal hari ini, tapi soal 20 hingga 100 tahun ke depan.
Kita sedang hidup di era di mana perubahan iklim bisa mengubah pola tanam, suhu ekstrem bisa merusak produksi, dan penyakit tanaman bisa menyebar lintas negara dalam waktu singkat. Dalam situasi seperti ini, negara yang memiliki cadangan genetik adalah negara yang lebih siap bertahan.
Dan Indonesia, dengan segala kekayaannya, seharusnya berada di garis depan. Mungkin sudah saatnya kita berhenti melihat lahan hanya sebagai alat produksi. Sudah saatnya kita naik kelas dari pengelola menjadi penjaga. Karena pada akhirnya, data tidak pernah berbohong. Yang menentukan hanyalah bagaimana kita meresponsnya.(kar)







