Malang, BisnisJatim.Id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus melakukan edukasi meningkatkan literasi keuangan terutama pada generasi muda. Meskipun diakui kondisinya sangat menantang karena berbagai faktor.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi mengatakan, dengan kondisi geografis wilayah yang luas dan jaringan internet yang berbeda-beda, tantangan itu cukup berasa.
“Kendati begitu, kami tidak patah semangat untuk mengedukasi dalam upaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat secara luas,” kata Friderica, Kamis (8/5).

Dijelaskan, hingga saat indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 66,46 persen atau naik dari tahun sebelumnya sebesar 65 persen.
Namun begitu dia mengakui, disbanding dengan negara-negara Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), literasi keuangan di Indonesia masih lebih tinggi. Sebab di negara-negara OECD masih 61 persen.
Sebab itu, dia terus meningkatkan edukasi pada masyarakat terutama pada anak-anak muda agar literasi keuanganya meningkat. Sebab kedepan, sebagai penyokong Pembangunan, generasi muda harus memahami sistem keuangan dan memiliki kecerdasan keuangan.
“Ada empat segmen sasaran peningkatan literasi keuangan, yakni segmen perempuan, anak-anak muda, perdesaan, dan segmen petani atau peternak,” tuturnya.
Kepala Badan Supervisi OJK, Sidharta Utama menambahkan, di era digital saat ini, manusia dimudahkan dalam berbagai aktivitas. Hanya dengan telepon genggam (handphone), semua aktivitas dan kebutuhan bisa terpenuhi.
Namun, teknologi yang memudahkan ini juga menjadikan manusia (masyarakat) berperilaku konsumtif, sehingga mendorong untuk meminjam uang yang ditawarkan secara digital, seperti Paylater.
“Karena itu, dengan literasi keuangan, khususnya keuangan digital, paling tidak bisa mencegah diri sendiri melakukan aktivitas keuangan yang bisa merugikan, seperti judi online atau pinjaman online ilegal,” ungkap Sidharta. BJ3/Ant







